Polres Mabar Ungkap Kasus Pelecehan Seksual Anak Di Bawah Umur

berbagi di:
img-20191213-wa0044

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Julisa Kusumowardono bersama pelaku pemerkosaan saat jumpa pers di Polres Manggarai Barat. Foto: Gerasimos/VN

 

Gerasimos Satria

Kepolisian Resort (Polres) Manggarai Barat  (Mabar) mengungkap lima kasus
tindak pidana pencabulan dan pelecehan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di sejumlah desa di kecamatan di Kabupaten Mabar akhir tahun 2019.

Hal itu disampaikan Kapolres Mabar AKBP Julisa Kusumowardono, kepada wartawan,.Jumat (13/12) sore.

AKBP Julisa Kusumowardono mengatakan sejak Agustus  hingga Desember 2019, Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Mabar megatakan tersangka sudah ditangkap.

Lima korban pelecehan dan pencabulan anak dibawah umur adalah AJC (8) yang berasal dari Kecamatan Macang Pacar. SDM, pelajar yang berasal dari Desa  Golo Desat, Kecamatan Komodo. MGT (14) di Kecamatan Komodo, HLS (10) di Desa Nampar Macing, Kecamatan Komodo, MFIP (14) asal Wae Mata,Desa  Gorontalo,Kecamatan Komodo.

Pelaku  FA (23) yang juga tinggal di Wae Mata,Desa Gorontalo,Kecamatan Komodo mencabuli korban MFIP (14) di rumah tinggal korban.

Pelaku FA dijerat Pasal 81 ayat 1 dan ayat 2, Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu penganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan Kedua Undang-Undang atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan  anak dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Pelaku RH (29) yang merupakan guru Korban AJC (8)  melakukan pelecehan seksual kepada korban berkali-kali sejak Februari 2019. Pelaku RH melakukan pelecehan seksual di sekolah dan di pengilingan padi. Korban tidak melakukan perlawanan karena pelaku merupakan guru.

Sementara pelaku MNN melakukan pencabulan terhadap korban HLS di rumah korban di Desa Nampar Macing. Usai melakukan pencabulan,tersangka mengancam korban untuk tidak menceritrakan kepada orang lain.

Pelaku AA melakukan pelecehan seksual kepada korban MGT (14) di rumah kawanya bernama Masto pada 22 November 2019. Pelaku AA menjemput korban MGT di sekolah kemudian mengajak korban ke rumah Masto di Labuan Bajo. Dirumah Masto, pelaku kemudian mengajak korbah untuk berhubungan intim.

Pelaku AA alian Alfons yang berasal dari Desa Liang Sola, Kecamatan Lembor melakukan pelecehan seksual terhadap korban SDM di Puar Lolor, Kecamatan Komodo pada Mei 2019. Pelaku AA yang sedang mengendari sepeda motor  mengajak korban SDM yang saat itu berjalan kaki dari sekolah.

Pelaku, AA tidak mengantar korban ke rumahnya di Desa Batu Cermin. Pelaku mengajak korban untuk berhubungan badan di hutan Puar Lolo, Desa Batu Cermin. Pelaku melakukan pencabulan sebanyak dua kali dkali di tempat berbeda.

Menurut Julisa, rata-rata pelaku pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, berusia antara 20 hingga 30 tahun.

Ia mengimbau para orang tua atau guru untuk tidak mempercayakan anak- anak mereka kepada orang lain.

“Walau pun itu kerabat sendiri. Kewaspadaan adalah yang paling utama. Kita tidak boleh percaya begitu saja kepada orang lain. Karena para predator anak ini tidak memandang dia kenal atau tidak kepada keluarga korban, namun bila ada kesempatan maka mereka akan beraksi,” ujar Julisa. (bev/ol)