Prodi Keperawatan Waingapu Gelar Pelatihan Jurnalistik

berbagi di:
img-20191202-wa0009

 

Keprodi Keperawatan Waingapu, Maria Karehi Hara, Ketua panitia pelaksana, Domianus Namuwali dan para mahasiswa peserta pelatihan jurnalistik dasarĀ foto bersama dengan kedua pemateri dengan pose salam sehat usai pembukaan kegiatan di Aula kampus tersebut, Sabtu (30/11). Foto: Jumal Hauteas/VN

 

Jumal Hautaeas

Program studi (Prodi) Keperawatan Waingapu, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kupang melakukan pelatihan jurnalistik dasar bagi mahasiswa tingkat satu di Prodi tersebut. Pelatihan Jurnalistik dasar ini dilakukan sebagai dasar untuk membekali para mahasiswa saat melakukan tugas akhir saat berada di semester tiga ke atas nantinya.

Ketua panitia pelaksana, Domianus Namuwali, menyampaikan hal ini kepada VN usai pelaksanaan kegiatan yang menghadirkan Wartawan MNC Media, Dionisius Umbu Ana Lodu sebagai pemateri untuk jurnalisme televisi dan Wartawan Victory News, Junus Imanuel Hauteas sebagai pemateri untuk jurnalisme cetak, yang berlangsung di aula kampus tersebut, Sabtu (30/11).

Domianus menjelaskan, pelatihan jurnalistik dasar ini rutin dilakukan setiap tahun bagi mahasiswa tingkat satu di Prodi Keperawatan Waingapu. Karena selain sebagai bagian dari program kampus untuk membekali para mahasiswa, juga sebagai bagian dari pengenalan bagi mahasiswa, bahwa pendidikan jurnalisme itu penting untuk diketahui para mahasiswa.

“Para mahasiswa kita ini saat membuat tugas akhir akan diminta untuk melakukan wawancara di rumah sakit dengan pasien dan kemudian harus menulis hasil wawancara mereka itu dalam bentuk tulisan sebagaimana berita untuk dimasukkan sebagai tugas akhir, yang akan dimulai pada semester tiga keatas. Jadi pelatihan ini kami berikan sebagai maksud agar para mahasiswa bisa memiliki pengetahuan dasar bagaimana melakukan wawancara, dan juga menulis laporannya,” urainya.

Ketua Program Studi (Keprodi) Keperawatan Waingapu, Maria Karehi Hara, dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan ini menegaskan, pelatihan jurnalistik dasar ini sebagai informasi kepada para mahasiswa bahwa, walaupun saat ini para mahasiswa sedang kuliah dengan mengambil Prodi Keperawatan, bukan berarti hanya perlu tahu mengenai ilmu keperawatan. Namun juga boleh mengenal ilmu jurnalisme sebagai salah satu ruang untuk bisa berkarya nantinya.

“Bukan berarti pelatihan jurnalistik ini dilakukan supaya adik-adik tidak usah serius untuk menjadi perawat nantinya. Tetapi ini juga sebagai bagian yang bisa adik-adik pelajari untuk menambah wawasan, dan kalau memang ada yang tertarik untuk menjadi jurnalis, silahkan mengikuti materi yang disampaikan para pemateri nanti dengan baik,” tegasnya.

Ia berharap ratusan mahasiswa yang ikut dalam pelatihan jurnalistik dasar kali ini, bisa mengikuti pemaparan materinya dengan baik dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami, agar nantinya bisa menjadi bekal saat menghadapi tugas akhir yang mewajibkan mereka membuat laporan hasil wawancara dengan pasien di rumah sakit.

“Ini akan jadi bekal penting bagi adik-adik mahasiswa, jadi jangan main-main, tetapi dengarlah dengan baik materinya, sehingga nantinya saat membuat laporan hasil wawancara dengan pasien tidak lagi kesulitan,” tandasnya.

Wartawan MNC Media, Dionisius Umbu Ana Lodu pada pemaparan materinya menegaskan, jurnalisme televisi tidak jauh berbeda dengan jurnalisme cetak. Namun jurnalisme televisi tidak menggunakan kertas sebagai Media penyampai informasi, melainkan televisi sebagai medianya. Walau demikian, rumus pengambilan bahan beritanya sama yakni berdasarkan pada fakta di lapangan dan buka khayalan wartawan semata.

Karena itu, dalam karyanya seorang jurnalis televisi juga harus memegang teguh prinsip yang sama dengan media cetak dan juga media online, yakni menghormati fakta lapangan dan mematuhi etika jurnalistik. “Kita wartawan juga memiliki etika jurnalistiknya, jadi kalau ada wartawan yang berani menyebarkan berita yang tidak benar, artinya dia sudah mengangkangi etika jurnalistik dan tidak pantas lagi yang bersangkutan menyandang predikat wartawan,” tegasnya menjawab pertanyaan salah satu peserta.

Sementara itu mengenai tantangan jurnalisme cetak ditengah gempuran media televisi dan terutama media online saat ini, Wartawan Victory News, Junus Imanuel Hauteas menegaskan, setiap media memiliki konsumen masing-masing dan tidak bisa saling menggantikan secara keseluruhan. Karena itu, walau harus diakui pembaca media cetak saat ini tergerus dengan lahirnya televisi, terutama media online. Media cetak, tetap memiliki tempat di hati pembacanya sehingga tidak akan mati.

“Setiap media memiliki kiblatnya masing-masing, dan tahu apa yang dibutuhkan pembaca/pemirsanya masing-masing. Karena tentunya satu media tidak akan mampu memenuhi rada keingintahuan semua pembaca/pemirsa. Jadi hadirnya media online dan televisi/radio, tidak hanya sebagai kompetitor dengan media cetak, namun juga sebagai ruang untuk saling melengkapi satu dengan yang lain,” tandasnya.(bev/ol)