Polisi Pukul Sopir Mobil Ikan di Perbatasan, Warga Temui Bupati Sikka

berbagi di:
img-20200601-wa0040

Para sopir mobil ikan saat bertemu Bupati Sikka di Kantor Bupati Sikka di Jalan Eltari Maumere, Senin (1/6) pagi. Foto: Yunus/VN

 

 

 

Yunus Atabara

Puluhan mobil ikan dari Maumere, Kabupaten Sikka yang membawa ikan segar ke Manggarai dihadang petugas Satgas Covid-19 Ngada di Paubuku, perbatasan Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada, Minggu (31/5) sore.

Sikap satgas Covid-19 Ngada yang terkesan diskriminatif dan disertai kekerasan itu sudah berlangsung berulang kali. Hal ini membuat puluhan sopir mobil yang sehari-hari membawa ikan dari Maumere ke Manggarai, mendatangi kantor Bupati Sikka dan mengadukan hal tersebut.

Lambertus Usno, perwakilan para sopir mobil ikan kepada Bupati Sikka, Senin (1/6) menjelaskan sikap satgas Covid-19 Ngada selain tidak mengizinkan melintas, juga diintimidasi dan dipukul oleh seorang oknum polisi dan oknum Pol PP yang ada diperbatasan.

“Teman kami dipukul oleh oknum anggota Sat Pol PP. Tidak hanya itu, seorang oknum polisi juga ikut pukul di kepala bagian belakang dua kali. Lalu dibawa ke suatu tempat dan diintimidasi, ini sangat tidak manusiawi,” kata Usno.

img-20200601-wa0038

Selain itu kata Usno, satgas Covid di perbatasan juga meminta uang sebesar Rp 1 juta. Seluruh mobil ikan dari Maumere tidak diizinkan melintas. Tetapi, disuruh memindahkan ikan ke mobil lain yang diduga sudah disiapkan oleh oknum satgas Covid-19.

“Mobil kami tidak diizinkan melintas. Mereka minta salin ikan ke mobil mereka tapi kami tidak diizinkan ikut. Lalu siapa yang akan antar ikan kami dan siapa yang bertanggung jawab terhadap ikan kami,” kata Usno.

Ia menjelaskan selama mengantar ikan ke Manggarai saat pandemi Covid-19, pihaknya mengikuti protokoler kesehatan, yakni mengurus dokumen dari kantor DKP asal ikan, surat jalan dari Satgas Covid-19 Sikka serta bukti hasil rapid test mandiri yang dikeluarkan dari klinik swasta di Maumere.

“Semua lengkap. Tapi mereka alasan otonomi daerah, sehingga dilarang lewat,” ujarnya.

Yang aneh menurut Usno, bahwa kendaraan lain yang membawa ayam dari Sikka, diizinkan melintas. Padahal memiliki dokumen yang sama seperti hasil rapid test dan surat keterangan jalan dari Satgas Covid-19 Sikka.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo yang didampingi Wakil Bupati Sikka dan seluruh Forkopimda menegaskan bahwa dalam vidio konferensi dengan Gubernur NTT sudah jelas semua Bupati diminta untuk tidak menutup jalan, terutama mobilisasi logistik.

“Sudah jelas, Pak Gubernur sudah perintahkan Bupati untuk tidak tutup jalan. Saya akan segera laporkan hal ini ke Gubernur dan saya akan segera hubungi Bupati Ngada. Ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Bupati Sikka.

Usai mendengar penjelasan Bupati Sikka puluhan sopir mobil ikan membubarkan diri. Kendati demikian para sopir mengancam akan memblokir seluruh ekspedisi tujuan Bajawa atau sebaliknya.(bev/ol)