Situs Tugu Jepang Kumuh

berbagi di:
foto-hal-06-metro-tugu-jepang-310719

 

Situs Tugu Jepang yang terletak di Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa tak terawat dan dibiarkan begitu saja. Padahal di situs tersebut tertulis nama-nama prajurit Nippon yang meninggal dunia. Gambar diabadikan, kemarin. Foto: Putra Bali Mula/VN

 

 

Putra Bali Mula

Situs Tugu Jepang di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, salah satu cagar budaya mulai kumuh dan membutuhkan sentuhan khusus, agar pemerintah tak terkesan melupakan sejarah yang pernah terjadi di Kota Kupang.

“Bukannya bangun yang bagus tapi justru bikin jelek. Itu kamar mandi tidak jelas untuk apa di situ malah bikin jorok. Masak kamar mandi tidak ada pembuangan, coba pikir bagaimana. Itu pengunjung akhirnya datang buang air ke kita,” ungkap Ma Ina, warga sekitar yang rumahnya berada tak jauh dari situs perang dunia ke dua itu, Selasa (30/7).

Pantaun VN, ada dua kamar mandi umum yang ditempatkan di area itu . Satu kamar mandi terkunci rapat oleh gembok hitam berukuran sedang sementara lainnya dibiarkan terbuka. Dalam baknya tak ada air, cuma dedaunan kering dan batu yang menutupi lubang kloset.

Situs yang konon dibangun oleh Nippon (sekarang Jepang) untuk mengkremasi mayat prajuritnya yang gugur saat perang dunia itu benar-benar pucat. Bangunannya menghitam dan mulai mengelupas. Nama-nama para tentara yang dikremasi di area itu hampir tak terbaca.
Bonsai-bonsai penghiasnya justru mati kering kecoklatan, belum lagi banyak jelaga hitam di kaki situs itu bekas rumput kering dan sampah yang dibakar sembarangan.

“Kaka (VN) bisa lihat sendiri, itu pagar yang patah itu karena kena tindih dari pohon tumbang yang waktu hujan badai kapan hari. Sampai sekarang masih terlepas belum ada yang perbaiki dari Januari sampai mau Agustus ini,” sambung Ma Ina.

Padahal cagar budaya yang berada di bilangan Jalan Antonov, Kelurahan Penfui, Kota Kupang ini dilindungi oleh negara dalam Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 2010. Masih banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang datang, sayang menurut Ma Ina, para pengunjung tak mendapatkan kesan apa-apa saat keluar dari situs itu.

 Nyaris sama dnegan situs Tugu Jepang, meriam peninggalan Jepang yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya pun tak terawat. Warga setempat menjadikan tempat itu sebagai tempat jemur pakaian, Selasa (30/7). Foto: Putra Bali Mula/VN

Nyaris sama dnegan situs Tugu Jepang, meriam peninggalan Jepang yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya pun tak terawat. Warga setempat menjadikan tempat itu sebagai tempat jemur pakaian, Selasa (30/7). Foto: Putra Bali Mula/VN

“Tidak ada yang bilang apa-apa. Cuma sebentar paling mereka datang,” ungkapnya buru-buru.

Senasib dengan Tugu Jepang, dua meriam perang yang berada di Kelurahan Kelapa Lima pun tak tampak sangar apalagi kondisinya yang karatan yang luar biasa.

“Pasti sudah pakai bunuh banyak orang Kaka (VN),” ujar siswa SMP bernama Berto ini dengan senyum santai tanpa rasa ngeri.

Jawabannya itu didukung teman-temannya yang lain sambil tertawa. Mereka kebetulan pulang sekolah dan lewat depan situs itu.
Sementara pagar dari salah satu satu meriam lainnya yang terdapat di dalam pemukiman warga yang malah dijadikan jemuran pakaian.
Lurah Kelapa Lima, Yustinus Kahan menyebutkan sejak Desember 2018 ia menjabat sebagai lurah di wilayah tersebut dirinya tak mendapatkan koordinasi dari dinas terkait untuk pemeliharaan atau sentuhan pemugaran lainnya pada situs-situs itu.

“Paling saya arahkan RT setempat agar warga tidak lagi masuk dan coret-coret di badan meriam, selebihnya memang tidak ada koordinasi sama sekali,” ungkapnya Senin (29/7). (mg-06/R-2)