Produksi Pangan NTT Meningkat

berbagi di:
Kadis Pertanian Yohanes Oktovianus

 

 

 

Putra Bali Mula
Dinas Pertanian Provinsi NTT menjabarkan pencapaian produksi pangan yang relatif positif baik ketersediaan pangan utama, perkebunan, hortikultura dan produktivitas lainnya.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Oktovianus, dalam rapat koordinasi dan sinkronisasi antar dinas pertanian kabupaten kota seluruh NTT, Rabu ini (12/2), di Swiss Belinn Kristal.

Selama tahun 2019, kata dia, ketersediaan pangan di NTT cukup baik apabila dibandingkan dengan jumlah konsumsi sepanjang tahun tersebut.

“Penyediaan pangan bagi masyarakat cukup baik, yaitu untuk ketersediaan pangan utama, yakni prosentase produksi pangan utama dibandingkan dengan jumlah konsumsi pangan utama pada tahun 2019 adalah sebesar 95 persen,” tukas dia.

Ia mengatakan peningkatan tersebut terjadi pada produksi beras bersih (netto) sebesar 728.230 ton terhadap jumlah kebutuhan beras tanpa impor sebanyak 658.001 ton.

Selain itu skor Pola Pangan Harapan (PPH) mencapai 84,40 point dimana melampaui target RPJMD sebesar 82 point. Ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan konsumsi energi per kapita per hari.

“Skor Pola Pangan Harapan, jika dibandingkan target RPJMD tahun 2019 sebesar 82 point maka skor pola pangan harapan telah melampaui target, yaitu mencapai 84,40 point. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan konsumsi energi dari 2.064 kkal per kapita per hari menjadi 2.182 kkal per kap per hari,” jelasnya.

Sementara program peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan utama juga telah menunjukkan peningkatan hasil walau tidak signifikan.

Untuk komoditi padi, lanjutnya, realisasi produksi padi tahun 2018 sebesar 1.269.406 ton menjadi 1.269.866 di tahun 2019. Demikian halnya untuk komoditi Jagung, juga mengalami peningkatan produksi.

Kemudian capaian berikut adalah realisasi produksi. Ia mengatakan realisasi produksi tahun 2018 sebesar 848.998 ton meningkat menjadi 881.298 ton di tahun 2019.

“Terjadi peningkatan sebesar 32.300 ton,” kata dia.

Untuk tanaman kacang-kacangan seperti kacang hijau juga mengalami peningkatan produksi dari tahun 2018 sebesar 7.966 ton menjadi 8.017 ton atau naik 53 ton. Namun ia mengaku terjadi penurunan signifikan terhadap kacang kedelai.

“Ada penurunan pada kacang kedelai dari 21.085 ton menjadi 5.462 ton,” sebutnya.

Di bidang hortikultura, terutama dua tanaman penentu inflasi yaitu cabai dan bawang merah juga terjadi kenaikan produksi.

Produksi cabai pada tahun 2018 sebesar 7.100 ton menjadi 7.242 ton pada tahun 2019 atau naik 142 ton. Sementara bawang merah naik dari 4.542 ton pada pada tahun 2018 menjadi 4.632 ton pada tahun 2019 atau naik sebesar 92 ton.

Pada Bidang Perkebunan ada peningkatan produksi untuk tanaman kelapa, kakao, kopi, jambu mete dan cengkeh dengan kenaikan produksi antara 0,10 hingga1,22 persen.

Sementara tanaman marungga diketahui baru mencapai 3.675.938 pohon sepanjang tahun 2019. Ia menyebut angka ini masih akan terus diperbaharui sesuai perkembangan laporan yang masuk dari daerah.

Pembukaan rapat koordinasi dan sinkronisasi pembangunan dan ketahanan pangan di NTT ini dihadiri oleh perwakilan direktorat Kementerian Pertanian, Dewan Jagung Nasional, Forkompinda dan Staf Ahli Gubernur Bidang Pertanian, Toni Djogo.

Sedangkan rapat tersebut dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Politik Pemerintahan, Samuel Pakereng, yang pada kesempatan tersebut mewakili dari Gubernur NTT yang berhalangan hadir.

Dalam sambutan Gubernur NTT yang ia teruskan saat itu berisikan himbauan agar koordinasi dan konsultasi antar dinas terkait perlu ditingkatkan kembali melalui rapat koordinasi tersebut.

“Tingkatkan koordinasi bersama agar peningkatan pertanian dapat berjalan baik, sukses, akuntabel dalam semangat NTT bangkit NTT sejahtera, agar target yang ditetapkan dapat tercapai,” kata dia.

Rapat koordinasi ini nantinya akan dilakukan selama tiga hari ke depan sejak tanggal 12 tersebut sampai pada tanggal 14 Februari mendatang. (bev/ol)