Ribuan Wisatawan Batalkan Kunjungan ke NTT

berbagi di:
Para wisatawan yang selamat diamankan di kantor Badan SAR Labuan Bajo sambil menunggu pemeriksaan.

 

 

 

Rafael L. Pura

Merebaknya wabah virus korona turut berimbas pada aktivitas pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur, salah satunya ke pengusaha perjalanan pariwisata. Mereka harus menerima pembatalan kunjungan para wisatawan.

Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Nusa Tenggara Timur, Abed Frans, menyebut ratusan tiket perjalanan ke NTT telah dibatalkan para wisawatan, karena virus korona.

Abed menyebut, dampak dari penyebaran virus korona itu, bukan saja berdampak kepada pariwisata NTT dan Indonesia melainkan dunia. Seluruh dunia terkena dampak virus korona.

“Memang dari Januari itu kita mengalami “bencana” kalau mau dibilang setelah merebaknya virus korona. Banyak sekali pembatalan, sampai ribuan,” katanya kepada VN, Minggu (8/3).

Meskipun pemerintah telah memberikan intensif berupa tiket yang murah pun, kata Abed, hal itu belum bisa membantu memulihkan paranoid wisawatan terhadap virus korona. Untuk itu penurunan wisatawan sebagaimana yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS), Abed menyebut sebagai hal yang wajar.

Kebijakan pemerintah Indonesia, yang dimaksud Abed adalah pemberian intensif berupa diskon tiket pesawat domestik sebesar 30 persen mulai bulan ini. Kebijakan itu, untuk mendongkrak industri pariwisata yang tertekan karena dampak virus korona.

“Jadi impeknya sangat terasa, bukan saja di travel agen, tapi hotel restoran, kapal, pesawat semuanya mengalami penurunan. Jadi wajar kalau terjadi penurunan,” sebutnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawa, mengatakan penyebaran virus korona sangat berdampak kepada sektor pariwiwisata.

Salah satu penyebabnya, kata Wayan, karena wisatawan asal China tidak diberikan izin keluar, ditambah dengan kebijakan pemerintah
Indonesia yang mengehentikan sementara pemberian fasilitas bebas visa kunjungan dan visa on arival untuk warga negara China.

Selain wisatawan China, Wayan menyebut, berbagai kebijakan preventif yang diberlakukan oleh setiap pemerintah kabupaten, serta izin kesehatan yang sesuai, adalah sederatan pengaruhnya.

“Dampak korona bukan saja melanda kita, tapi pariwisata dunia, karena wisatawan yang berasal dari China, belum ada izin keluar maupun masuk NTT, pemerintah kabupaten juga menerapkan kebijakan preventif. Itu sangat berpengaruh,” sebutnya.

BPS NTT mencatat, tingkat penghuni kamar hotel berbintang di NTT pada Januari 2020 sebesar 39,26 persen, jumlah ini mengalami
penurunan jika dibandingakan dengan bulan Desember 2019 yang sebanyak 53,75 persen. Atau mengalami penurunan sebesar 14,49 persen.
Sementara rata-rata tingkat penghunian kamar hotel untuk tamu mancanegara, juga mengalami penurunan. Dari 2,88 hari per bulan Desember 2019 turun menjadi 2,66 hari di bulan Januari 2020.

Jumlah angkutan udara pun mengalami penurunan. Dari Desember 2019 sebesar 338,442 penumpang, turun menjadi 300,151 pada Januari 2020. Atau mengalami penurunan sebesar 11,31 persen. (mg-03/E-1)