Silvester Ndaparoka Pimpin FPBR-API

berbagi di:
foto-hal-06-metro-pasang-pin-031019

 

 

Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man memasang pin secara simbolis di dada Ketua FPRB-API Kota Kupang Silvester Ndaparoka dan badan pengurus lainnya di Hotel Sylvia, Kupang pada Rabu (2/9). Foto; Stef Kosat/VN

Silvester Ndaparoka sah memimpin Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (FPBR-API) Kota Kupang periode 2019-2022. Pengesahan kepengurusan FPBR-API tersebut setelah melalui musyawarah daerah (Musda) yang digelar selama dua hari.
Sebelum terpilih secara aklamasi dalam musda tersebut, Silvester Ndaparoka diminta forum memperkenalkan diri sekaligus mempresentasikan visi-misi, jika terpilih sebagai Ketua Forum PRB-API Kota Kupang.

Silvester mengaku sudah mengabdi dalam dunia kebencanaan sejak 1999. Dia pernah melaksakan penangulangan bencana di Aceh, Palu dan Kota Kupang. Dengan rekam jejak selama 20 tahun di dunia kebencanaan tersebut, dia optimistis mampu menjalankan tugas sesuai visi-misi FPRB-API Kota Kupang.

Mantan aktivis PMKRI 1998 itu terpilih setelah forum yang dihadiri 86 orang itu sepakat mengusul, memilih dan menetapkannya sebagai Ketua FPRB-API Kota Kupang. Silivester mengaku, visi yang dirancangnya bersama tim pengrus nanti adalah membangun Kota Kupang dan masyarakat yang semakin tangguh hadapi bencana.

Ia berharap dukungan dari pemerintah dan DPRD Kota Kupang dalam kebijakan anggaran untuk kesuksesan pelayanan FPRB-API Kota Kupang ke depan. Komitmen anggota FPRB-API dalam membangun Kota Kupang harus ditingkatkan, sehingga forum itu tidak mengalami kefakuman tetapi mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat umum.

Untuk diketahui, Musda ke-2 FPRB-API berlangsung dua hari di Hotel Sylvia Kupang. Hari pertama, Selasa (1/10) forum membahas draft statuta FPBR-API Kota Kupang. Sementara hari kedua, Rabu (2/10), peserta musda melalukan pemilihan dan menetapkan Silvester Ndaporoka sebagai Ketua FPRB-API Kota Kupang untuk masa jabatan 2019-2022.

 
Hijauhkan Kota Kupang
Saat diwawancarai terkait program jangka pendek dan panjang FPBR-API, Silvester mengatakan, untuk program jangka pendek, FPRB Kota Kupang akan melakukan konsolidasi internal pengurus untuk membuat rencana kerja.

Sedangkan untuk program jangka panjang selama tiga tahun ke depan adalah menangkap momentum Oktober untuk perencanaan anggaran 2020. Program yang direncanakan adalah mengangkat isu strategis FPRB yang selaras dengan program Pemkot Kupang mengenai Kupang Hijau dan tanam pohon dan air serta penguatan bagi masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai.

Selain itu, FPRB-API juga akan melakukan rapat bidang. Supaya setiap bidang bisa menyusun program yang tentu harus sejalan dengan program Pemkot Kupang. FPRB-API akan terlibat dalam aksi menanam pohon bersama para tokoh lintas agama, tokoh pemuda, dan masyarakat pada umumnya di area-area penyangga Kota Kupang seperti Kolhua, Fatukoa, Naioni, Manulai, dan Belo.

“Tujuannya adalah meningkatkan kondisi ketahanan kota dari ancaman kekeringan, maupun ancaman lain. Tiap tahun FPRB-API akan mengevaluasi capaian kerja supaya mengukur ketangguhan Kota Kupang dalam menghadapi bencana, baik di tingkat kelurahan, kecamatan dan kota. Jadi forum ini memiliki pekerjaan rumah yang banyak karena terdiri dari 51 kelurahan dengan beragam persoalan,” kata Silvester.

 

Payung Hukum
Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man, saat pengukuhan badan pengurus FPRB-API, mengatakan, makin hari forum tersebut makin berkembang karena dilengkapi empat bidang. Empat bidang tersebut yakni bidang satu terdiri advokasi, regulasi dan kebijakan.

Selanjutnya, bidang dua, pengembangan kapasitas dan manejemen pengetahuan. Bidang tiga partisipasi dan pelembagaan serta bidang empat terkait pengembangan organisasi. Empat bidang tersebut yang membuat FPRB-API makin berkembang secara baik dan positif.
Selain itu, menurut Wawali Hermanus man, FPRB-API Kota Kupang membutuhkan payung hukum, sehingga apa yang dilaksanakan dalam forum dasarnya adalah regulasi. Karena itu, Hermanus Man percaya, apa yang telah diletakan oleh para pengurus FPRB-API periode lalu tinggal dilanjutkan untuk hal-hal baik yang sudah ada.

Selanjutnya Wawali Hermanus Man, mengatakan, tantangan dan hambatan-hambatan bagi FPRB-API ke depan telah menanti, namun forum itu harus siap menghadapinya. Benar bahwa penanganan bencana sudah ada pihak-pihak yang lebih khusus. Tetapi FPRB-API, wajib mengambil peran dengan cara komunikasi lintas sektor supaya penanganan bencana dapat berjalan sebagaimana mestinya.
FPRB-API diharapkan berkoordinasi dengan berbagai pihak secara baik supaya forum tidak terpecah-belah. Tidak boleh ada ego bendera baik dari pemerintah maupun LSM dan tidak boleh ada yang merasa lebih penting. (mg-01/R-2)