PT. SAK Didesak Untuk Tidak Beroperasi Di Nagekeo

berbagi di:
img-20191116-wa0008

Tampak Ketua DPRD Nagekeo Marselinus Fabianus Ajo Bupu didampingi Wakil Ketua DPRD Nagekeo Yosefus Dhenga dan Wakil Ketua DPRD Nagekeo Kristianus Dua Wea bersama anggota DPRD Nagekeo yang lainnya saat menerima kedatangan para demonstran dari FRB di dalam ruang paripurna DPRD Nagekeo.

 

 

 

Bernard Sapu

Ratusan warga yang tergabung dalam aliansi Forum Rendu Bersatu (FRB) turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati, Kantor DPRD Nagekeo dan Kantor Polsek Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT.

Mereka mendesak agar pemerintah menutup dan menghentikan aktivitas kontraktor yang mengambil material milik PT. Surya Agung Kencana (SAK) yang berlokasi di wilayah Rendu yang kerapkali meresahkan warga di wilayah tersebut, Kamis (14/11).

Aksi demonstrasi ini merupakan bentuk kekesalan warga atas meninggalnya dua pasutri pengendara sepeda motor atas nama Damianus Doze (52) dan Paulina Rikes (50), akibat terlindas mobil dum truk yang memuat material milik PT SAK yang berada tepat di ruas jalan Aemali-Danga pada tanggal 7 November Tahun 2019 beberapa waktu lalu.

Kedatangan peserta aksi diterima pimpinan DPRD Kabupaten Nagekeo yakni Ketua DPRD Nagekeo Marselinus F. Ajo Bupu, Wakil Ketua DPRD Yosefus Dhenga dan Wakil Ketua DPRD Kristianus Dua Wea, bersama anggota DPRD lainnya yang berada di Kantor DPRD.

Mereka berdialog bersama dengan Pimpinan DPRD dan anggota DPRD Nagekeo di dalam ruang rapat paripurna.

Pastor Paroki Kristus Raja Jawakisa, Pater Kamilus Dona Sopi , Cp, yang merupakan penanggung jawab aksi mengatakan lalu lalang pengangkutan materia membuat kecelakaan rawan terjadi dan polusi udara tidak di wilayah Rendu, Kecamatan Aesesa Selatan.

Pater Kamilus menjelaskan, kehadiran PT SAK di wilayah Kecamatan Aesesa Selatan, tepatnya di Rendu telah membuat ratusan umat resah, pasalnya dengan kejadian kecelakaan lalu lintas tersebut seluruh masyarakat di wilayah tersebut yang hendak ke kebun maupun ke sawah sangat takut, bahkan enggan beraktivitas lagi.

Selain itu, lanjut Pater Kamilus, PT SAK tidak hanya menumpukkan material saja di wilayah tersebut, namun juga merusak ekologi daerah aliran sungai di seputaran Kampung Boa Jeru dan terjadinya polusi udara tidak sehat bagi umat yang serta mengganggu aktivitas kerohanian umat Allah yang hendak berdoa di Gua Maria karena Gua Maria tersebut selalu digunakan untuk berdoa bagi umat Allah di wilayah tersebut.

Pater Kamilus menyampaikan, Gua Maria lebih dahulu berada dan dibangun ditempat tersebut dan Gua Maria tersebut setiap tahun selalu dimanfaatkan oleh umat untuk berdoa, namun sekarang tidak bisa dimanfaatkan oleh umat Allah karena kehadiran tumpukan material milik PT SAK tersebut. Banyak material yang berceceran di sepanjang jalan yang mengganggu kenyamanan para pengendara.

“Bahkan lokasi yang sering digunakan untuk ritual adat Tau Nuwa terhambat, dan pernah terjadi tenggelamnya dua orang anak kakak-beradik dari Kampung Degho pada dua tahun lalu diakibatkan adanya pengerukan material pada daerah aliran sungai. Maka pada hari ini kami datang dan kami meminta kepada pihak Pimpinan DPRD Nagekeo dan juga Pemerintah Daerah Nagekeo agar PT SAK segera ditutup total dan tidak boleh beraktivitas di Nagekeo. Sebagai tokoh umat dalam gereja serta pembawa misi kemanusiaan, misi solidaritas dan misi ekologis yang akan selalu menemani umat Allahnya, maka kami mendesak PT SAK segera ditutup total dan tidak boleh beraktivitas di Nagekeo,”tegasnya.

Hal senada disampaikan pula,Ketua Forum Rendu Bersatu (FRB) Donatus Djogo.

Menurutnya, ruas jalan Aemali-Danga merupakan ruas jalan provinsi kelas III C sehingga hanya bisa digunakan oleh kendaraan kecil dan menengah dengan muatan yang volumenya terbatas.

“Itu diatur dalam Undang-undang nomor 22 tahun 2009 pasal 19 ayat 2 huruf C yang menerangkan kendaraan dengan berbobot dan muatan sumbu terberat diatas 8000 kg dengan lebar mekebih 2,1 meter, tinggi 3,5 meter dan panjang melebihi 9 meter dilarang melintasi julur jalan kelas III C, namun realitanya jalan ini masih dilalui oleh kendaraan besar berkapasitas over tonase,”paparnya.

Akibatnya, badan jalan cepat rusak dan ukuran mobil tersebut pas dengan badan jalan sehingga kendaraan kecil dan menengah ingin melewati jalan tersebut tidak bisa karena telah ditutup oleh kendaraan yang berkapasitas besar itu, disitulah yang kerap terjadi kecelakaan lalulintas seperti yang dialami oleh pasutri kemarin.

Donatus juga membacakan beberapa poin tuntutan dari FRB yang tertuang dalam pernyataan sikap yakni, segera menghentikan kendaraan over tonase yang melintasi jalur Aemali-Danga. Segera melakukan pelebaran ruas jalan Aemali-Danga. Segera melakukan proses hukum seadil-adilnya kepada sopir truk yang menewaskan pasutri tersebut. Segera memberikan bantuan sosial kepada anak-anak dari orang tua korban kecelakaan lalulintas, khususnya biaya pendidikan dan kesehatan sehingga masa depan mereka tidak terabaikan. Segera menghentikan aktivitas PT SAK maupun pihak kontraktor yang lain yang ingin membeli material milik PT SAK diwilayah Rendu.

“Kami dari umat Allah yang tergabung dalam FRB ini memohon kepada Pemda dan DPRD serta aparat penegak hukum di wilayah Nagekeo untuk segera memberikan jawaban serta tanggapan atas tuntutan kami ini. Namun jika Pemda dan lembaga DPRD Kabupaten Nagekeo serta aparat penegak hukum tidak segera menanggapi tuntutan kami dari FRB ini, maka bisa saja terjadi konflik sosial yang besar,”tegasnya.

Pantauan awak media ratusan umat Allah tersebut usai mendatangi dua lembaga yakni Kantor Bupati dan Kator DPRD Nagekeo, ratusan umat Allah yang tergabung dalam FRB ini melanjutkan aksi demonstrasi di Kantor Polsek Aesesa. Ratusan umat Allah ini beriringan dengan kendaraan bermotor dsn mobil serta dikawal ketat oleh aparat Kepolisian Sektor Aesesa serta TNI Koramil 05 Aesesa, dibawah pimpinan perwira penghubung Kodim 1625/Ngada, Mayor. Inf. Paulus Rowa. (bev/ol)