Sebelum Meninggal, Edu Nabunome Berpesan agar Dikuburkan di Tanah Kelahiran

berbagi di:
img-20201015-wa0032

 

Sang Istri Marcelina Ina Piran saat memegang foto almarhum suami tercinta Eduardus Nabunome usai jenazah tiba di Kargo Bandara El-Tari Kupang, Kamis (15/10) pagi.

 

 

 

 

Mickael Umbu

 
SUASANA pagi di Kargo dan Pos Bandara El-Tari Kupang pada Kamis (15/10) tidak seperti biasanya, isak tangis keluarga sesekali terdengar saat pesawat yang membawa jenazah pelari legendaris asal NTT, Eduardus Nabunome, tiba sekitar pukul 06.30 Wita di Kargo dan Pos Bandara El-Tari Kupang.
Eduardus Nabunome atau Edu Nabunome merupakan atlet terbaik yang berasal dari Desa Kaeneno, Kecamatan Fatmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Ia dikabarkan menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 12 Oktober 2020 sekitar pukul 20.21 WIB di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
Saat peti jenazah sang atlet tiba pada pintu keluar, isak tangis keluarga pecah membuat suasana di lokasi tersebut menjadi haru. Para penyambut yang ikut menjemput jenazah terbawa sedih dengan melihat keluarga yang tak henti-henti meneteskan air mata melihat orang yang tercinta sudah terbujur kaku di dalam peti ukir berwarna putih itu.

 

Salah satu kerabatnya, Alex Nabunome yang merupakan kakak dari Eduardus ketika ditemui VN di Kargo Bandara El-Tari Kupang, Kamis (15/10) pagi mengungkapkan, Edu sebelumnya pernah berpesan bahwa dirinya jika sudah meninggal kelak tidak ingin dikuburkan di tanah rantau.

 

“Dia (Edu) berpesan kepada kami bahwa jika nanti dirinya telah tiada jasadnya tidak mau dikuburkan di tanah rantau tetapi harus dikuburkan di tanah kelahiran kampung halamannya,” Ujarnya.

Permintaan ini disampaikan almarhum karena dia begitu mencintai tanah kelahiran.
“Dia (Edu) dia selama ini di jakarta tetapi dia begitu mencintai dan menghormati tanah kelahiran terutama Provinsi Nusa Tenggara Timur sehingga waktu itu dia berpesan untuk kembali jika nanti sudah tiada,” Ungkap Alex.

Alex menyampaikan, keluarga besar sangat bangga atas prestasi yang pernah terukir dari almarhum.

“Ini merupakan kebanggaan kami sebagai keluarga karena salah satu anggota keluarga bisa mengharumkan nama baik melalui prestasi di bidang olahraga, ini juga merupakan dukungan dari Pemerintah Provinsi yang sudah banyak mendukung dalam karier almarhum,” Beber Alex.

Alex menambahkan, keluarga berencana akan memakamkan almarhum keesokan harinya. “Kami sudah lama berpisah dengan almarhum untuk itu kami masih ingin bersama almarhum satu malam dulu sebelum dimakamkan,” Ujarnya.
Untuk diketahui, Edu lahir di Timor Tengah Selatan (TTS), NTT pada 21 April 1968. Pada masanya, ia adalah pelari dengan raihan prestasi di nomor 10.000 meter. Edu mencatatkan 14 rekor lari jarak jauh dan menengah pada 1980-1990. Dari jumlah itu, 5 rekor nasional masih bertahan atas namanya.

Almarhum Edu meninggalkan seorang istri, Marcelina Ina N Piran dan enam orang anak.

Pantauan VN, kedatangan jenazah Eduardus di Kargo dan Pos Bandara Internasional El-Tari Kupang disambut perwakilan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Kepala Dispora NTT, Ketua Koni NTT, Ketua Pengprov PASI NTT dan seluruh atlit Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP), Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) dan Pusat Pendidikan dan Latihan Daerah (PPLD). (Yan/ol)