Produk Grass Straws Siap Gantikan Sedotan Plastik

berbagi di:
img-20210129-wa0010

Inilah contoh kemasan dan produk grass straws yang siap bersaing dengan sedotan plastik. Foto: Istimewa

 

 

Thony Johannis

ProdukĀ Grass Straws (sedotan rumput) yang dibuat dari bahan alami, yakni rumput yang hidup pada sejumlah wilayah di Provinsi NTT, siap menggantikan fungsi sedotan plastik yang lazim digunakan saat ini.

Demikian disampaikan Ben Leonard selaku CEO qlimutu yang memproduksi produk Grass Straws yang dihubungi VN, Kamis (28/1) kemarin.

Menurut Ben, awalnya mengembangkan produk Grass Straws saat terlibat dalam kampanye melawan penggunaan sampah plastik secara berkelanjutan. Kemudian, ia melakukan riset terkait pemanfaatan sedotan plastik, dimana Indonesia merupakan salah satu negara pengguna sedotan plastik terbanyak atau masuk hitungan lima besar dunia.

Dari riset itu, lanjut Ben, pihaknya kemudian belajar terkait dengan inovasi-inovasi dari luar negeri karena dari luar negeri sudah ada yakni di negara Vietnam.

“Saya juga mendapatkan dukungan dari teman-teman alumni di Jawa Timur dan Jogjakarta terkait pengurangan pemakaian sedotan plastik,” ujarnya.

Menurut Ben, di saat pandemi seperti sekarang ini masih ditemui warung tertentu yang memanfaatkan sedotan plastik secara berulang. Hal ini lah mendorongnya untuk mengkampanyekan penggunaan sedotan rumput sekali pakai sehingga bisa mencegah penyebaran penyakit seperti TCB, Hepatitis dan Covid-19.

Ben menjelaskan, jenis rumput yang digunakan untuk sedotan rumput adalah rumput jenis berongga serumpun Leporinia. Rumput jenis ini terdapat pada sejumlah wilayah di Provinsi NTT dengan sebutan yang beragam sesuai dengan lokasi rumput tumbuh.

Masih menurut Ben, jenis rumput berongga serumpun tersebut tersedia sangat banyak di wilayah NTT, dan yang sudah kita temukan ada di Alor, Flores Timur, Sumba, ada juga di wilayah TTS dan Kabupaten Kupang.

“Untuk wilayah selain Alor dan Flores, itu baru sebatas informasi dan belum dilakukan riset mendalam karena kondisi pandemi dan masalah dana. Jadi dari Alor dan Flores ketersediaan bahan baku konstan,” ujarnya.

Ben mengatakan, bahan baku yang ada kemudian dibawa ke Kupang dan dilakukan sterilisasi termasuk pembuatan kemasan dilakukan di Beta Print Kupang di kawasan Oesapa Barat.

“Kemasan produk dibantu oleh siswa magang dari SMKN 4 Kupang dan mereka sudah belajar cara pembuatan kemasannya,” ujarnya.

Untuk pemasaran produk sendiri saat ini telah ditawarkan ke sejumlah hotel yang ada di Kota Kupang maupun ke sejumlah rekan yang memiliki cafe sepertiKopi Saa di Kota Kupang dan Xpresso Jabalmart di Kefamenanu, TTU.

“Kami tetap jaga kapasitas produksi sehingga pada saat kegiatan KTT G-20 dan ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo nanti, kita bisa tunjukkan bahwa NTT juga mulai gerakan pengurangan penggunaan sedotan plastik,” ujarnya.

 

Binaan Dekranasda NTT
Ben menjelaskan produk yang dihasilkan ini masuk dalam inovasi binaan Dekranasda Provinsi NTT. “Jadi dengan kondisi pandemi seperti ini Bunda Julie Laiskodat sangat membantu untuk memasarkan produk ini,” ujarnya.

Ben mengatakan, untuk menggantikan peran sedotan plastik dengan sedotan rumput dari sisi harga tentu sedotan rumput agak susah bersaing apalagi di saat pandemi. Tapi kalau dari sisi kesehatan, maka kita unggul karena kesehatan merupakan sesuatu yang tidak ternilai.

Menurutnya, produk yang dihasilkan ini karena berkaitan erat dengan produk makanan dan minuman maka telah mendapatkan lisensi halal dari MUI. “Jadi produk ini telah mengantongi label halal dari MUI,” paparnya.

Terpisah, Kabid Industri dan Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata NTT, Eden Klakik mengaku, pihaknya turut mendorong industri kecil dan menengah (IKM) di NTT untuk terus memproduksi aneka produk souvenir dengan menggunakan bahan baku lokal. (bev/ol)