Rp 151 Miliar Habis, Labuan Bajo Masih Krisis Air Bersih

berbagi di:
foto-hal-01-cover-antre-air-di-labuan-bajo

Warga Komplek Pertamina Pasar Baru, Labuan Bajo, Manggarai Barat, antre air bersih, Kamis (17/10). Foto: Gerasimos Satria/VN

 

Gerasimos Satroa

Kota wisata dunia Labuan Bajo dan sekitarnya sampai hari ini masih mengalami krisis air bersih. Warga harus antre air berjam-jam untuk bisa minum, mandi, dan memasak.

Krisis air bersih ini sangat ironis karena pemerintah setempat sudah menghabiskan anggaran untuk pembangunan instalasi air bersih. Pada 2013 lalu, proyek air minum bersih yang bersumber dari dana percepatan pembangunan Sail Komodo 2013 senilai Rp116 miliar seperti menguap tanpa bekas. Proyek ini hanya meninggalkan jaringan pipa air tanpa air.

Pemkab Manggarai Barat sejak beberapa tahun lalu melalui APBD II mengenlontorkan dana mencapai Rp35 miliar lebih untuk proyek serupa, namun warga Labuan Bajo dan sekitarnya masih juga mengalami krisis air bersih.
Beli Air
Warga Labuan Bajo, Robert Kenedi Diaz, Kamis (17/10), mengatakan, sejumlah hotel, restoran, dan warga di kota pariwisata itu, sampai saat ini masih terus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seharusnya, kata dia, Pemkab Mabar lebih responsif dalam mengatasi persoalan ini. Sebab, Labuan Bajo adalah kota wisata, yang setiap hari didatangi wisatawan dalam dan luar negeri.

“Sangat disayangkan kalau sampai hari ini Labuan Bajo masih krisis air bersih,” ujarnya.

Pelayanan air bersih yang ditangani PDAM Wae Mbeliling pun tidak sesuai harapan. Distribusi air yang tidak lancar menjadi keluhan warga sampai saat ini.

“Aneh, hampir setiap tahun ada proyek untuk air bersih di Kota Labuan Bajo, tapi hanya pajangan pipa kosong tanpa air,” kritik Robert.

Aktivis lingkungan di Labuan Bajo itu mengungkapkan bahwa warga dalam kota Labuan Bajo saja mengalami krisis air bersih, apalagi warga di desa-desa.

Dia mencontohkan warga Kampung Kenari, Menjaga, Cumbi, dan Kenari terpaksa mengambil air di kali yang juga menjadi kubangan kerbau. Untuk mandi dan cuci, warga berebutan dengan kerbau dan ternak peliharaan lainnya yang juga minum di kubangan yang sama.

“Padahal, air di Labuan Bajo disuplai dari mata air di Kampung Kenari, Desa Warloka,” ungkapnya.

Warga Komplek Pasar Baru Labuan Bajo, Elisabet Sanur yang ditemui saat menampung dan mengambil air dari pipa yang bocor di depan SPBU Pasar Baru, mengaku sudah dua tahun memanfaatkan air dari pipa air milik PDAM Wae Mbeliling yang bocor.

Ia mengaku senang dan bersyukur karena petugas PDAM tidak menutup pipa yang bocor itu sehingga bisa dipakai oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Elisabet sendiri untuk mencapai air dari pipa yang bocor itu harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Warga lainnya, Mansur Muda mengungkapkan, terkadang anggota keluarganya menghabiskan waktu sehari penuh untuk antre menimba air yang keluar dari pipa yang bocor.

Di sore hari, antrean panjang sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 23.00 Wita di titik pipa yang bocor. Laki-laki maupun wanita semuanya antre untuk mendapatkan air. Dan, air yang diperoleh dari pipa yang bocor itu hanya untuk air minum dan masak.
Sementara untuk MCK (mandi, cuci dan kakus) warga harus membeli air dari mobil tangki seharga Rp70 ribu–Rp100 ribu untuk sati fiber ukuran 1.000 liter.

Warga Mberata, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Martinus Jeramat mengeluhkan bantuan suplai air bersih yang minim dari pemerintah daerah di puncak musim kemarau saat ini. Kemarau panjang menyebabkan debit air menurun drastis.

“Sudah kering, suplai air tidak ada dari pemerintah daerah. Warga terpaksa manfaatkan air kali,” beber Martinus.
Menurut Martinus, saat ini warga Desa Macang Tanggar sangat membutuhkan air bersih setelah sumber-sumber air seperti sumur, mata air yang ada sudah kering akibat kemarau panjang.

Dia berharap pemerintah kabupaten melalui PDAM merespons keluhan warga akan kesulitan air bersih ini. “Masyarakat mengalami kekeringan, suplai air bersih sangat dibutuhkan. Karena kalau mencari air sangat jauh,” kata Martinus. (sat/S-1)