Proyek Jalan Ikan Foti Terancam Putus

berbagi di:
Jalan ikan foti rusak berat.

 

 

Ruas jalan provinsi di wilayah Ikan Foti, Amarasi Barat, Kabupaten Kupang yang dikerjakan secara swakelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT, tahun 2018 lalu, kini terancam putus. Tembok penahan jalan sudah ambruk menyisakan bentangan aspal yang juga rawan ambruk.

Pantauan VN, Minggu (14/3), pada sisi jalan yang tidak dibangun tembok penahan, lapisan tanah sudah terbelah dan tinggal menunggu waktu untuk ambruk dan rusak. Dan terdapat tiga titik longsor yang mengancam hancurnya cor beton tepatnya sebelum tugu Forum Komunikasi Feto Mone.

Selain itu, urukan tanah yang digunakan untuk pemadatan, tampanya tidak padat sehingga di saat hujan yang mengguyur NTT selama dua pekan terakhir, mengakibatkan urukan tanah ini bergeser.
Informasi yang dihimpun VN dari warga sekitar menyebutkan bahwa putusnya tembok penahan terjadi sekitar bulan Februari sehingga longsoran semakin parah. Bahkan longsoran mendekati cor jalan yang baru selesai dikerjakan. Selain itu, tanah yang berada di bawah cor beton ikut tergeser.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Bidang Bina Marga, Dinas PU NTT Januarius Gustaf Leba, kepada Komisi IV DPRD NTT yang memantau pengerjaan ruas jalan itu Selasa (18/9/2018) lalu, memastikan mutu pengerjaan proyek sangat tinggi.

Kepada Ketua Komisi IV David Melo Wadu, anggota Welem Kale, Agus Bria Seran, Gabriel Manek, dan Noviyanto Umbu Pati Lende, Gustaf Leba yang juga adalah PPK proyek tersebut menjelaskan soal mutu pekerjaan jalan tersebut. Kata dia, mutu pekerjaan tersebut sangat dijamin karena mereka memesan produk dan bukan mengerjakan sendiri campuran beton yang digunakan itu.

Dinas PU, kata dia, memesan campuran beton dengan mutu beton K250. “Itu khusus untuk badan jalan selebar 4,5 meter sementara untuk bahu
jalan di masing masing sisi selebar 80 cm dipasang campuran beton dengan mutu K175,” jelasnya.

Ia juga mengaku pekerjaan tersebut dilakulan secara swakelola, alias tidak ditenderkan oleh Dinas PUPR Provinsi NTT. Pekerjaan tersebut berdasarkan peraturan pengadaan barang dan jasa dengan sistem swakelola yang diatur dalam Perpres Nomor 16 Tahun 2018.

Swakelola pekerjaan tersebut dilakukan Dinas PU yang juga memiliki alat serta tenaga ahli dalam mengerjakan, merencanakan dan melakukan pengawasan sebagaimana selama ini sering dilakukan.
Pengamat ekonomi UKAW Kupang Dr Frits Fanggidae mengaku cukup kaget dengan keberanian Dinas PU-PR menjalankan proyek swakelola di Jalan Ikan Foti tersebut.

Menurutnya, dalam Pengaturan Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa Nomor 18 Tahun 2018 pada butir 1.5, sangat jelas disebutkan sembilan jenis pekerjaan pemerintah yang boleh dikerjakan secara swakelola.

“Kalau tidak salah, pada pasal 26 (2) Perpres Nomor 54 Tahun 2010 juga disebutkan 11 model pekerjaan yang tidak bisa dilakukan pemerintah. Saya kira perlu kehati-hatian yang tinggi. Karena jika jenis pekerjaan yang dikerjakan sekarang tidak termasuk kategori Perpres, maka akibatnya penjara ooo,” pungkasnya.
Warga Pertanyakan
Sementara itu, kepada VN Minggu (24/3), Absalom Banfatin, warga Desa Erbaun menduga urukan tanah yang digunakan untuk pemadatan jalan tidak padat secara menyeluruh sehingga saat hujan terus mengguyur, air mudah meresap dan tanah bergeser.

“Kami sekarang mau bawa hasil untuk jual di Kupang sudah mulai sulit karena kendaraan umum mulai takut masuk, Pak. Kalau putar melewati Oekabiti, itu lebih jauh lagi, Pak. Tolong ini ditulis supaya pemerintah tahu,” ucap pria paruh baya itu.

Banfatin menambahkan, ambruknya tembok penahan itu sudah terjadi beberapa bulan lalu, tapi tidak ada perhatian dari Dinas PUPR NTT. Longsoran bahkan terus mendekat ke bahu jalan.

“Bahkan, tanah yang berada dibawah cor juga ikut tergeser sehingga pengguna jalan yang lewat di sini terutama pada malam hari, dan kendaraan berat, sangat hati-hati karena sesewaktu jalan bisa runtuh,” kata dia.

Warga Desa Merbaun dan Erbaun lainnya, Ivan Takoy, warga Merbaun lainnya kepada VN, kemarin siang, mengatakan, warga setempat sangat mengharapkan Pemprov NTT segera turun tangan memperbaiki ruas jalan ini. Sebab, jika jalan ini putus, maka ada tujuh desa dan satu kelurahan yang terisolasi.

“Ini sudah jalan Ikan Foti, kondisinya terancam putus total karena tembok penahan bergeser. Jika ini tidak segera ditangani maka tujuh desa dan satu kelurahan akan terisolasi. Tembok penahan itu baru selesai dikerjakan pada Januari 2019 tapi karena hujan turun terus belakangan ini makanya terancam putus,” katanya.

Menurut Ivan, ruas jalan di wilayah Ikan Foti memang setiap tahun mengalami persoalan longsor. Melihat kondisi itu kemudian, Pemerintah NTT melakukan pembangunan tembok penahan jalan, namun kondisinya kini bergeser akibat resapan air hujan.

Ivan meminta pemerintah maupun Polsek Nekamese untuk memasang tanda larangan agar truk maupun kendaraan bertonase besar untuk sementara tidak melintasi ruas jalan tersebut, terutama di titik yang rawan longsor. Jika tidak, maka akan mempercepat jalan tersebut rusak dan longsor.

“Jalan Ikan Foti menjadi satu-satunya jalur yang dilewati setiap hari oleh masyarakat baik dari maupun ke Kupang sehingga kami meminta Pemerintah Provinsi melalui Dinas PU segera perbaiki. Kalau tidak, maka perekonomian masyarakat tujuh desa dan satu kelurahan ini terganggu sekali,” katanya. (mg-10/D-1)