“Semua Sudah Pulang, Kami Kehilangan Bapak”

berbagi di:
Para pelatih senior mengarak jenazah ke rumah duka, Kamis, (9/8).

Leksi Salukh

 

 

Langit Kupang yang cerah pada Kamis (10/8) siang yang terik dan cerah begitu kontras dengan suasana di Bandara El Tari, khususnya di gedung VVIP Bandara. Kabut kesedihan menyelimuti keluarga almarhum Bernabas nDjurumana, segenap kenshi dan masyarakat kempo di Kupang, para tokoh olahraga dan pejabat pemerintah tengah menanti kedatangan kontingen kempo NTT usai berlaga di Kejuaraan Dunia Kempo di San Mateo, San Fransisco, Amerika Serikat.

 
Upacara penyambutan yang harusnya berlangsung meriah penuh gegap gempita karena kontingen NTT menoreh prestasi gemilang di kancah dunia, yakni meraih tiga emas, satu perak, dandua perunggu dan menjadi Juara Umum Kedua di event internasional itu, berubah menjadi duka mendalam karena sang maha guru kempo NTT, Simpai Nabas, yang meninggal dunia usai bersama kontingen kempo NTT mengikuti kejuaraan tersebut.

 

Tampak istri almarhum Ny Rambu Modjo, Wakil Gubernur NTT Benny Litelnoni, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, Ketua Harian KONI NTT Andre Koreh dan jajarannya, Wali Kota Kupang terpilih Jefri Riwu Koreh, Sekda Kabupaten Kupang Hendrik Paut dan jajaran Perkemi serta ratusan orang lainnya sudah memadati gedung VVIP Bandara sebelum pesawat Garuda yang membawa jenazah Simpai Nabas dan kontingen NTT mendarat.

 

Pukul 12.50 Wita, pesawat Garuda mendarat mulus. Tampak istri almarhum, Rambu Modjo berurai air mata. Isak tangis pun pecah saat Esthon Foenay, Simpai George Hadjo, Senshi Alfons Theodorus, serta kontingen NTT berjalan menuju ruangan VVIP. “Semua sudah pulang. Kami kehilangan Bapak,” ratap istri almarhum, Rambu Modjo sembari terisak saat berjabatan tangan dengan Esthon Foenay.

 

“Bapak dong pulang sehat-sehat, kami pung om tidak. Kasian Om,” ucap salah satu keponaan Simpai Nabas sembari menangis tersedu di pelukan Esthon. Esthon pun ikut menangis.

 

Empat anak almarhum yakni Rambu Alamanda Loda Longgi, Rambu Prani Danah Eka nDai Praing, Umbu Riki Mata nDai Praing dan Umbu mBaha Eti Putal Kaheli, tak mampu menahan kesedihan. Mereka tampak berurai air mata saat menyambut kedatangan kontingen NTT.
Putri kedua almarhum, Angela Hope, terus memandang ke arah pesawat berharap peti jenazah ayahnya segera diturunkan. Di pipinya terlihat mengalir air matanya.

 

Pukul 13.03 Wita, peti jenazah diturunkan dari pesawat. Mobil ambulans hitam dengan Nomor Polisi DH 1579 AY membawa peti jenazah menuju ruang tunggu. Saat itulah istri almarhum yang terus menangis, jatuh pingsan. Ia dibawa ke ruangan di bagian barat gedung VVIP Bandara.
Sementara itu peti jenazah diturunkan dari mobil ambulans dan diusung menuju ruang VVIP oleh delapan atlet kempo yang mengenakan pakaian kempo. Terlihat pula, di sisi kiri dan kanan jalan menuju gedung VVIP Bandara para atlet kempo membuat pagar betis.

 

Peti jenazah pun ditutup selimut sumba, dibalut bendara KONI. Setelah doa bersama dipimpin Enos Neparasi, peti jenazah kembali diusung ke mobil ambulans untuk selanjutnya dibawa ke rumah duka di Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Nefonaek, Kota Kupang.

 

Ratusan mobil dan kendaraan roda dua mengiringi mobil ambulans yang membawa peti jenazah menuju rumah duka. Pukul 14.35 Wita, rombongan tiba di rumah duka. Terpantau, jalan menuju rumah duka diapit para atlet kempo.

 

Tiba di rumah duka, Perkemi menyerahkan jenazah Simpai Nabas ke keluarga ditandai penyerahan foto almarhum oleh pengurus Perkemi Pusat, Benny Sukawanto kepada putri sulung almarhum Rambu Alamanda Loda Longgi. Upacara penyerahan dilakukan di depan rumah duka yang juga ditandai dengan disembelihnya seekor babi.

 

Wakil keluarga almarhum, Umbu Ngiku mengatakan, penyembelihan seekor babi itu sebagai tanda jenazah telah tiba di rumah duka sesuai tradisi Sumba. “Kalau nanti jenazah sampai di Sumba mungkin di sana kerbau atau paling kurang kuda yang disembelih dan jumlahnya bisa lebih dari satu ekor yang disembelih,” katanya.

 

Dia menambahkan  jenazah akan dibawa ke Sumba untuk dimakamkan secara adat Sumba. “Untuk sementara belum diputuskan di Kupang, meskipun permintaan Gubernur tanggal 21 Agustus, tapi belum tentu diikuti oleh keluarga,” katanya.

 

Tangis Haru
Sementara itu, pada Rabu (19/8) sekitar pukul 21.40 WIB, jenazah Simpai Nabas tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan menumpang Pesawat Garuda dari Hong Kong.

 

Setelah mendarat, kargo yang bersi peti jenazah langsung dibawa ke Golden Gate Soekarno-Hatta. Sensei George Hadjoh dan Sensei Alfons Theodorus yang menemani jenazah Simpai Nabas sejak dari Hong Kong, langsung berurai air mata ketika melihat begitu banyak orang yang sudah menanti di sana.

 

Ada staf Khusus Presiden RI Komjen Pol (Purn) Gories Mere, Ketua Umum PB Perkemi Sensei Indra Kartasasmitha dan jajaran, Ketua Perkemi NTT dan para kensi, sejumlah anggota DPRD NTT, Pemimpin Umum Victory News Chris Mboeik, Kepala Perwakilan NTT Berto Lalo dan jajaran, pimpinan dan jajaran PT. Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta, jajaran kerja Kargo Garuda Indonesia, Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta, tokoh masyarakat NTT di Jakarta, para kenshi yang bertanding di San Mateo, California AS, diaspora NTT Jabodetabek, dan para simpatisan dari NTT.

 

Suasana haru sontak menyelimuti ruangan khusus yang disediakan pihak Garuda tersebut. Para simpai dan kenshi NTT tak kuasa menahan tangis. Mereka bercucuran air mata menyaksikan pelatih sekaligus Bapak yang mereka kasihi telah “tidur tenang” dalam peti jenazah.
Setelah penerimaan jenazah dilanjutkan dengan ibadah penghiburan dan pelepasan jenazah yang dipimpin Pendeta Asron Marbun. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Esthon Foenay dan Sensei Indra Kartasamitha.

 

Tepat pukul 01.00 WIB kargo berisi peti jenazsh Simpai Nabas didorong keluar menuju ambulance untuk selanjutnya dimasukkan dalam pesawat Garuda nomor penerbangan GA 438 dan terbang menuju Bandara El Tari Kupangg pukul 07.15 WIB. (lys/D-1)