Polisi belum Periksa dr Manurung

berbagi di:
Kasat Reskrim Polres TTS (yang lama), Iptu I Gede Dewa

Megi Fobia

 

Kepolisian Resort (Polres) Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur hingga saat ini belum memeriksa dr Edward Sugito Manurung sebagai pihak terlapor dalam kasus kematian Johana da Silva dan bayinya di ruang persalinan RSUD Soe, 26 April lalu. Polisi baru memeriksa lima orang saksi dari keluarga Johana.

Kasat Reskrim Polres TTS (yang lama), Iptu I Gede Dewa Karadytiasa didampingi Kasat Reskrim Polres TTS yang baru, Iptu Jhon Suhardi yang ditemui VN di ruang kerjanya, Jumat (12/5) mengatakan penyidik sudah mulai menyelidiki kasus yang dilaporkan oleh Yafred Nuban selaku suami dari Johana da Silva.

Laporan Yafred didaftar dengan Nomor STTLP/136/V/2017/RES TTS yang ditandatangani Kanit SPKT Polres TTS Ipda Otnial Natonis.

Ia mengatakan penyidik sedang mendalami laporan tersebut dengan memeriksa saksi-saksi dari keluarga korban.

“Penyidik sudah periksa lima orang saksi dari keluarga korban, setelah itu baru periksa terlapor dr Edward Sugito Manurung,” jelasnya.

Menurutnya, Yafred Nuban sebagai pelapor dalam laporannya menilai kematian istri dan bayinya itu akibat kelalaian dr Edward Manurung dan para bidan yang menangani persalian istrinya.

I Gede mengakui, penyidik juga mendalami sistem pelayanan dokter dan bidan dalam menangani proses persalinan. Setelah penyidik Polres TTS berhasil menyimpulkan barang bukti, segera digelar perkara tersebut untuk dinaikkan ke penyidikan.

“Penyidik sudah periksa lima saksi dari keluarga korban. Saya tidak hafal nama-nama saksi,” ucapnya.

Terkait penetapan tersangka, lanjutnya, penetapan tersangka juga harus didukung minimal dua alat bukti yang sah. Selain keterangan saksi, diperlukan autopsi terhadap jenazah Johana untuk mengetahui persis sebab-sebab kematiannya. Hal itu untuk membuktikan apakah kematian Johana dan bayinya di RSUD Soe adalah karena kelalaian dokter dan bidan atau tidak.

Ia menambahkan, dr Edward Sugito Manurung belum diperiksa sebagai terlapor. Ia akan diperiksa setelah saksi-saksi diperiksa

“Kita akan periksa dan tetapkan tersangka jika sudah penuhi unsur-unsur sesuai dengan kasus yang dilaporkan. Dalam KUHP ada pasal kelalaian, pasal tersebut yang digunakan untuk kasus tersebut,” jelasnya.

 

Tindakan RSUD Soe

Terpisah, Direktur RSUD Soe dr Ria Tahun menjelaskan manajemen rumah sakit belum mengambil tindakan terhadap dr Manurung. Tindakan baru bisa diambil setelah dilakuan audit maternal perinatal (AMP). Dari hasil AMP baru bisa dipastikan apakah terjadi pelanggaran dan jenis sanksi apa yang harus diberikan.

Ria mengatakan, tim AMP terhadap dokter dan bidan merupakan tim gabungan dari dokter se-profesi bersama mananjemen RSUD dan pimpinan puskesmas se-TTS.

“Hasil keputusan dari tim AMP tersebut baru diberikan sanksi. Sanski yang diberikan akan dilihat dari hasil audit. Kami tahap mediasi dulu. Audit bukan hanya di tingkat rumah sakit tetapi di tingkat kabupaten, kita minta dari dokter ahli kandungan untuk melakukan audit terhadap dr Edward Manurung,” jelasnya.

Dia menambahkan, selain langkah AMP, pihak rumah sakit juga masih melakukan komunikasi dengan pihak keluarga Johana da Silva.

“Sudah dua kali ketemu keluarga dan keluarga merasa kecewa,” katanya.

Dia belum bisa memastikan apakah pihak keluarga akan menerima permintaan damai ataukah menolak. Pihak RSUD Soe hanya berusaha memfasilitasi.