Solor jadi Pusat Pengembangan Kelor di Flotim

berbagi di:
TANAM KELOR: Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat menanam kelor secara simbolis di perbatasan Desa Cisadane dan Kelurahan Ritaebang Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Selasa (28/7). (Foto: Yunus Atabara)

TANAM KELOR: Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat menanam kelor secara simbolis di perbatasan Desa Cisadane dan Kelurahan Ritaebang Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Selasa (28/7). (Foto: Yunus Atabara)

Yunus Atabara

PULAU Solor merupakan salah satu pulau endemik tanaman ‘Moringa Oleifera’ atau kelor di dunia. Oleh karena itu, Pulau Solor layak dijadikan pusat pengembangan tanaman kelor di Kabupaten Flores Timur guna memenuhi kebutuhan protein masyarakat, produksi aneka kuliner, bahkan untuk diekspor ke luar negeri.

Penegasan itu disampaikan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat penanaman kelor secara simbolis di atas lahan 18 hektar, di perbatasan Desa Cisadane dan Kelurahan Ritaebang Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Selasa (28/7).

“Solor ini salah satu pulau endemik Moringa Oleifera atau tanaman kelor di dunia. Jadi sangat potensial menjadi pusat pengembangan kelor untuk pemenuhan protein kita,” kata Gubernur VBL yang saat itu didampingi Bupati Flores Timur Anton G Hadjon.

Kelor, kata dia, mengandung kombinasi senyawa isotiosianat dan glukosinolat. Isotiosianat merupakan zat yang terdapat dalam berbagai tanaman, termasuk kelor dan memiliki potensi sebagai agen kemopreventif, dimana isotiosianat antikanker.

Kareta itu, Pemkab Flores Timur bersama pemerintah provinsi akan mencari solusi pemenuhan kebutuhan air di Pulau Solor demi mengembangkan budidaya kelor dan pengembangan tanaman kelor, dilakukan melalui program pemberdayaan, baik melalui dana desa maupun melalui APBD Kabupaten dan provinsi.

Ketua Kelompok tani pengembangan tanaman kelor di Solor, Felix Soba Lewar secara terpisah menjelaskan, lahan seluas 18 hektare (ha) pengembangan tanaman kelor di wilayah itu merupakan lahan program pemberdayaan.

“Ini program pemberdayaan dan dikerjakan melalui Padat Karya Tunai (PKT). Setiap pekerja mendapatkan Rp50 ribu per hari,” katanya.

Felix mengakui bahwa tanaman kelor tidak asing bagi masyarakat setempat. Kendati demikian, selama ini masyarakat hanya mengetahui sebagai bahan sayur. Padahal sesungguhnya kelor merupakan tanaman ajaib di seluruh dunia.(yan/ol)