Situs Bung Karno jadi Tempat “Ukur Badan”

berbagi di:
Anggota DPRD Kabupaten Ende Mahmud Djegha Bento saat meninjau pengerjaan proyek renovasi Taman Permenungan Bung Karno yang mangkrak

Anggota DPRD Kabupaten Ende Mahmud Djegha Bento saat meninjau pengerjaan proyek renovasi Taman Permenungan Bung Karno yang mangkrak.

 

Son Bara

RENCANA Pemkab Ende untuk merenovasi Taman Permenungan Bung Karno yang merupakan situs bersejarah peninggalan Sang Proklamator Ir. Soekarno pada masa pembuangan di Kabupaten Ende, gagal total.

Proyek yang menelan anggaran Rp2,7 miliar tak tuntas dikerjakan rekanan. Lokasi pembangunan yang tak tuntas inilah yang dimanfaatkan pasangan tanpa ikatan (Pernikahan) resmi dan remaja sebagai tempat “ukur badan” (Prostitusi) dan lokasi pesta minuman keras (Miras).

Taman yang amburadul tak terawat, tanpa penerangan memadai didukung dengan desain bangunan yang dikelilingi pagar beton dengan sejumlah lorong di tengah taman menjadikan situs sejarah Permenungan Bung Karno paling nyaman bagi pasangan remaja dan tanpa ikatan untuk “ukur badan”. Apalagi minimnya pengawasan pemerintah dan aparat keamanan baik Satpol PP maupun Polres Ende.

Hasil investigasi awak VN Son Bara sejak Maret hingga akhir Juni tercatat puluhan pasangan melakukan aksi ukur badan di taman tersebut. Selain Taman Permenungan Bung Karno, beberapa area publik, yakni seputar Lapangan Pancasila, Taman Rendi dan Pecahan Taman Rendi, Kantor Camat Ende Utara, Kawasan Pesisir Pantai Ria dan juga Kawasan Pelabuhan Peti Kemas, serta Lorong Tribun Lapangan Perse Ende juga dijadikan tempat “ukur badan”. Investigasi VN malam hari menemukan langsungĀ fakta tersebut.

Salah satu pengunjung Taman Permenungan Bungkarno, Ahmad Abdulah menyayangkan sikap pemerintah yang membiarkan taman tersebut telantar dan dijadikan tempat prositusi.

“Sangat tidak etis kita datang bersama anggota keluarga dan membawa anak-anak bukannya kita dapatkan tambahan pendidikan yang baik, malah anak kita harus menyaksikan pasangan tanpa ikatan yang sedang bermesraan. Memang ini masanya mereka namun ada batasan dan tempatnya, ini lokasi publik dan salah satu situs bersejarah mestinya dijaga,” tuturnya.

“Saya melihat jika kondisi ini terus berlanjut maka kita Kabupaten Ende akan kehilangan satu generasi karena moralitasnya yang buruk dan bobrok. Bayangkan saja aksi mereka tidak ada rasa risih dengan pengunjung lainnya. Kalau bisa Bapak Bupati melalui dinas terkait segera melakukan penertiban dengan melakukan operasi atau dengan kebijakan lainnya,” lanjut Achmad Abdulah.

Hal senada disampaikan pengunjung lainnya Arnoldus yang mengungkapkan kekecewaannya karena banyak anak sekolah yang memanfaatkan masa belajar dari rumah pada tempat yang salah.

“Kami dari jauh datang dengan maksud ingin melihat dari dekat seperti apa Taman Permenungan Bungkarno. Kami cuma melihat lewat postingan dan mendengar cerita lisan saja selama ini. Namun saat kami tiba dilokasi, kami sangat kaget dimana banyak sekali anak usia sekolah lagi duduk dan bermain di atas tempat patung Bungkarno. Tidak itu saja aksi mereka dengan memukul besi yang berada di dalam kolam dengan iringan gitar sehingga terdengar bising sekali. Mestinya generasi muda lebih paham ini warisan sejarah yang harus dijaga.” Tutur Arnoldus.

Sementara itu salah seorang pedagang bernama Umi yang berjualan di seputaran lokasi Lapangan Perse Ende dan Taman Bung Karno menyayangkan kondisi yang ada.

“Kami tiap malam hanya bisa melihat saja banyak pasangan yang masuk keluar di beberapa lokasi. Itu bukan tugas kami untuk melarang mereka, sebagai orang tua kami hanya menyampaikan hal yang baik, syukur kalau didengar kalau tidak juga tidak soal buat kami. Sebagai orang tua saya sangat kecewa dengan aparat keamanan yang datang patroli cuma lewat saja dan tidak turun singgah untuk menertibkan pasangan dan anak-anak tersebut,” Ungkap Umi. (yan/ol)