Polisi Akhirnya Limpahkan Tersangka Korupsi Yohanes Olin Kepada JPU

berbagi di:
img-20191009-wa0031

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kabupaten Timor Tengah Utara Noven Bulan tampak mengintrogasi tersangka Yohanes Arnoldus Olin (kemeja putih). Foto: Gusty Amsikan/VN

 

 

Gusty Amsikan

Polres Timor Tengah Utara akhirnya melakukan pelimpahan tahap dua terhadap salah satu tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan embung Nimasi, Yohanes Arnoldus Olin. Pelimpahan tersangka yang bersangkutan sebelumnya sempat tertunda karena teknis waktu pelimpahannya. Polres TTU akan terus konsisten dalam penegakan hukum kasus korupsi dan melakukan penanganan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Dengan demikian, kepastian, keadilan, dan kemanfaatan hukum sebagai tujuan dari penegakan hukum dapat tercapai.

Demikian disampaikan Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto kepada VN, Rabu (9/10) di ruang kerjanya, usai dilakukan pelimpahan tersangka ke JPU Kejaksaan Negeri Kabupaten TTU.

Budhiaswanto mengatakan setelah ada koordinasi antara pihaknya dengan Kejari TTU, akhirnya tersangka Yohanes Arnoldus Olin dilimpahkan tahap dua. Tertundanya pelimpahan tahap dua terhadap yang bersangkutan terjadi hanya karena masalah teknis waktu pelimpahan. Kedua instansi penegak hukum tersebut masih menyesuaikan waktu dengan agenda kerja masing-masing kantor. Hal tersebutlah yang menyebabkan pelimpahan tahap dua tersangka Yohanes Olin baru dapat terlaksana.

Menurut Budhiaswanto, pihaknya sejak awal konsisten dalam penegakan hukum kasus korupsi. Pihaknya pun tidak main-main dalam penanganan tindak pidana korupsi karena sifatnya adalah extra ordinary crime. Dirinya selaku pimpinan selalu menegaskan kepada para penyidik agar segera menindaklanjuti kasus korupsi yang diadukan masyarakaat. Meskipun kasus korupsi termasuk extra ordinary crime, pihaknya tetap memperhatikan azas-azas hukum dalam penanganannya.

Dalam penanganan kasus dugaan korupsi pembangunan embung Nimasi, pihaknya menemukan kondisi pekerjaan yang diduga tidak sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan hasil keterangan ahli diduga tersebut tidak sesuai spek dan volume. Dengan demikian, yang harus dikenai tindakan penegakan hukum adalah pelaku yang paling dekat dengan perkara yang terjadi tersebut. Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk adanyanya tersangka lain. Pihaknya tetap menangani sesuai dengan prosedur dan konsep hukum yang berlaku.

“Apakah mungkin akan ada tersangka lain? Pasti dan dimungkinkan akan ada. Apabila itu terbukti ya kita akan tindaklanjuti, siapapun itu. Yang jelas kita kembali pada bagaimana prosedur dan konsep hukum yang berlaku. Tidak bisa semau kita,”jelasnya.

Ia menegaskan wacana yang beredar bahwa ada pihak-pihak yang tidak tersentuh dalam kasus tersebut sama sekali tidak benar. Semua pihak yang terkait dengan pembangunan embung Nimasi telah dipanggil dan dimintai keterangan. Untuk menentukan tersangka, pihaknya harus memunculkan alat bukti yang kuat sesuai dengan peran mereka. Siapaun yang terlibat sesuai dengan perannya dan sudah bisa dibuktikan maka akan dijadikan tersangka. Hal tersebut jelas membutuhkan waktu dan proses.

Ketika ditanyai terkait mengapa hanya pengawas di tingkat lapangan saja yang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut, sementara koordinator pengawas, Petrus Kenjam, tidak, Budhiaswanto mengatakan setiap menangani sebuah perkara pihaknya harus menentukan apa perbuatan melawan hukumnya dan bagaimana mainstrea dan aktustreanya. Pihaknya tidak bisa berasumsi karena hal itu harus sesuai dengan fakta hukum. Dengan demikian, kepastian, keadilan, dan kemanfaatan hukum sebagai tujuan dari penegakan hukum dapat tercapai.

Sementara itu, Kepala Kejaksaaan Negeri Kabupaten TTU, Bambang Sunardi, melalui Kasi Pidsus, Noven Bulan, ketika dikonfirmasi disela-sela pemeriksaan membenarkan adanya pelimpahan tahap dua terhadap tersangka Yohanes Olin yang berkapasitas sebagai konsultan pengawas dakam proyek pembangunan embung Nimasi. Pelimpahan tersebut menyusul pelimoahan tahap kedua terhadap dua orang tersangka lainnya dalam kasus yang sama pada Senin kemarin. Pihaknya langsung melakukan penahanan terhadap tersangka selama dua puluh hari ke depan guna kepentingan penuntutan.

“Hari ini penyidik menyerahkan lagi salah saru tersanhka atas nama yohanes olin yang berkapasitas sebagai konsultan oengawas dakam proyek embung nimasi. Menyusul pada minggu kemarin sudah dua orang yang diserahkan. Hari ini juga kita akan lakukan penahanan selama dua puluh hari ke depan untuk kepentingan penuntutan. Sidangnya nanti dikupang. Berkas akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor secara bersamaan,”pungkasnya.(bev/ol)