PPK Ingatkan Hadmen Puri, Fee untuk Lebu Raya Terlalu Besar

berbagi di:
foto-hal-01-sidang-ntt-fair

Dona Fabiola Tho didampingi kuasa hukum dan JPU mengecek bukti surat di sela sidang, kemarin. Foto; Kekson Salukh/VN

 

 
Kekson Salukh

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek NTT Fair Dona Fabiola Tho membenarkan pengakuan Hadmen Puri selaku pemilik PT Cipta Eka Puri (pemenang tender) bahwa ada permintaan tambahan fee satu persen untuk Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang disampaikan mantan Kepala Dinas PRKP NTT Yulia Afra.

Dona bahkan mengaku setelah mendengar pengakuan Hadmen, ia sempat mengingatkan yang bersangkutan untuk berhati-hati karena tambahan fee yang diminta terlalu besar karena yang ia ketahui bahwa keuntungan dari proyek NTT Fair kecil.

“Waktu itu ground breaking saya di belakang, Pak Hadmen kasih tahu kalau Ibu Kadis minta tambah fee untuk Pak Gubernur (Frans Lebu Raya) satu persen dari yang sebelumnya lima persen sehingga saya sempat bilang terlalu besar itu jadi hati-hati karena proyek konstruksi ini keuntungannya kecil,” ungkap Dona dalam sidang lanjutan kasus korupsi pembangunan NTT Fair, Kamis (5/12) siang di Pengadilan Tipikor Kupang.

Dona mengatakan itu menjawab Majelis Hakim terkait pengakuan Hadmen Puri dalam persidangan bahwa ketika bertemu Yulia Afra sebelum ground breaking di ruang kerjanya, Yulia Afra hanya meminta fee 5 persen.

Namun, setelah ground breaking, ia diberitahukan Yulia Afra bahwa Lebu Raya meminta tambah fee satu persen lagi sehingga menjadi enam persen.

“Saat itu setelah ground breaking ibu Kadis Yulia Afra datang dan bisik saya lagi kalau sesuai instruksi Gubernur NTT maka harus tambah fee satu persen lagi sehingga totalnya enam persen saya kemudian langsung telepon Linda dan Mr Lee terkait fee itu dan mereka bilang nanti kita kasih secara bertahap,” ungkapnya.

Hadmen menambahkan, ia sempat memberitahukan permintaan tambahan fee itu kepada PPK Dona Fabiola Tho. “Saya waktu itu balik ketemu ibu Dona di belakang panggung ground breaking, ibu Dona tanya ada apa Pak Hadmen, saya sampaikan bahwa ibu Kadis minta tambah fee untuk Pak Gubernur. Ibu Dona bilang terlalu besar sembari berjalan meninggalkan saya,” jelas Hadmen.

 
Saling Bantah
Linda Liudianto (Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri) saat dikonfirmasi dalam sidang membantah diberitahukan Hadmen Puri jika ada permintaan fee enam persen dari Lebu Raya melalui Yulia Afra. Namun, ia hanya diminta Hadmen Puri untuk menyerahkan dua unit chek.
Pernyataan Linda itu kemudian dibantah Hadmen Puri.

Ia membantah meminta dua chek dari Linda karena Linda yang mengambil alih semua pencairan. Pencairan awal uang semua sudah masuk ke rekening Linda.

“Saya waktu itu telepon dan sampaikan kepada Linda dan Mr Lee. Ini Linda dari awal sudah berbohong sehingga saya minta JPU untuk print out saja percakapan saya melalui telepon dengan mereka dua yang mulia.” pinta Hadmen diikuti permintaan Hakim Ikrarmika Fali kepada JPU untuk print out percakapan telepon.

Hadmen mengaku membuat rekening baru atas desakan Linda yang ingin menguasai semua anggara proyek NTT Fair. “Awal memang pakai rekening saya. Tetapi Linda tidak mau pakai rekening itu karena rekening pasti pakai spesimen saya. Karena dia mau kuasai uang proyek makanya dia minta untuk buat rekening baru sehingga semua pencairan masuk ke dia,” ungkapnya.

Hadmen menambahkan, proyek NTT Fair dikerjakan oleh semua karyawan Linda Liudianto. Bukan karyawan PT Cipta Eka Puri.
Pada bagian lain, Dona juga menjelaskan bahwa saat rapat untuk pencairan termin tiga sekaligus uang Garansi Bank dihadiri manager proyek, Widyanto, Linda Liudianto, dan suaminya, Mr Lee.

Walaupun demikian, Linda masih berdalih bahwa tidak hadir dalam rapat untuk pencairan termin tiga yang disepakati progres
pembangunan 70 persen dinaikan menjadi 100 persen.

Mendengar bantahan Linda, hakim Ikrarmika Fali geram. Ikrarmika meminta saksi memberikan keterangan yang jujur dan tidak perlu berbohong.

Linda mengaku pernah ketemu Lebu Raya terkait proyek perumahan tipe 36. Namun, Lebu Raya mengarahkannya ke Sekda NTT karena itu masalah teknis. Namun, tidak membahas proyek NTT Fair.

“Saya waktu itu bawa berkas ke Sekda dan sampaikan bahwa saya pemenang proyek perumahan tipe 36. Saya mau serah terima tapi belum membayar saya. Sekda bilang pi pengadilan saja,” ujar Linda.

Pantauan VN, Sidang dipimpin hakim ketua Ikrarmika Fali didampingi Ibnu Kholik dan Gustaf Marpaung sebagai anggota. Turut hadir JPU Hendrik Tip, Herry Franklin dan Emersiana Jemahat. Terdakwa Ferry Johns Pandie didampingi kuasa hukumnya Jefry Samuel. (mg-10/E-1)