Simpati NTT untuk Ahok Meluas

berbagi di:
Aksi bakar lilin di Republik Demokratik Timor Leste; Foto: Fransiska Olivares

 

 

Aksi simpati untuk Ahok yang divonis dua tahun penjara atas kasus penodaan agama terus meluas di NTT. Jika sebelumnya hanya di Kupang dan Atambua, kini daerah lain seperti TTS, TTU, Malaka, Lembata, Alor, Manggarai, Manggarai Barat, Rote Ndao, dan bahkan Timor Leste pun menggelar aksi bakar lilin dan doa bersama.

Di Kupang, aksi damai mulai digelar pasca sidang putusan Ahok Selasa (9/5), dilanjutkan Rabu (10/5), dan Kamis (11/5) malam. Massa yang berdatangan terus meningkat, bahkan pada Kamis malam mencapai ribuan orang. Aksi berlangsung dalam suasana keprihatinan, diisi doa bersama, pembakaran lilin dan orasi-orasi singkat secara spontan.

Aksi bakar lilin di Jalan El Tari Kupang.
Aksi bakar lilin di Jalan El Tari Kupang.

Di Rote Ndao, aksi dilakukan mulai Rabu (10/5) di Lapangan Umum, Ba’a, ibukota Kabupaten Rote Ndao. Pada aksi di wilayah terselatan NKRI itu massa membakar 2017 lilin untuk Ahok yang kini mendekam di LP Cipinang-Jakarta. Di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Alor, dan Lembata, aksi dilakukan pada Kamis (11/5) petang hingga malam hari. Aksi tersebut terjadi secara spontan.

Aksi bakar lilin untuk Ahok di Rote Ndao.
Aksi bakar lilin untuk Ahok di Rote Ndao.

Disaksikan VN, sekitar 10 ribu lilin dinyatakan untuk Ahok di depan gedung Pengadilan Negeri (PN) Soe. Warga secara spontan sejak pukul 13.00 Wita sudah mempersiapkan lokasi pembakaran lilin, meski acara baru dimulai pukul 19.00 Wita dan berakhir pukul 21.40 Wita.

Tampak hadir Bupati TTS Paul VR Mella dan wakilnya Obed Naitboho, Ketua DPRD TTS Jean Elen Melianus Neonufa, Wakil Ketua II Alexander Kase, dan pimpinan OPD lainnya. Hadir juga tokoh agama Protestan dan Katolik, yakni Pdt Hendrik Kuji Rihi dan Romo Ento.

Aksi bakar lilin di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Aksi bakar lilin di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Koordinator aksi, Rens Benu mengatakan, kurang lebih 10 ribu lilin yang dinyalakan oleh masyarakat TTS. Aksi tersebut bertujuan mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikan tegaknya keadilan dan kebenaran agar tak ada yang merasa tertindas.

Ia menegaskan ormas-ormas radikal yang nyata terbukti merongrong NKRI dan Pancasila harus dibubarkan. Dia meminta Pemkab TTS agar resmi menyampaikan suara rakyat TTS ke Pusat agar Pemerintah Pusat tegas membubarkan ormas-ormas radikal.

Aksi tersebut dibuka dengan doa bersama yang dipimpin Romo Ento, dilanjutkan dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, lalu dilakukan pembakaran lilin.

 

Nasionalisme

Bupati Paul Mella dalam sambutannya mengatakan, aksi pembakaran lilin tersebut untuk meningkatkan semangat nasionalisme dan menolak ormas-ormas radikal yang ingin menghancurkan NKRI. “Tidak ada negara lain selain NKRI. Harus bubarkan semua organisasi-organisasi yang tidak bersandar pada Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.

Dia berjanji akan menindaklanjuti suara masyarakat TTS untuk mempertahakan NKRI. “Kita lakukan secara damai, kita doakan agar persatuan bangsa tetap kokoh,” tandas Bupati Mella.

Ratusan masyarakat yang hadir juga meminta agar Ahok segera dibebaskan.

“Ahok harus dibebaskan demi keadilan di negeri ini,” ucap massa beramai-samai.

Ketua DPRD TTS Jean Neonufa dalam orasinya menegaskan, aksi tersebut harus didedikasikan untuk keutuhan bangsa. Pendeta Yos Manu dalam suara gembalanya mengatakan, orang binaan dikorbankan, orang jujur dikhianati.

