Saksi Sebut Unggahan Buni Yani Sebabkan Kegaduhan

berbagi di:
Buni Yani

 

PERSIDANGAN Buni Yani yang didakwa telah melakukan ujaran kebencian dan pemotongan video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali digelar oleh Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (25/7).

Sidang keenam ini mendengarkan keterangan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Barat. Di awal, JPU mengajukan tiga saksi pada persidangan kali ini. Namun, hanya dua yang hadir, yakni Nong Darol Mahmada dan Muhamad Guntur Romli.

Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim, Nong menyebut Buni Yani telah memprovokasi karena memotong video Ahok lalu mengunggah di akun Facebook milik terdakwa.

“Saya ingat Buni Yani memotong video. Sangat provokatif, di awal, judul meski tanda tanya, sampai isi. Akhir kalimat juga katanya ‘akan terjadi sesuatu’. Ini sangat provokatif,” kata Nong dalam persidangan tersebut.

Nong meyakini video yang diunggah Buni Yani telah dipotong karena dirinya telah melihat video Ahok versi yang utuhnya. Dalam video Ahok yang utuh tersebut, Nong tidak melihat adanya penodaan agama seperti yang diungkapkan terdakwa dalam akun media sosial tersebut.

Hal ini pun, tambah Nong, terbukti dari situasi yang tetap kondusif saat kunjungan Ahok ke Kepulauan Seribu, tempat pengambilan video tersebut.

“Tidak ada kericuhan, tidak ada polemik. Berita di media juga positif,” ujarnya.

Sebagai orang yang saling berteman di akun Facebook, Nong mengaku langsung mengingatkan Buni Yani akan dampak unggahan tersebut. Nong merasa khawatir posting-an yang bertuliskan ‘penistaan agama’ itu akan membuat kegaduhan hingga mengancam persatuan dan kesatuan.

“Yang namanya istilah penistaan agama, di negeri kita sangat sensitif. Ketika membaca, saya sudah enggak enak banget. Ini sikap aware terhadap persatuan dan kesatuan,” katanya.

Setelah diingatkan, lanjut Nong, Buni Yani tetap mempertahankan alasan pengunggahan video tersebut.

“Saya melihat Buni Yani sadar (saat mengunggah). Dia tetap bertahan dengan isi posting-an itu, meskipun saya jelas menerangkan aslinya enggak seperti itu,” katanya.

Kekhawatiran yang dirasakannya, tambah Nong, terbukti dengan banyaknya tanggapan dari sesama pengguna Facebook di akun milik Buni Yani. Selain itu, selang beberapa lama kemudian, dirinya juga menerima potongan video tersebut yang turut disebarkan di aplikasi pesan WhatsApp.

“Siangnya, video itu juga viral dan masuk ke media mainstream. Setelah itu, kita melihat banyak laporan berdasarkan potongan video itu, ada laporan ke polisi yang waktu itu mengatakan bahwa penistaan agama, di Jakarta terjadi aksi karena adanya tuduhan soal penistaan agama itu,” bebernya.

Hal serupa diungkapkan saksi lain yang dihadirkan JPU, yakni Muhamad Guntur Romli. Menurut Guntur, saat Ahok mengucapkan kata-kata yang ada dalam video tersebut, tidak ada kegaduhan seperti yang dituliskan Buni Yani dalam unggahan di Facebook-nya.

“Saya tidak melihat ada kegaduhan saat Ahok ngomong itu,” katanya.

Dia pun menyebut dalam video Ahok yang utuh, tidak ada penodaan agama seperti yang dituliskan Buni Yani. Guntur justru menilai, kegaduhan dan ramainya pemberitaan media tentang penodaan agama oleh Ahok tidak terlepas dari unggahan Buni Yani di Facebook.

“Menulis status Facebook itu sama dengan membuat orang lain marah. Itu salah satu bentuk provokasi,” kata Guntur yang juga merupakan suami Nong.

Guntur menilai, unggahan Buni Yani di Facebook ini bisa mengusik kerukunan umat beragama. Sebagai aktivis kerukunan umat beragama, Guntur merasa tertantang untuk melawan upaya provokasi seperti ini.

“Saya selama ini aktif dalam kerukunan umat beragama. Kalau ada isu orang Kristen dianggap menodai, ini sangat berbahaya terhadap kesatuan. Hubungan antaragama bisa terganggu bila ada tuduhan ini,” katanya seraya menyebut banyaknya aksi demo yang menuduh penodaan agama ini sebagai bukti kegaduhan yang diakibatkan unggahan Buni Yani.

Menanggapi keterangan saksi, Buni Yani dengan tegas membantahnya. Ia justru menuduh Guntur Romli sebagai penyebab viralnya video yang dia unggah tersebut.

“Teman saya di Facebook 2.600 orang, saya posting tengah malam, jadi sedikit yang komentar, karena saat orang-orang sudah tidur. Penglihatan saya, setelah saksi (Guntur) screenshoot video, lalu caption saya sebagai provokator, setelah orang melihat capture-an Guntur Romli, baru jadi viral. Orang penasaran, datang ke blog saya,” katanya seraya menyebut dirinya sudah melaporkan Guntur ke polisi terkait hal ini.

Kuasa hukum Buni Yani, Aldwin Rahadian, meragukan keterangan saksi yang menyebut terdakwa telah mengedit video. Selain karena video tersebut hanya diunduh dari media NKRI, menurutnya, tidak ada satu pun saksi yang melihat proses pengeditan oleh Buni Yani.

“Satu pun tidak ada yang melihat Buni Yani memotong video. Keterangannya tidak ada yang sesuai dengan di BAP,” katanya.

Selain itu, pihaknya menilai keterangan saksi tidak netral karena merupakan tim sukses Ahok saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

“Saksi fakta ini latar belakangnya timses Ahok, jadi motifnya lain. Jangan mempertaruhkan nasib orang lain, kita berbicara hukum,” katanya.

Aldwin pun menilai, yang membuat video Ahok ramai beredar di masyarakat ialah Muhamad Guntur Romli karena telah menyebarkan tangkapan unggahan Buni Yani di Facebook.

“Ketia Buni meng-uploadcaption, biasa-biasa saja. Tapi ketika di-screenshoot, ini yang membuat viral. Ini diduga oleh Guntur Romli. Mestinya Guntur yang ditangkap, dia yang membesarkan screen capture,” katanya.

Persidangan akan kembali digelar pekan depan. Agendanya masih sama yakni mendengarkan keterangan saksi dari JPU. Menurut JPU, Andi M Taufik, keterangan saksi ini sangat mendukung sekali untuk penerapan Pasal 28 maupun Pasal 32. Sebab, kedua saksi tersebut menerima langsung dari unggahan Buni Yani di Facebook.

“Terdakwa juga membenarkan. Jadi keterangan tadi sangat mendukung dakwaan,” katanya.

Pihaknya pun akan kembali menghadirkan empat saksi fakta serta enam saksi ahli. Salah satu saksi fakta yang akan dihadirkan rencananya Ahok.

“Kita upayakan empat, termasuk Ahok kalau memang bisa,” katanya. (OL-2)

Sumber : Antara