SMPN 2 Kupang Pinjamkan Tablet bagi Peserta Didik

berbagi di:
Daniel Bunga Plt Kepala SMPN 2 Kupang

Daniel Bunga
Plt Kepala SMPN 2 Kupang

Sinta Tapobali

PIHAK SMPN 2 Kupang meminjamkan tablet milik sekolah kepada peserta didik yang tidak memiliki HP android guna mendukung kegiatan belajar dari rumah (BDR) dengan sistem daring.

Demikian disampaikan Plt Kepala SMPN 2 Kupang Daniel Bunga kepada media ini, Selasa (28/7).

Sejauh ini, ada 50-an peserta didik yang mendapat pinjaman tablet milik sekolah. Tablet tersebut dipinjamkan selama satu semester, setelahnya dikembalikan ke pihak sekolah.

Kebijakan tersebut diambil pihak sekolah karena banyak peserta didik yang tidak memiliki fasilitas berupa HP Android sehingga menghambat proses pembelajaran secara daring.

“Ada siswa yang memang tidak memiliki HP Android dan kita sudah fasilitasi dengan fasilitas sekolah berupa meminjamkan tablet milik sekolah,” jelasnya.

Ia mengatakan, rata-rata siswa yang tidak memiliki HP andoird berasal dari kelas VII, VIII dan IX. Ia berharap dengan adanya tablet yang dipinjamkan ini, dapat membantu para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran daring yang dilakukan.

“Kalau wali kelas mereka temukan ada siswa yang tidak punya HP maka kita bantu dengan meminjamkan. Intinya mereka harus jaga dan rawat, terutama manfaatkan sebaik mungkin untuk proses KBM,” pungkasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam proses pembelajaran di SMPN 2 Kupang, didukung dengan aplikasi Google from, semua materi ataupun tugas diberikan dan dikumpulkan melalui aplikasi ini.

Pulsa Data jadi Hambatan
Kendatipun pihak sekolah sudah memfasilitasi tablet bagi peserta didik, namum masih saja ada hambatan yang dihadapi dalam menerapkan sistem pembelajaran online (Daring). Kendala tersebut yakni keterbatasan pulsa data yang dimiliki peserta didik.

Daniel Bunga menuturkan, pembelajaran sistem daring di SMPN 2 Kupang telah berjalan hampir 99 persen. Dalam perjalanan pihak sekolah dan para wali kelas menemukan sejumlah hambatan, salah satu hambatan terberat adalah masalah kuota internet.

Masalah ini ditemukan saat para wali kelas melakukan kunjungan rumah untuk memantau secara langsung proses dan perkembangan para peserta didik selama melaksanakan pembelajaran sistem daring yang dilaksanakan dari rumah (BDR).

“Dalam kunjungan rumah ini ditemukan berbagai kendala yang dialami oleh para siswa selama mengikuti proses pembelajaran secara daring. Masalah yang paling signifikan yang dialami adalah tidak memiliki pulsa paket untuk menunjang proses pembelajaran mereka,” ungkapnya.

Para wali kelas sesekali harus merogoh kocek mereka untuk membantu para peserta didik yang tidak mampu membeli pulsa data (kuota internet).

Kendatipun ada dana BOS, pihak sekolah belum mengambil kebijakan terkait bantuan pulsa data menggunakan dana BOS. Perlu dikaji lebih mendalam untuk menerapkan kebijakan tersebut. Sebab, jumlah peserta didik yang mencapai 1.200-an orang membutuhkan anggaran dana BOS yang besar.

“Kementerian memang menginstruksikan seperti itu tetapi kita juga perlu mengkaji secara mendalam Jangan sampai kita kecolongan karena jumlah siswa kita 1.200 sekian. Kalau Andaikata kita berikan peluang untuk memberikan pulsa data maka ini persoalan bagi sekolah karena itu membutuhkan anggaran yang sangat besar, yang kita fasilitasi dengan pulsa adalah wali kelas dan guru mata pelajaran agar lebih mudah melakukan komunikasi dengan anak,” paparnya.

Kepada peserta didik ia berpesan agar tidak pernah bosan dalam mengikuti proses pembelajaran secara daring. “Kepada para siswa jangan pernah bosan belajar meski harus dari rumah masing-masing. Tetap semangat,” tutupnya. (yan/ol)