Ratusan Mahasiswa Mudik Demi Coblos Pemilu

berbagi di:
img_20190417_195400
Kekson Salukh
Ratusa  mahasiswa di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur rela pulang kampung atau mudik demi menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019.
Pantauan VN, Selasa, (16/4) mudik Pemilu 2019 membuat penumpang bus atau travel ke Kabupaten TTS, TTU, Atambua dan Malakan penuh bahkan membludak sehingga tak ada lagi bus dan travel yang bisa melayani transportasi ke beberapa kabupaten. Di sepanjang jalan Timor Raya mulai dari pertigaan lampu merah Oesapa, ratusan mahasiswa memadati jalan hingga ke perbatasan kabupaten dan kota Kupang tepatnya di jalur dua Bimoku, Jalan Herman Yohanes.
Tampak puluhan travel maupun bus tak seperti biasanya harus lama parkir di terminal bayangan Oesapa untuk mencari penumpang. Hari itu (kemarin) tampak kendaraan bus maupun travel sudah terisi penuh penumpang.Ada oknum-oknum sopir nakal yang memanfaatkan momen keramaian itu untuk menaikan tarif transportasi, ada juga yang karena trayek Kupang-Soe maka memilih untuk mengangkut penumpang dari Kupang ke Soe dua kali dalam sehari  dibanding sebelumnya hanya melakukan angkut muat sekali jalan.

Linda Liunoka, Mahasiswi Undana Kupang mengaku pulang karena ingin mengikuti Pemilu di kampung halaman di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Linda mengatakan kaget ketika sampai tempat parkir bus di Oesapa tidak ada lagi bus yang bisa ia tumpangi ke Kefamenanu padahal sudah menunggu sejak pukul 12.00  hingga pukul 16.00 Wita sementara antrian penumpang semakin banyak.

“Saya mau pulang ikut pemilu di Kefamenanu, tapi oto (mobil bus) semua sudah full penumpang, saya sudah tunggu lama ini,” ungkapnya.

Linda menambahkan ia sudah menunggu lama namun bersyukur ada keluarga yang ingin pulang kampung menggunakan mobil sehingga ia meminta tumpangan pulang walaupun  jalan baru akan berangkat pukul 18.00 Wita dan harus menunggu dua jam lagi.

Walaupun menunggu lama untuk mendapatkan transportasi pulang, menurut Linda  tidak masalah asalkan terpenting bisa memberikan hak politiknya hari ini. Linda meminta pemerintah provinsi NTT melalui dinas perhubungan harus menjadikan pengalaman ini sebagai bahan evaluasi sehingga ketika pemilu 5 tahun mendatang, pemerintah bisa menyediakan transportasi cadangan bagi masyarakat maupun mahasiswa yang ingin pulang ke kampung.

“Saya hanya berharap kepada pemerintah untuk bisa membahas hal ini karena penting pemerintah harus menyediakan transportasi cadangan jelang pemilu. Karena kalau libur hari raya atau apa kita tidak pergi tidak masalah, tetapi ini pemilu dimana suara hari ini menjadi penentu pembangunan bangsa ini lima tahun kedepan maka kalau tidak ada mobil transportasi maka kami tidak bisa memberikan pilihan politik kami,” ujarnya.

Hal yang sama di sampaikan Tarsi Nubatonis mahasiswa Hukum Undana Kupang. Ia mengaku pulang kampung untuk mengikuti pemilu di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menurut Tarsi, sudah menjadi kewajibannya untuk memilih presiden dan wakil presiden bersama wakil rakyat demi pembangunan Indonesia lima tahun mendatang.

Tarsi mengaku pemilu tahun merupakan kali kedua kedua ikut pemilu. Ia ingin memilih jagoannya sesuai track record dan visi misi sang calon untuk membangun Indonesia lima tahun mendatang.

“Bapa dengan Mama suruh pulang ikut pemilu di Soe makanya saya pulang biar ikut pemilu disana. Sebagai warga negara yang baik harus memilih. Ayo teman-teman ke TPS untuk memberikan pilihan politikmu, ajjaknya.

Martinus Laos, sopir tarvel asal Soe kepada VN mengaku jelang pemilu 2019 yang akan berlangsung hari ini, ia sudah antara jemput penumpang dari Kupang ke Soe dua kali dalam sehari. Sebelumnya ia hanya jalan sekali sudah masuk kembali garasi.

Menurut Laos, Pemilu 2019 membawa berkat tersendiri bagi dirinya, karena semakin ramai penumpang maka semakin banyak rejekinya. Ia mengaku mendapat pendapat 1 juta dalam sehari  jelang pemilu 2019.

“Saya sudah putar dua kali, bersyukur juga dengan adanya pemilu ini penumpang banyak yang pulang kampung. Saya sudah putar dua kali cuman semua mahasiswa yang saya muat,” tambahnya.

Laos menambahkan, walaupun ada teman sopir yang  memanfaatkan  kesempatam untuk menaikan tarif,  ia tetap terapkan tarif  sesuai standar biasanya Rp 50 ribu per orang dan diantar sampai rumah. (bev/ol)