Secarik catatan Atoin Meto Raja Boti

berbagi di:
img-20200920-wa0008

 

Oleh Irjend Pol Hamidin 

Mantan Kapolda NTT

 

 

 

KEHANGATAN Raja dari tanah kering
sungguh ini pengalaman yang sangat menarik saat kunjungan kerja terakhir penulis di NTT, khususnya di Kerajaan Boti dalam rangka sosialisasi pencegahan Covid-19.
Sang Raja (Namah Benu) memberikan kenang-kenangan seekor ayam jago warna jalak birik hitam putih dengan pesan khusus untuk agar ayam tersebut dirawat baik-baik. Menghargai pesan Sang Raja , ayam tersebut sekarang penulis buatkan sangkar khusus, ditempatkan di tengah taman yang bisa dilihat oleh semua sahabat yang bertamu.

Sejatinya ayam itu adalah ayam kampung biasa, tidak ada yang lebih istimewa, gemuk dan berbulu tebal. Tapi bagi penulis tentu ayam ini terasa sangat khusus. Oleh-oleh dari seorang raja abad milenium. Raja yang buta aksara tidak bisa baca tulis, tidak bisa berbahasa Indonesia. Raja yang rakyatnya tidak ada sekolah. Raja yang hubungan emosional, psikology dan hirachki sosial yang masih sangat mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan yang erat dan ketat. Bisa dibayangkan betapa Komunikasi antara Penulis dan Raja (Namah Benu) serta rakyatpun masih dilakukan dengan bahasa tubuh dengan sedikit dibantu oleh Babinkamtibmas yang kebetulan memahami bahasa Dawan.

Saat seorang teman bertamu di rumah penulis dan menanyakan apa istimewanya ayam itu? Penulis jawab – itu ayam Raja – Raja Boti. Dia, sang tamu bingung dan bertanya, dimana Kerajaan Boti itu? Penulis jawab-itu ada di NTT dan di ” hati Penulis”. Penulis merasa bahwa saat berkunjung ke kerajaan boti, penulis merasa nyaman dan damai serasa seakan orang lokal. Keakraban, penerimaan, tutur kata, penghormatan, saling menghormati tetasa begitu tulus. Sehingga kalau semula penulis berniat kunjungan hanya untuk dua jam berubah menjadi seharian dan baru pulang menjelang sore. Malah sempat penulis diajak berjoget bersama raja yanh kemudian penulis jadikan lipsting lagu pencegahan Covid-19. Itulah kehangatan dari Raja Boti sebagai bagian dari suku terbesar di Pulau timor atoin meto yang berarti “orang-orang dari tanah kering” Kerajaan.

Kerajaan tradisional di abad Milenial
Sesuai dengan nama Kerajaannya, suku Boti adalah nama asli suku asli di pulau Timor Atoin Meto di NTT. Kampung kerajaan Boti terletak hanya 40 km dari kota, So’e kabupaten TTS. Secara administrati kerajaan ini disebut desa Boti , terletak di kecamatan Kie, Terpencil nun jauh di tengah pegunungan.
Desa Boti masih dapat dikategorikan jauh dari peradaban modern dan perkembangan zaman kekinian. Tidak ada listrik. Tidak ada sekolah. Tidak mengenal Radio, televisi, telpon, apalagi telpon genggam. Kampung adat suku Boti terbagi menjadi dua, yakni Boti Dalam dan Boti Luar. Boti Dalam didiami oleh 77 Kepala Keluarga 319 jiwa, dan Boti Luar sekitar 2.500 jiwa. Boti Dalam adalah tempat domisili Raja ( Namah Benu ) yang masih mempertahankan, mewarisi, dan mempraktikkan tradisi lokal. Agama asli mereka disebut Uis Neno Ma Uis Pah dewa langit dan bumi. Raja tinggal dan hidup di areal seluas 3.000 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu. Sedangkan Boti Luar sudah melebar, tersebar dan sudah memeluk agama samawi. Mereka menganut agama Kristen Protestan dan Katolik.
Saat penulis memperkenalkan diri, menjelaskan misi, penulis menemukan beberapa hal yang penting, dan pembelajaran yang menqrik dari suku Boti, diantaranya ; Suku Boti Meniadakan sekolah formal, tujuan jangka panjangnya adalah untuk mempertahankan adat Boti.
Ada pembelajaran taat hukum (lessen voor de wet). Bila orang mencuri ternak misalnya, maka raja dan masyarakat akam memberi hadiah sang pencuri ternak dengan ternak yang sama. Mencuri pisang maka pencuri akan diberi hadiah pisang oleh raja dan masyarakat. Rakyat kerajaan Boti
tidak mengenal textil modern kecuali yang mereka tenun sendiri dari bahan alam. Mereka juga pantang menerima bantuan pemerintah atau pihak manapun, karena alam sudah menyiapkan segalanya.

Penanggalan yang unik dimana sepekan bermakna 9 (sembilan) hari. Hari pertama disebut Neon Ai atau hari Api adalah hari yang baik, terang dan cerah namun bisa juga menghadirkan malapetaka berupa kebakaran. Hari ke dua ; Neon oe disebur hari air, bermakna menggunakan air secara bertanggung jawab. Hari ketiga disebut Neon Besi atau hari besiatau peringatan untuk hati-hati dalam menggunakan benda tajam seperti pisau, parang, tombak dan pedang. Keempat Neon Uis Pah ma Uis Neno hari dewa Bumi dan Dewa langit adalah bagi semua makhluk hidup untuk memuliakan Pencipta dan Pemelihara hidup serta pemangku dan pemberi kesuburan. (Amoet Apakaet, Afafat ma Amnaifat; Manikin ma Oe,tene he Namlia ma Nasbeb). Hari Kelima hari Neon Suli atau hari perselisihan adalah hari untuk menyelesaikan setiap perselisihan adalah hari untuk menyelesaikan setiap Hari KeenamNeon masikat atau hari berebutan adalah hari kesempatan untuk meraih sukses dalam hidup. Hari Ketujuh Hari naek atau hari besar persaudaraan yang justru perlu dijauhi karena ada kecenderungan terjadi sengketa dalam keluarga maupun dengan sesama tetangga atau masyarakat. Hari kedelapan Neon Liana atau hari anak anak hari bagi anak-anak untuk mengekspresikan kebahagiaan lewat bermain dan dan bergembira. Orang tua tidak boleh membatasi atau melarang anak-anak dalam beraktivitas dan hari Kesembilan hari tokos atau hari yang tenang dan teduh, keheningan untuk merefleksikan kembali makna hidup, hubungan sesama, hubungan alam dan sang pencipta dalan memelihara hidup.

Itulah sekilas kenangan kehangatan, petunjuk moral, loyalty, kebanggaan dan secuil catatanku terhadap Raja Boti dan rakyatnya. (*/ol)