Puluhan Babi di Mabar Mati Mendadak

berbagi di:
TERNAK BABI: Beginilah kandang babi milik warga di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Gambar dibadikan pekan lalu.Foto:JOHN LEWAR/MI

 

TERNAK BABI: Beginilah kandang babi milik warga di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Gambar dibadikan pekan lalu.Foto:JOHN LEWAR/MI 

 

SEBANYAK 45 ekor babi milik warga di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dilaporkan mati secara beruntun akibat virus tidak dikenal. Peristiwa tersebut terjadi dalam dua pekan terakhir. Kebanyakan babi mati dalam keadaan bunting. Bahkan ada anak babi yang baru lahir juga ikut mati bersama induknya.

Kematian babi terjadi di Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo; Desa Watu Langkas, Tiwu Nampar dan Golo Bilas hingga ke beberapa desa lainnya di Manggarai Barat, peternak resah karena kejadian tersebut. Keresahan itu dikarenakan babi adalah hewan piaraan yang menjadi andalan warga dalam menjawab kebutuhan ekonomi warga. Babi bisa digunakan untuk biaya menyekolahkan anak termasuk untuk kelengkapan upacara adat.

“Kalau di RT 010, RW 001 Dusun Wae Sambi, Desa Batu Cermin, sudah 13 ekor mati beruntun. Bahkan babi harapan untuk dijual juga mati. Padahal sebelumnya tidak ada gejala. Babi-babi itu, setiap hari diberi makan,” ujar petenak babi bernama Epang Yohana, di Wae Sambi, Selasa (4/8).

Epang mengaku babi piaraannya sudah empat ekor yang mati. Dia mengaku takut mengonsumsi daging babi yang mati tidak wajar karena takut tertular virus dari babi.

“Begitu mati, kami langsung kubur karena kemungkinan mati karena virus. Sudah lapor petugas kesehatan hewan hingga kini belum ada solusi. Mereka mengimbau agar kami tidak konsumsi daging babi,” papar Epang.

Hal serupa juga diungkapkan Marten Martinus. “Gejala awalnya, saat diberi makan, babi tidak mau makan. Lalu, saat tidur berontak-berontak kemudian mati,” ungkap Marten. Padahal, imbuh Marten, makanan yang diberikan adalah makanan yang sama seperti sebelumnya. Lebih kaget lagi itu, enam ekor mendadak mati tanpa gejala.

“Ada enam ekor mendadak mati, tapi ini bukan hanya di kami. Warga lainnya juga mengalami hal yang sama. Babi mereka juga mati beruntun,” lanjutnya.

Belum Bisa Pastikan
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia Ney Asmon membenarkan hal tersebut. “Data yang kita punya adalah sudah 45 ekor babi milik warga mati. Sampelnya kita ambil untuk diperiksa di laboratorium Balai Besar Hewan di Bali. Kami sendiri belum bisa memastikan mati karena apa,” kata Ney Asmon.

Dia menyebut keterbatasan sarana pemeriksaan kesehatan pada hewan menyebabkan pihaknya harus mengirim sampel hewan yang mati guna diperiksa pada laboratorium di Provinsi Bali.

“Tetapi kami belum bisa memastikan ini virus babi atau apa. Flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) adalah virus yang menyerang hewan babi, baik babi hutan yang liar maupun babi lokal di peternakan. Flu ini berasal dari virus family Asfarviridae. Penyakit ini belum bisa diobati karena bukan disebabkan oleh bakteri. Kami masih menunggu hasil laboratorium,” pungkasnya. (mi/yan/E-1/ol)