Polisi Lidik Dugaan Penebangan Hutan Mangrove

berbagi di:
foto-hal-12-pengrusakan-hutan-manrove-kab-kupang

Kondisi hutan mangrove yang dibabat warga Desa Pariti, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Selasa (10/9). Foto: Alfret Otu/VN

 
Alfret Otu
Polsek Sulamu melakukan penyelidikan terkait kasus dugaan penebangan hutan mangrove di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kapolsek Sulamu, Ipda Djoni Boro, Selasa (10/9) menyatakan, Polsek Sulamu sudah menerima laporan dari masyarakat dan saat ini sedang melakukan penyelidikan kasus dugaan perusakan hutan mangrove seluas tiga hingga lima hektar di Desa Oeteta untuk memperluas lahan tambak garam.

Menurutnya, perusakan hutan mangrove itu menggunakan alat berat dan juga memggunakan parang. Untuk kepentingan penyelidikan, Penyidik Polsek Sulamu telah memeriksa saksi-saksi. Polisi masih melakukan identifikasi untuk kemudian menentukan siapa pelaku yang diduga kuat melakukan aksi perusakan termasuk siapa pemilik alat berat yang digunakan merusak hutan mangrove.

Ipda Djoni enggan menyebutkan identitas pelaku maupun identitas pemilik alat berat. Dirinya beralasan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.

“Siapa pelakunya masih kami selidiki termasuk alat berat milik siapa juga masih dalam penyelidikan. yang jelas ada bekas alat berat dan ada bekas potongan parang,” ungkap Dia.

Untuk kepentingan penyelidikan, kata Kapolsek Sulamu, dirinya bersama anggotanya dengan didampingi ketua rukun tetangga setempat pun sudah meninjau lokasi pengrusakan hutan mangrove. Peninjauan lokasi oleh Polsek Sulamu dilakukan setelah berkoordinasi dengan Kepala Desa Oeteta.

Informasi lain yang dihimpun menyebutkan, kasus dugaan perusakan hutan mangrove di Desa Oeteta sudah dilaporkan secara resmi ke Polsek Sulamu dengan bukti laporan polisi nomor : LP/B/36/IX/2019/Sek.Sulamu.

Peristiwa pengrusakan hutan mangrove terjadi tanggal 30 Agustus 2019 sekitar pukul 08.00 wita yang kuat dugaan dilakukan oleh terlapor berinisial KH Cs yang menggusur hutan mangrove menggunakan alat berat.

Salah satu Anggota Tim Pengawas Laut Iskandar Huan, mengatakan aksi babat hutan mangrove itu dilakukan untuk membuat jalan pintas menuju pantai. Saya Sebagai tim pengawas laut dan pesisir pantai bertugas menjaga dan mengawasi agar hutan mangrove tetap terjaga kelestariannya, bahkan jika ada pohon bakau yang mati maka tim itu wajib menanam kembali karena hutan bakau itu dilindungi pemerintah sudah lama.

Ia mengatakan, sebagian masyarakat desa pariti menggantungkan hidupnya dari hasil laut, jika hutan mangrove rusak tentu akan berdampak kurangnya hasil laut makin dan menyebabkan terjadinya abrasi pantai.

Dampak dari kerusakan hutan mangrove katanya, sangat mengganggu berkembang biaknya semua biota laut seperti udang, ikan dan kepiting bakau yang menjadi harapan masyarakat pariti.

Menurutnya, hutan mangrove di Desa Pariti sudah ada sejak dulu dan dilindungi oleh pemerintah. Pohon – pohon bakau yang dirusak itu, jika dilihat dari diameter batang pohonnya, diperkirakan sudah hidup puluhan tahun.

“Pemerintah sudah mengeluarkan banyak uang untuk melindungi dan mengembangkan ini hutan mangrove, tapi masyarakat dengan sewenang-wenang merusak hutan itu,” ungkapnya.(mg-07/S-1).