“Kita hadir supaya mereka yang anti dengan NKRI segera diadili oleh pihak berwenang. Ada orang jujur disiksa dan dihina seperti Yesus yang disalibkan. Para kelompok radikalisme itu merupakan pengkianat NKRI.

Negara ini semakin dirampas oleh kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa ini,” ujarnya.

Ketua Mudika Yosep Kolo Bunga dalam orasinya menegaskan, Ahok telah dikriminalisasi oleh orang-orang yang hendak berkuasa di negeri ini.

“Ini kematian hukum. Bebaskan Ahok, dia dihukum karena tekanan kelompok radikal. Tegakkan keadilan,” ujarnya.

Aksi tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua Majelis Jemaat GMIT Efata Soe Pdt Hendrik Kuji Rehi.

 

Aksi Menjalar

Sementara itu, kepada VN, salah satu penggagas aksi di Rote Ndao, Onesimus Puling menegaskan, aksi tersebut lebih pada keprihatinan dan duka cita atas matinya supremasi hukum di negeri ini. “Kami menyampaikan turut berduka cita atas matinya supremasi hukum di negeri kita,” tegas Onesimus.

Proses penegakan hukum, kata dia, sudah tunduk di bawah tekanan  kelompok radikal. “Ahok sebenarnya tidak divonis seperti itu, tapi ini karena tekanan kelompok-kelompok radikal,” ucapnya dalam nada tinggi.

Karena itu, ia meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk tegas membubarkan ormas-ormas radikal yang merusak kesatuan dan persatuan bangsa.

Pantauan VN, aksi-aksi tersebut diikuti ribuan warga. Anak-anak, orangtua, dan pemuda terlibat dalam aksi itu. Bahkan para perempuan terlihat menangis saat menyalakan lilin untuk Ahok. Mereka menilai Ahok mengalami ketidakadilan.

Sementara itu, ratusan masyarakat Labuan Bajo, menggelar aksi 1000 lilin di seputar Patung Caci Labuan Bajo, Rabu (10/5) malam. Di Alor, Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (TMI) Melki Laka Lena bergabung bersama warga Alor membakar lilin dan mendoakan Ahok di Lapangan Umum Kalabahi, Rabu (10/5) malam.

 Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (TMI) Melki Laka Lena bergabung bersama warga Alor membakar lilin dan mendoakan Ahok di Lapangan Umum Kalabahi
Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (TMI) Melki Laka Lena bergabung bersama warga Alor membakar lilin dan mendoakan Ahok di Lapangan Umum Kalabahi

Ribuan Mahasiswa dari berbagai kampus di Ruteng, Manggarai  menggelar aksi di Lapangan Motang Rua Ruteng menyerukan pembebasan Ahok. Massa yang terdiri dari mahasiswa STKIP St. Paulus, STIPAS St. Sirilus, STIKES St. Paulus dan STIE Karya itu melakukan long march dari kampus STKIP St. Paulus yang berlokasi di Kumba menuju lapangan Motang Rua sebagai pusat aksi.

Seruan penolakan terhadap diskriminasi sekaligus tuntutan pembebasan Ahok terdengar dalam orasi. “Bebaskan Ahok !!! Tolak diskriminasi terhadap Ahok” ujar ribuan peserta yang hadir.

Di Kefamenanu dilaporkan sejumlah masyarakat yang menamakan diri Forum Kebhinekaan Indonesia (FKI) mengirimkan surat penyataan sikap menolak vonis hakim terhadap Ahok. Surat penolakan itu dikirim ke Pusat melalui PN Kefamenanu.

Dalam surat pernyataan sikap yang ditandatangani, Victor Manbait dan Willem Oki itu ditegaskan bahwa keputusan hakim yang menggunakan ‘hukum golongan’ untuk menghukum warga negara dari golongan lain merupakan suatu kekeliruan dan sekaligus cacat hukum. Selain itu, putusan tersebut pun merupakan pengkhianatan terhadap kesepakatan kebangsaan serta sebuah bentuk rasisme penegakan hukum yang dapat merongrong kebhinekaan Indonesia.

FKI juga berencana menggelar aksi pembakaran lilin di halaman kantor PN Kefamenanu.

Wakil Ketua PN Kefamenanu Decky AS Nitbani mengatakan, pengadilan merupakan lembaga independen dan tidak memihak siapa pun. Surat pernyataan sikap diterima dan diteruskan ke tingkat yang lebih tinggi. (mg-06/mg-12/gus/D-1)