Polisi Tetapkan Tersangka Bom Ikan Di Kecamatan Reok Barat  

berbagi di:
20190815_103339

Kapolsek Reo, Ipda Alfian Hidayat didampingi Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Reo,Ida Bagus Widnyana saat jumpa pers. Foto: Gerasimos Satria/VN

Gerasimos Satria
Kepolisian Sektor Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur menetapkan  tersangka dalam dugaan tindak pidana penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.

Kapolsek Reo, IPDA Alfian Hidayat,Kamis (15/8) di hadapan wartawan menjelaskan dalam kasus kepemilikan bahan peledak untuk menangkap ikan pihaknya menetapkan KNM alias Muthar (41) sebagai tersangka. Muhtar, nelayan yang berasal dari Kampung Nanganae,
Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai terbukti memiliki alat bahan peledak ikan.

Dalam penanganan kasus itu, penyidik polsek mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya satu unit perahu, satu unit kompresor merk Donewa, satu jerigen ukuran 20 liter, satu kacamata selam merek mondial, satu strip obat nyamuk bakar, satu kotak korek api kayu, satu  botol bir berisi serbuk korek api, tiga botol bir yang berisikan sumbu, detonator dan serbuk api.

Alfian mengatakan tersangka KNM  mengunakan alat peledak berupak bom ikan untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak karena terbatas melakukan ikan secara tradisional.

Modus yang dilakukan tersangka dilakukan secara tertutup dalam melakukan aksi pengeboman ikan. Banyak nelayan di pesisir Kecamatan Reok dan Reok Barat  juga tidak berani melapor aktivitas nelayan yang mengunakan alat tangkap ikan yang melanggar aturan seperti dengan cara pengeboman.

“Tersangka mengakui bahan peledak ikan itu adalah miliknya dan selama ini menangkap ikan dengan bahan peledak tersebut,”ujar Alfian.

Alfian mengatakan, tersangka melanggar Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951 atau  Pasal 85 ayat 1 Undang-Udang Nomor 45 Tahun 2009 perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara setingi-tingginya 20 tahun. Serta Pasal 85 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan dengan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 2 miliar.

Kepala Cabang Kejaksaan Negeri, Ida Bagus Widnyana mengatakan barang bukti dan tersangka akan diproses untuk disidangkan dalam waktu dekat di Pengadilan Negeri Ruteng, Manggarai.

“Kita minta peran masyarakat untuk melaporkan kepada penegak hukum jika ada warga atau nelayan yang menangkap ikan dengan bahan peledak,” tegasnya. (bev/ol)