Sikka Dinyatakan Darurat Bencana

berbagi di:
Salah seorang warga korban terjangan gelombang pasang tampak membersihkan puing-puing rumah yang roboh dihantam terjang akibat abarasi di Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

Salah seorang warga korban terjangan gelombang pasang tampak membersihkan puing-puing rumah yang roboh dihantam terjang akibat abarasi di Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

 
Yunus Atabara

Penjabat Bupati Sikka Mekeng P Florianus telah mengeluarkan surat keputusan (SK) tentang tanggap darurat bencana terjangan gelombang pasang. Sebab, hampir seluruh pesisir selatan wilayah Sikka terkena hantaman gelombang pasang dengan tingkat kerugian yang tidak sedikit.

Situasi darurat bencana sesuai SK Penjabat Bupati Sikka itu berlaku selama tujuh hari (sepekan) sejak tanggal 25 hingga 31 Juli. SK tersebut menjadi payung hukum bagi berbagai upaya penanggulangan darurat oleh instansi teknis terkait seperti BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan lainnya.

Kepala BPBD Sikka, Daeng Bakir mengatakan itu kepada VN di ruang kerjanya, Jumat (27/7). Dia dikonfirmasi mengenai perkembangan penanganan korban abrasi yang terjadi di beberapa kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Sikka.

“Pak Penjabat Bupati sudah mengeluarkan SK tanggap darurat bencana. SK tersebut berlaku selama tujuh hari dari tanggal 25-31 juli mendatang. Setelah itu baru akan dilihat lagi apakah diperpanjang atau tidak sangat tergantung kondisi di lapangan,” kata Daeng.

Hingga kemarin total korban terjangan gelombang pasang sebanyak 91 jiwa dari 23 kepala kelauarga (kk). Korban tersebar di wilayah Desa Sikka, Kecamatan Lela 53 jiwa dari 10 kk, dan 38 jiwa dari 13 kk di Desa Ipir, Kecamatan Bola. Selain rumah, sejumlah perahu motor milik nelayan rusak berat. Tanggul pemecah gelombang (break water) di Kecamatan Paga juga rusak total diterjang gelombang pasang.

Daeng mengatakan, BPBD sudah menyerahkan bantuan tanggap darurat berupa makanan, selimut, dan terpal untuk membangun tenda bagi korban yang kehilangan rumah di Desa Sikka. Sedangkan korban yang kehilangan rumah di Desa Ipir, memilih tinggal bersama keluarga yang rumahnya relatif aman.

Terpisah, anggota DPRD Sikka dari Partai Golkar, Fransiskus meminta pemerintah agar selain bantuan tanggap darurat, juga wajib memikirkan solusi untuk penanganan jangka panjang. Salah satu solusi jangka panjang adalah relokasi warga ke tempat yang lebih aman.

“Setiap tahun selalu ada korban terjangan gelombang pasang air laut. Ini harus menjadi catatan pemerintah untuk berpikir secara jangka panjang, agar masyarakat bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman. Jangan hadir seperti pemadam kebakaran,” kata Siku.

Dalam pola relokasi korban abrasi lanjut Siku, pemerintah perlu menyiapkan lokasi yang lebih aman dengan tidak harus meninggalkan rumah warga yang ada di pinggir pantai saat ini. Rumah yang dibangun di tempat pemukiman baru menjadi “rumah kedua” sehingga saat terjadi musim gelombang pasang, warga sudah langsung mengungsi ke rumah keduanya yang aman. (nus/E-1)