Sekolah Tua di SBD Memprihatinkan

berbagi di:
USAK PARAH: Salah satu ruangan Sekolah Dasar Masehi (SDM) Waiha-Kodi Blaghar yang dibangun tahun 1931 dan baru sekali direhab tahun 2013. Tampak kepala sekolah menunjukkan plafon ruang kelas dalam kondisi ruska parah. Gambar diabadikan Sabtu (1/8). (Foto:Engky Keban)

RUSAK PARAH: Salah satu ruangan Sekolah Dasar Masehi (SDM) Waiha-Kodi Blaghar yang dibangun tahun 1931 dan baru sekali direhab tahun 2013. Tampak kepala sekolah menunjukkan plafon ruang kelas dalam kondisi ruska parah. Gambar diabadikan Sabtu (1/8). (Foto:Engky Keban)

 

ENGKY KEBAN

SEBAGAI salah satu daerah yang digadang-gadang menjadi pusat ekonomi di masa mendatang, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) belum sepenuhnya siap. Tampak dari sekolah-sekolah tua yang kondisinya sangat memprihatinkan akibat minim perhatian pemerintah.

Salah satunya di kecamatan Kodi Blaghar. Bagaimana tidak, dari beberapa sekolah yang dikunjungi VN, Sabtu (1/8), bangunannya jauh dari kata layak. Beberapa di antaranya sudah rusak parah.

Seperti di Sekolah Dasar Masehi (SDM) Waiha-Kodi Blaghar. Sejak dibangun 1931, Sekolah Dasar Masehi (SDM) Waiha-Kodi Blaghar baru sekali direhab pada tahun 2013. Selebihnya sekolah yang kini mengakomodir siswa 238 belum sekalipun mendapat perhatian pemerintah daerah.

Banyak ruangan yang sudah tidak layak digunakan lagi. Banyak kaca yang sudah pecah. Pintu kelas pun sudah rusak.

Kepada VN, Sabtu (1/8) pagi, Kepala SDM Waiha, Adriana Herlina Bili mengaku bahwa sebagai salah sekolah yang tertua di Kodi Blaghar seharusnya sekolah tersebut bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Namun hingga kini bantuan itu belum kunjung diterimanya.

“Kami sudah masukkan proposal untuk rebab tapi belum ada tanggapan. Sejak dibangun rehab baru satu kali di satu unit di bangunan ini tapi sekarang bangunan itu sudah mulai rusak,”katanya.

“Kemarin ada orang dinas lakukan pengukuran dan disampaikan bahwa tahun 2021 ada bantuan ke sekolah ini. Kita berharap itu betul karena memang kami sangat butuh untuk rehab sekolah ini. Apalagi sekolah ini adalah sekolah pusat kegiatan gugus tentu harus menjadi perhatian tersendiri,” katanya penuh harap.

Kondisi yang tidak jauh berbeda dengan sekolah Panenggo Ede II di desa Tanamete. Jika di SDM Waiha kerusakan sekolah terlihat dari kaca, lantai dan palfon yang sudah bolong maka di sekolah Panenggo Ede II, kerusakan itu terlihat pada atap ruangan kelas 1 dan kelas 2. Atap seng yang sempat diperbaiki tahun 1995 silam itu kini rusak diterpa angin dan belum kunjung diperbaiki. Imbasnya, para peserta didik di dua kelas itu terpaksa menggunakan sebagian kelas yang masih terlindung atap seng untuk belajar.

“Jumlah dua kelas itu ada 82 siswa. Karena atap bolong kami tidak bisa buat apa-apa. Kami terpaksa beraktivitas di sana dengan menghindari atap yang bocor. Kami cuma berharap ada perhatian dari pemda SBD untuk kami. Kadang kami iri dengan sekolah lainnya yang ada di tepi jalam maupun di wilayah kota yang bagus untuk ukuran kami disini,”kata kepala sekolah SD Panenggo Ede II, Adelfia Mete.

Hal senada pun disampaikan kepala sekolah Wailangira, Martina Mali Holo. Menurutnya kondisi sekolahnya tidak bisa dianggap biasa-biasa saja tapi harus disebut luar biasa. Pasalnya, dari semua sekolah di Kodi Blaghar, sekolah itu adalah yang paling riskan dan berpotensi ditinggalkan siswanya jika belum ada upaya perbaikan dari Pemerintah setempat. Pasalnya, sejak ditetapkan jadi sekolah negeri, sekolah itu belum sekalipun mendapatkan perhatian serius malah terkesan dibiarkan begitu saja. Padahal sekolah itu masuk kategori rusak berat mulai dari atapnya, lantainya hingga bangunannya yang sudah berumur tua.

“Paling parah itu atapnya. Seng sudah karatan dan kayu penyangganya sudah rapuh. Banyak anak murid meninggalkan sekolah karena sudah tidak nyaman,” keluhnya. (R-2/ol)