Pool Test Covid-19 belum bisa Dimulai, FAN Singgung Dana Rp1,2 M

berbagi di:
foto-hal-0i-cover-headshot-elcid-li

 

Dominggus Elcid Li
Koordinator Forum Academia NTT

 

 

 

Stef Kosat

 
SATUAN Tugas (Satgas) Percepatan dan Penanganan Covid-19 Provinsi NTT sudah menetapkan Pool Test sebagai salah satu solusi penting dalam upaya mengatasi lonjakan penularan positif Covid-19 lewat pelaku perjalanan dari luar NTT.

Namun hingga saat ini, rencana Pool Test Covid-19 (uji air liur) bagi para pelaku perjalanan dari luar NTT, belum bisa diwujudkan karena masih terkendala peralatan medis pendukung.

“Kita sebernarnya berharap tanggal 25 September ini sudah mulai bekerja. Tetapi harus menunggu salah satu teknisi untuk melatih dan memasang alat yang baru tiba Senin depan 28 September. Sehingga harus tertunda, padahal persiapan sudah 90 persen,” ungkap

Demikian penegasan Koordinator Forum Academia NTT (FAN) NTT, Dominggus Elcid Li saat diwawancarai VN melalui telepon, Selasa (22/9) lalu.

Untuk diketahui, FAN adalah pelaksanan teknis dalam kerja sama Pemprov NTT dengan Undana untuk pembangunan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat NTT.
Menurut Elchid, karena peralatan belum lengkap dan belum bisa beroperasi, maka saat ini FAN berkoodinasi dengan Dinas Perhubungan NTT untuk memantau di Bandara El Tari dan Pelabuhan Tenau Kupang.

 
Singgung Dana

 

Pada bagian lain Elchid menambahkan bahwa pengoperasian Pool Test sudah bisa dimulai karena proses pembuatan, pelatihan SDM (Laboran) sudah berlangsung sejak Mei 2020 lalu. “Hanya dana operasional termin ketiga dari Dinkes belum turun. Ini boleh tulis saja, karena ada polemik dan belum diselesaikan hingga hari ini,” bebernya.

Ia merincikan, sebenarnya dana yang disetujui Pemprov NTT sebesar Rp4,4 miliar. Tetapi, dana yang sudah dicairkan Dinkes NTT baru Rp3,2 miliar dan sisanya masih Rp1,2 miliar untuk operasional selama enam bulan dan belum dicairkan.

“Terkait dana sebesar Rp 1,2 miliar tidak turun itu harus dijelaskan oleh Sekretaris Dinkes NTT mengapa dana operasional itu tidak turun. Karena tidak turunnya dana itu maka instalasi listrik dibiayai oleh sumbangan masyarakat sebesar Rp 16 juta. Sumbangan itu datang dari para pendeta, ketua Sinode GMIT, Pengusaha dan LSM. Tidak hanya listrik, tapi perangkat lain berupa meja, lainnya dan ini membuktikan bahwa masyarakat peduli dengan covid-19 di NTT maka pemerintah juga harus membuat laboratorium ini sebagai prioritas”, tegas Elcid.

 
Sudah Cair

 

Sekretaris Dinkes NTT David Mandala kepada VN di kantornya Kamis (24/9) menegaskan bahwa anggaran pembangunan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat NTT, bersumber dari APBD Provinsi NTT dan Universitas Nusa Cendana (undana), sesuai MoU antara Gubernur NTT dan Rektor Undana.

Menurut David, anggaran yang dikucurkan dari Pemprov sebesar Rp 4,5 miliar dan sudah dicairkan seluruhnya. “Anggaran itu digunakan untuk pembelian peralatan pool test, bio safety cabinet (lemari pengaman biologis), catridge reagent untuk pemeriksaan swab, dan termasuk renovasi gedung laboratorium di RSU penyangga Undana,” jelas David.

Menurutnya, pool test segera dijalankan setelah sejumlah peralatan dan penunjang dilengkapi. “Laboratorium masih membutuhkan beberapa bahan habis pakai dan dalam waktu dekat diusahakan supaya pool test bagi pelaku perjalanan dari luar NTT segera dilakukan,” pungkasnya.

Supervisor laboratorium adalah Laboratorium BBLTK Surabaya yang jadi pembina untuk wilayah NTT dan Fima Inabuy PhD adalah koordinator laboratorium. (D-1/yan/ol)