Promosi ke Norwegia, Dongkrak Industri Pariwisata di NTT

berbagi di:
Abed Frans

Abed Frans

 
Ketua Asosiasi Pariwisata (Asita) NTT, Abed Frans mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kebijakan Gubernur NTT dengan mempromosikan wisata NTT ke Norwegia. Dengan adanya kebijakan yang baru ini dapat memperkenalkan sesuatu yang baru ke Negara Norwegia terutama dalam busana adat serta tarian adat yang dipunyai.

“Mencoba sesuatu yang baru itu tidak salah, apalagi ke Negara Norwegia yang merupakan negara maju di Eropa, Norwegia juga merupakan negara yang masih memegang ke tradisionalnya untuk itu ini merupakan langkah awal yang baik untuk NTT,” ungkap Ketua Asita NTT, Abed Frans yang dihubungi VN, kemarin.

Abed mengatakan promosi wisata ke Norwegia ini merupakan yang pertama kali, untuk itu harus mendukung apa yang sudah dilakukan oleh Pemprov NTT, apalagi yang kita tahu bahwa kebiasaan wisata Negara Norwegia sama dengan Australia.

“Langkah berani yang dilakukan oleh Gubernur NTT ini kita harus mendukung, karena kita tahu bahwa program Gubernur NTT yang selalu di genjot itu kan mengenai pariwisata, oleh karena itu kita tidak hanya berdiam diri, namun juga ikut berpartisipasi dalam agresif Pemprov NTT dalam hal pariwisata,” tegas Abed.

Menurut Abed, Norwegia ini sifatnya bisnis ke customer jadi yang diharapkan dengan promosi wisata ini yang berperan penting itu adalah industri kerajinan dan budaya sebagai industri yang akan memperkenalkan hasil-hasil karya dari budaya dan juga adat-istiadat.

“Ini merupakan gebrakan yang baik untuk NTT, nah untuk itu industri kerajinan ini yang akan sangat berperan penting dalam promosinya wisata ke luar negeri,” ujarnya.
Dampak Positif
Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Darmawan mengatakan bahwa keberangkatan kontingen Provinsi NTT dalam mengikuti festival yang mengusung tema “Wonderful Indonesia: A Land Of Driversity” yang di selenggarakan di Oslo, Norwegia pada Jumad (28/6) ini, diharapkan mampu membawa dampak positif bagi peningkatan industri pariwisata di NTT sehingga berdampak pada meningkatnya ekonomi masyarakat.

Menurutnya, festival ini sebagai momentum untuk mempromosikan dan memperluas jangkauan pasar NTT menuju pasar internasional.

“Kami ingin perkenalkan destinasi wisata unggulan dan juga ingin menginformasikan bahwa pariwisata NTT siap menerima wisatawan, di moment ini juga kita bawa satu replika Komodo untuk promosi di sana, kami berharap ini akan membawa dampak positif bagi kemajuan pariwisata dengan begitu ekonomi juga semakin meningkat,” ungkap Wayan.

Selain sebagai promosi, festival ini juga sebagai ajang untuk menjalin bisnis dan kerja sama antara Pemprov NTT bersama Pemerintah Norwegia.

“Ada juga kegiatan bisnis, sehingga kita mengirim Asita untuk membangun kerjasama dengan travel – travel di Norwegia dan memberikan informasi tentang peluang-peluang bisnis di NTT. Kedepannya kita berharap Pemerintah Norwegia bisa mendorong program unggulan di Norwegia untuk dibangun di NTT,” paparnya.

Untuk meningkatkan destinasi-destinasi unggulan di Provinsi NTT, Kedepannya pemerintah akan meningkatkan destinasi di 22 kabupaten/kota dengan mengembangkan 7 destinasi juga meningkatkan akomodasi di tempat-tempat pariwisata unggulan di NTT.

“Kita akan memperbaiki destinasi di 22 Kabupaten di NTT, dan tahun 2019 ini kita akan mengembangkan 7 destinasi juga akan meningkatkan kapasitas kelembagaan terkait dengan peningkatan kapasitas atraksi dengan diadakan penataan kampung adat. Penataan kampung adat ini kita akan coba untuk kelola dan bingkai dalam 3 area yaitu area transaksi ke lokasi bisnisnya, area layanan wisatawan di area tengah dan area inti di kampung adat, sehingga tidak bercampur. Harapannya, dengan dilakukannya penataan kapasitas atraksi-atraksi ini kunjungan wisatawan ke depan bisa semakin meningkat,” tambahnya.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas kelompok sadar wisata, Ia juga sudah mengeluarkan sebuah keputusan sementara kepala dinas tentang bagaimana menata destinasi-destinasi unggulan di NTT, sehingga dapat meningkatkan industri pariwisata juga meningkatkan ekonomi kreatif, melakukan komunikasi, pembinaan dan promosi termasuk juga pembinaan kuliner-kuliner lokal yang menjadi target terpenting dalam pembangunan wisata.
Angkat Kebudayaan NTT
Terpisah, Akademisi Pariwisata Politeknik Negeri Kupang, Rio Benedicto Bire, mengatakan, partisipasi rombongan NTT, membuka kesempatan yang sangat baik untuk mengangkat nama dan kebudayaan NTT di mata dunia internasional.

“Event di Oslo ini menjadi media untuk mengangkat kekayaan budaya lokal NTT, diantaranya melalui produk ekonomi kreatif yang semakin disadari sebagai kekuatan transformatif dalam perkembangan sosial-ekonomi suatu negara.
Perwujudannya dalam Festival Indonesia diantaranya melalui tampilnya penari-penari lokal yang akan mempertontonkan tari-tarian dari daerah Sabu Raijua,” ujarnya.

Menurutnya, selain promosi pariwisata, ajang ini juga digunakan para pelaku ekonomi kreatif untuk mempromosikan produk-produk unggulan UMKM di NTT.

“Selain itu, produk ekonomi kreatif melalui hasil-hasil produksi UMKM lokal NTT yang akan menghiasi pameran di Oslo, dapat mendorong semangat pertumbuhan bisnis skala mikro, kecil, maupun menengah di NTT.

Perlu disadari bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian suatu negara, khususnya pada negara yang sedang berkembang. Jika sektor UMKM berhasil mendapat suntikan moral dan dukungan promosi yang memadai seperti pada event di Oslo, alhasil dampak positif dapat dirasakan dalam konteks pertumbuhan perekonomian di NTT,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan Pemprov NTT dalam mendukung keikutsertaan rombongan NTT di Oslo patut diapresiasi mengingat keberhasilan kepariwisataan suatu daerah menuntut keterlibatan dari semua stakeholders, termasuk pelaku usaha, masyarakat lokal, dan pemerintah.

“Kolaborasi ketiga pihak ini adalah krusial bagi kemajuan pariwisata daerah, dan merupakan sesuatu yang dirasakan manifestasinya melalui event di Norwegia ini. Pada akhirnya, Festival Indonesia ini merupakan suatu wadah yang menguntungkan bagi pariwisata di NTT yang dapat mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara, melestarikan budaya lokal, serta mengangkat perekonomian daerah melalui pemberdayaan UMKM,” paparnya. (mg-21/mg-23/R-4)