Saat Ekonomi Terpuruk tidak Boleh Kurangi BBM

berbagi di:
James Adam Pengamat Ekonomi Regional NTT
James Adam
Pengamat Ekonomi Regional NTT

 

Stef Kosat

PENGAMAT ekonomi Dr James Adam mengatakan, seharusnya dalam tatanan normal baru dimana kondisi ekonomi masyarakat masih terpuruk tidak boleh ada pengurangan kuota bahan bakar minyak (BBM). Sebab, pemerintah sedang berusaha memulihkan kondisi ekonomi.

Dosen Unkris Artha Wacana Kupang itu mengaku ikut mengalami dampak pembatasan BBM sekitar sebulan terakhir, khususnya premium. Ia sempat mempertanyakan mengapa ada pembatasan premium di SPBU Pulau Indah Kota Kupang. Para operator di SPBU menjawab bahwa biasanya mereka mendapat pasokan 16 kiloliter premium/hari dari Pertamina, namun saat ini hanya dipasok 8 kl premium/hari.

Secara umum, kata dia, dalam kondisi darurat akibat pandemi Covid-19, tidak boleh ada pembatasan BBM. Karena kebutuhan masyarakat tidak pernah terbatas, apalagi premium maupun solar. Lalu, kalau ada pembatasan, mestinya Pertamina terbuka kepada publik.

“Supaya masyarakat tidak dibuat pusing karena keliling semua SPBU hanya untuk mencari BBM subsidi karena ternyata ada kebijakan internal Pertamina. Asumsi saya, bisa saja ada kebijakan Pertamina agar Pertalite dan Dexlite pengganti solar keluar lebih banyak, kan begitu. Bisa juga pemilik SPBU mengurangi deposito uang di Pertamina sehingga suplai BBM dikurangi,” ucapnya.

Tetapi kejadian ini sudah sebulan, maka ini bisa dikatakan kebijakan internal PT Pertamina khusus untuk NTT agar ada pembatasan kuota. Namun, saat aktivitas masyarakat mulai normal setelah beberapa bulan terhenti akibat pandemi, seharusnya tidak boleh ada pembatasan BBM.

Hal ini bisa menyebabkan persoalan baru, dimana ketika terjadi musim hujan beralasan kapal terlambat karena gelombang. Sementara saat ini tidak ada persoalan terkait alam.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi NTT harus memberi perhatian serius terhadap kelangkaan BBM ini karena ini menyangkut kebutuhan masyarakat banyak. Di saat aktivitas ekonomi masyarakat baru mulai bergerak pulih, Pertamina jangan mengurangi pasokan BBM yang memicu kelangkaan.

Sebagai contoh, pada bulan Maret 2020 lalu, pembelian BBM jenis premium dan solar di semua SPBU di Kota Probolinggo, Jatim dibatasi. Pembatasan dilakukan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Namun, pembatasan diatur secara khusus melalui surat edaran (SE) Wali Kota Probolinggo mengenai pembatasan pembelian premium dan solar bersubsidi. Tujuannya, tidak lain sebagai bagian dari upaya menghadapi merebaknya wabah virus korona. (E-1/yan/ol)