SMKN 3 Kupang Kirim Lulusan Kerja di Jepang

berbagi di:
jeni-bhasarie_20170403_121114

Kepala SMKN 3 Kupang, Jeni JP Bhasarie

 

 
Usai ujian kompetensi selama sepekan sejak 4-10 April 2019, SMKN 3 Kupang siap mengirim lulusannya bekerja di salah satu perusahaan di Jepang. Perekrutan lulusan SMKN untuk dikirim ke Jepang mulai dilakukan 29 April ini.

Kepala SMKN 3 Kupang, Jeni JP Bhasarie mengatakan itu kepada VN di sela-sela acara penutupan ujian kompetensi di sekolah tersebut, Rabu (10/4) siang

Jeni mengaku prihatin karena angka pengangguran tertinggi di Indonesia merupakan lulusan SMK. Menurutnya, masyarakat tidak boleh menutup mata dan menilai seperti itu. Sebab lulusan SMKN 3 Kupang biasanya langsung bekerja di dunia industri. Bahkan pihak industri yang proaktif mencarinya ke pihak sekolah.

Dia mengatakan akan mengirim 100 orang untuk bekerja di salah satu perusahaan di Jepang. Perekrutan dimulai pada 29 April khusus untuk laki-laki dari Jurusan Tata Boga.

“Salah satu perusahaan jepang itu kan mau rekrut tenaga kerja di bawah koordinator SMKN 3. Selama enam bulan pelatihan langsung diberangkatkan ke Jepang untuk kerja di sana. Mereka fokus hanya Tata Boga, khususnya laki-laki. Dan di Indonesia timur itu baru pertama kali di NTT,” ujar Jeni.

Meski pelatihan selama enam bulan di Jakarta akan menelan biaya, namun dia memastikan mereka akan dikirim dan langsung bekerja di perusahaan Jepang. Sebagai koordinator, ia juga telah menjalin komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dan pihak Dinas Dikbud menyambut baik hal ini serta akan berkonsultasi dengan Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT.

“Kemarin kamis sudah lapor di Direktorat, dan saya juga lapor ke Pak Kadis (Kadis Dikbud NTT) juga terima dengan positif tetapi bukan kapasitasnya dan itu adalah dari Nakertrans karena menyangkut pengiriman tenaga kerja,” jelas dia.

Ia menjelaskan uji kompetensi awalnya dibiayai Kementerian Pariwisata yaitu Akomodasi Perhotelan dan Tata Boga yang dibuka pada 4 April lalu. Selanjutnya tiga kompetensi lain yang diujikan seperti Kecantikan, Tata Busana dan Teknik Komputer Karingan (TKJ), termasuk Perhotelan, khususnya front office dan loundry, tidak diujikan dalam Lembaga Sertifikat Profesi (LSP) karena memiliki sistem tersendiri dan pembiayaan dari dana biaya operasional sekolah (BOS).

 
Tak Orientasi PNS
Terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Pius Rasi mengatakan, dengan keterampilan yang dimiliki lulusan SMK tidak harus fokus menjadi PNS namun harus mampu membuka lapangan kerja sendiri.

“Justru SMK ini kan tidak orientasi ke PNS, tapi sudah bisa membuka lapangan kerja. Contohnya saya keliling kemana-mana penjahit Kota Kupang ini rata-rata tamatan SMK 3, bahkan anak-anak SMKN 3 menjadi tempat magang,” ujar Pius.

Pius menjelaskan pihaknya akan mendatangkan investor untuk membantu para lulusan SMK menciptakan lapangan kerja.

“Saya minta teman-teman, ade-ade ini dalam suatu wadah. Saya siap datangkan orang untuk menjadi tempat mereka berlatih yakni investor. Mereka mau menjadi tempat untuk ade-ade (lulusan SMK) mereka untuk berusaha. Saya punya. Nanti saya akan komunikasikan,” katanya.

Dia menegaskan semboyan “SMK Bisa” itu tidak sekadar kiasan semata, tapi menunjukkan bahwa dengan keterampilan yang dimiliki disertai kreativitas dan motivasi yang tinggi, mereka mampu bersaing dan bahkan membuka lapangan kerja sendiri.

Kasi Sumber Daya Manusia Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Remy S Dosom mengatakan, lulusan SMK harus mampu menunjukkan keprofesionalan mereka dalam bekerja.

“Di pariwisata juga pelayanan kepada wisatawan, misalnya ada wisatawan mau menata rambut, bagaimana bisa menata dengan baik. Profesionalisme ade-ade harus ditingkatkan. Tidak serta merta mereka setelah selesai uji kompetensi ini lalu selesai, tidak ! Itu mesti terus diupgrade,” pungkasnya. (mg-18/R-2)