Polsek Loura Gagalkan Buruh Migran Ilegal

berbagi di:
foto-hal-01-coever-migran-sbd-diambil-keterangan

 

 

Frengky Keban

Aparat Polsek Urban Loura di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, Senin (13/1) siang menggagalkan keberangkatan tiga buruh migran ilegal asal Wewewa di Bandar Udara Tambolaka menuju Surabaya. Satu di antaranya berhasil lolos sementara dua lainnya diamankan di Polsek Loura untuk diambil keterangan.

Pantauan VN di ruang Reskrim Polsek Loura, kedua buruh migran itu, berinisial ALK (Wali Ate-Wewewa Barat) dan EL (Wali Ate-Wewewa Barat) hanya tertunduk dan sesekali meneteskan air mata. Sedangkan di luar ruangan tampak beberapapegawai Nakertrans SBD didampingi Kapolsek Urban Loura, Kompol I Ketut Mastina.

Kepada Wartawan, Kapolsek Urban Loura, Kompol I Ketut Mastina mengakui adanya pencekalan terhadap ketiga perempuan buruh migran pada pukul 12.00 Wita oleh anggota KP3 Udara dan Buser SBD.

“Sekarang dua korbannya sedang menjalani proses penyelidikan. Sedang satu lainnya berinisial GL asal Desa Taworara-Kecamatan Wewewa Barat kabur,” ungkapnya.

Menurutnya, tiga buruh migran itu direkrut oleh Masyur melalui PT Jaya Mandiri dan rencananya akan diberangkatkan ke Surabaya untuk kemudian diberangkatkan lagi ke Malaysia sebagai pekerja rumah tangga (PRT).

“Saat ini masih dalam tahap penyelidikan belum bisa kita tentukan apakah ini ilegal ataupun legal. Kami masih dalami dengan mendengar keterangan Masyur nantinya. Yang pasti dalam keterangan mereka (korban) saat direkrut mereka diiming-imingi gaji sebesar Rp4,5 juta,” ucapnya.

Ia mengatakan tahun 2019 lalu pihaknya telah mencekal 60-an buruh migran yang rata-rata mau ke luar daerah. “Sedangkan yang ke luar negeri itu ada tiga. Khusus tahun 2020, ini kejadian pertama,” ungkapnya.

Salah seorang buruh migran yang dicekal, EL kepada VN secara gamblang mengaku keinginannya untuk bekerja ke luar SBD semata untuk membantu orang tuanya untuk menyekolahkan adiknya. Alumni siswi SMK Pancasila ini pun mengaku kecewa.

“Saya tidak tahu kalau nasibnya seperti ini. Saya tidak mau lagi kalau begini jadinya. Lebih baik saya kerja di SBD saja. Pikirnya saya semuanya baik-baik saja. Saya pergi daftar sendiri di sana karena saya dapat info ada pendaftaran begitu. Sumpah saya tidak tahu kalau begini hasilnya. Saya tobat,” ungkapnya sembari menitik air mata.

 
Tuntaskan Human Trafficking
Terpisah, Koordinator PT Bumi Mas Citra Mandiri, salah satu Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) di SBD, David Tamo Ama mengapresiasi polisi yang menggagalkan keberangkatan para buruh migran tersebut.

“Saya dukung kalau Polsek Loura mengungkap sindikat semacam ini, termasuk para perekrutnya karena di satu sisi mereka juga telah merugikan kami. Bagaimana tidak? Mereka kadang mengambil para pekerja yang sudah mendaftar terlebih dahulu di PT kami dengan iming-iming pengurusan dokumennya mudah dan cepat, padahal itu ilegal. Iya proses saja bila perlu orang-orang seperti itu apalagi sekarang pemerintah provinsi sedang gencar-gencarnya memerangi human trafficking,” tegasnya. (kbn)