PT. HJA Tak Bayar Gaji, Puluhan Buruh Nginap di Nakertrans TTU

berbagi di:
img-20191011-wa0059

 

 

 

Gusty Amsikan

Merasa hak-haknya tak kunjung terbayarkan, puluhan karyawan PT. Happy Jaya Abadi mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur.

Mereka meminta pemerintah memperjuangkan hak-hak mereka selama sebulan yang tak kunjung dibayar PT. Happy Jaya Abadi.

Informasi yang dihimpun VN di lapangan hingga Jumat (11/10) malam ini, sebanyak 44 pekerja yang didatangkan dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jambi oleh seorang mandor PT.Happy Jaya Abadi, Febry Nugroho, sejak 27 Agustus lalu, hingga kini pihak kontraktor enggan melunasi hak-hak mereka. Bahkan, ada sejumlah pekerja yang hingga kini belum mendapatkan upah sepeserpun dari pihak perusahaan sejak mulai bekerja di awal September lalu.

Koordinator pekerja, Sukarno, menuturkan awal perjanjian kerja yang disepakati pihak perusahaan bersama mandor, Febry Nugroho yang telah meninggal dunia pada 3 Oktober 2019 lalu, dengan hitungan upah harian bagi tukang Rp.160.000-170.000 terhitung 8 jam kerja. Jika ditambah waktu lembur 2 jam maka perusahaan akan menambah upah hingga Rp.210.000-220.000. Sementara hitungan upah bagi buruh berbeda dengan upah para tukang. Para buruh dihitung Rp.125.000, dan Rp.160.000, perhari jika ditambah lembur 2 jam.

Menurut Sukarno, sesuai perjanjian kerja yang disepakati bersama, pembayaran upah bagi pekerja dilakukan setiap dua minggu sekali. Namun, pembayaran tersebut hanya berjalan lancar pada dua minggu pertama. Itu pun tidak semua pekerja terbayarkan. Parahnya lagi, ada pekerja yang memulai bekerja terhitung sejak 10 September 2019 hingga hari ini hak-haknya belum diperoleh.

Keluhan senada disampaikan pekerja lainnya, Narso Basuki. Menurut Basuki, sebelumnya para pekerja berupaya menemui kontraktor pelaksana, Sutrisna. Dalam pertemuan itu pihak menyampaikan keluhan terkait upah mereka yang tak kunjung dibayar. Sayangnya, pihak kontraktor malah menolak memenuhi permintaan mereka. Sang kontraktor malah meminta mereka untuk bekerja jika ingin memperoleh upah untuk kebutuhan serta biaya pemulangan mereka ke tempat asal masing-masing. Apabila para pekerja hanya berharap dari hak-hak mereka sebelumnya, maka pihaknya tak menjamin dapat terealisasi.

“Kontraktor pelaksa beralasan harus telpon bos Hemus dulu karena bos saat ini berada di jawa. Kalau kalian mau dapat upah untuk biaya pulang ke jawa harus kerja dulu. Kami harap pemerintah melalui Dinas Nakertrans bisa memperjuangkan hak-hak kami karena tidak ada pilihan lain yang bisa kami lakukan untuk mendapat hak-hak kami,” pintanya.

Menanggapi hal itu Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten TTU, Bernadinus Totnay, mengatakan
setelah menerima pengaduan tersebut Pihaknya akan mengambil keterangan para pekerja tentang topik masalah yang diadukan. Selanjutnya pihak dinas akan menyurati PT.Happy Jaya Abadi yang mempekerjakan untuk dilakukan mediasi.

“Tadi via telepon saya sudah bicara dengan koordinatornya, hari ini kita buatkan berita acaranya dan pada hari Senin kita akan keluarkan surat panggilan kepada PT.Happy Jaya Abadi untuk dimediasi,” pungkasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, PT. Happy Jaya abadi merupakan pemenang tender pembangunan ruas jalan dua jalur ringroad Unimor-Kilometer 5 arah Atambua dengan volume masing-masing 4,5 kilometer sehingga total sepanjang 9 kilometer. Saat ini tengah dikerjakan oleh pihak kontraktor pelaksana, Sutrisna, namun pekerjaan tersebut diduga milik Direktur Utama PT.Sari Karya Mandiri, Hironimus Taolin. (bev)