Rangkul Medsos Atasi Terorisme

berbagi di:
Menko Polhukam Wiranto bersama Jaksa Agung Australia George Brandis (kiri) menjawab pertanyaan wartawan seusai melaksanakan pertemuan multilateral di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (29/7). -- ANTARA FOTO/Adwit B Pramono

 

 

Pertemuan Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF CBT) menyepakati akan membentuk FTF untuk memberantas terorisme. Selain itu, enam negara ini juga akan menggandeng perusahaan media sosial dalam melacak keberadaan teroris.

“Salah satu poin yang disepakati dalam pertemuan ini ialah mendorong kerja sama di antara enam negara dan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan media sosial, video file sharing, dan messaging,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, di Manado, kemarin.

Selain itu, enam negara akan mengajak semua perusahaan media sosial untuk ikut bersama memerangi terorisme dan radikalisme melalui pesan perdamaian dan toleransi.

Wiranto menegaskan pemerintah akan memaksimalkan peran media sosial untuk membendung pengaruh paham radikalisme dan terorisme. Hal itu ditempuh seiring marak perekrutan pendukung kelompok teroris dengan memanfaatkan media sosial.

“Jadi, perusahaan-perusahaan sosial media ini nantinya ikut membantu kami mencari keberadaan teroris atau menangkal secara langsung,” katanya.

“Jika dilihat, Islamic State (IS) memang kerap kali menggunakan media sosial untuk merek­rut anak muda bergabung dalam jaringan itu sehingga hal yang sama mestinya juga akan dilakukan untuk memproteksi anak muda kita dari propaganda mereka,“ kata dia pula.

Ia juga mengatakan Amerika Serikat akan membantu memerangi terorisme di Indonesia. “Semua negara terlibat dalam memerangi terorisme termasuk Amerika Serikat, khususnya di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Salah satu bentuk kerja sama melalui pertukaran informasi intelijen, penghentian aliran dana, pemberdayaan masyarakat moderat, dan penyebaran kontranarasi.

Ancaman riil
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan teroris asing (foreign terrorist fighters/FTF) merupakan ancaman riil di kawasan Asia Tenggara. Suhardi mengatakan, secara komprehensif semua masukan tentu bisa untuk mencari solusi supaya penyebaran dari pengaruh IS di Asia Tenggara bisa dieliminasi.

Deputi III Bidang Kerja sama Internasional BNPT Hamidin mengatakan situasi keamanan di Marawi pascaoperasi militer tidak hanya menimbulkan ketegangan di kawasan tersebut, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara kawasan di Asia Tenggara.

Untuk itu, kata mantan Direktur Pencegahan BNPT ini, perlu langkah antisipasi menghadapi kemungkinan eskalasi sel-sel teroris tersebut, khususnya setelah IS melemah di Irak dan Suriah. “Asia Tenggara menjadi target proyek kekhilafahan setelah Irak dan Suriah jatuh di tangan sekutu,” katanya.

Pertemuan Subregional Meeting Fo­reign Terrorist Fighters (FTF) and Cross Border Terrorism yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan dihadiri de­legasi dari Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Australia, dan Selandia Baru. (Ant/P-4)

 

 

Sumber: Media Indonesia