Stok BBM Terbatas, Antrian Kendaraan Mengular Hingga 2 KM

berbagi di:
img-20191116-wa0016

 

 

 

Bernard Sapu

Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengantri sepanjang 2 kilometer di sekitar SPBU Pelangi 04 Mbay, Nusa Tenggara Timur.

Antrian terjadi selama 6 hari terakhir, terhitung sejak hari Senin hingga hari Sabtu (16/11).

Salah seorang pengemudi mobil pick up, Franco Taji, saat ditemui VN, Sabtu (16/11) mengaku ia telah mengantri selama tiga jam lebih.

“Saya Sudah mengantri sejak pagi tadi hingga siang hari ini, namun barisan ini sama sekali belum bergerak. Stok bensin tidak ada lagi. Kami tidak tahu harus berapa jam lagi berada di dalam antrian untuk menunggu bensin yang belum pasti datang,”ungkapnya.

Franco menambahkan, bahan bakar jenis bensin di mobilnya sudah sangat sedikit. Padahal hari ini merupakan hari pasar di Ibu Kota Mbay.

Jika tidak ada kendala stok BBM, biasanya ia sudah melakukan antar muat penumpang sebanamelakukan taksi pada hari pasar begini sudah antar penumpang pasar dari Raja ke Mbay begitu juga dari Mbay ke Raja sudah 4 kali bahkan lebih, namun dengan adanya kendala stok BBM pada SPBU ini, maka dirinya harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Menurutnya, bukan hanya bensin, solar di SPBU tersebut pun sudah habis.

“Saya sudah dua kali mengantri untuk mendapatkan BBM di SPBU Nagekeo, pertama hari Senin dan hari Sabtu pada hari ini. Pekerjaan kami seorang sopir jika BBM ini ada maka kami bisa mendapatkan uang, namun jika stok BBM ini habis maka kami tidak akan dapatkan uang,”paparnya.

Menurutnya, sebagai ibu kota Kabupaten Nagekeo, SPBU di Mbay seharusnya lebih dari satu.

“Saya tidak tahu apa penyebabnya hingga stok stok BBM jenis bensin tidak ada.Tetapi harapan saya semoga stok segera ada lagi. Kalau yang di jalur Ende -Bajawa bisa isi bensin di Boawae atau di Turekisa-Bajawa, tetapi kalau di di Ibu Kota Mbay, kami mau ke mana lagi, karena hanya milki satu unit SPBU saja, yang lain tidak ada lagi,”tandasnya.

Hal senada disampaikan supir pickup lainnya Melkiades Bha.

Ia mengatakan, kelangkaan BBM di Ibu Kota Mbay sering sekali terjadi. Bahkan kelangkaan BBM bisa terjadi hingga dua minggu.

“Kami orang kecil dan pekerjaan kami hanya seorang supir terkadang mau marah dan kesal, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sudah biasa mengantri berjam-jam di SPBU ini. Namun seharusnya pemilik SPBU ataupun pengelola SPBU yang ada di Kota Mbay harus bisa merubah manajemen, manakala stok BBM jika tinggal sedikit segera dilaporkan ke depot Pertamina jangan sampai habis total baru dikomunikasikan ke depot Pertamina dan utamakan dahulu bagi kami yang sopir taksi, jangan didahulukan para pedagang eceran,”imbuhnya.

Sementara itu ditempat terpisah Laurensius Tara, Manager SPBU Pelangi 04 kelangkaan tersebut.

Laurensius menjelaskan, antrian tersebut disebabkan karena pasokan bensin yang masuk dari Depot Pertamina Ende hanya 8000 liter saja.

“Setiap hari kami ajukan 24.000 liter, tetapi sejak hari Senin, bensin yang dikirim hanya 8000 liter saja,”paparnya.”

“Karena ┬áhanya 8000 liter, makanya jam 9 malam sudah habis. Padahal biasanya SPBU ini membutuhkan 16.000-18.000 liter bensin setiap hari, untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Apalagi SPBU ini adalah satu-satunya SPBU di Kota Mbay. Pengendara yang mau ke Riung atau ke Maumere juga isi BBM di sini,”ungkapnya.

Laurensius berharap agar sebagai satu-satunya SPBU di Ibu Kota Kabupaten, SPBU Pelangi harusnya mendapatkan prioritas.

“Minimal BBM dikirim tiga per empat dari pengajuan kami.Ini kami ajukan 24.000 yang datang hanya 8000 liter saja.Mau jadi apa, ya akibatnya masyarakat harus mengantri,” tuturnya.

Laurens menambahkan, pihaknya sudah berupaya menghubungi pihak Depot Pertamina Ende, tetapi sama sekali tidak mendapatkan respon.

“Kami sudah telepon dan kirim SMS untuk menanyakan alasan mengapa bensin dikirim hanya sedikit, tetapi tidak ada balasan. Kami minta tambahan pengiriman,tetapi katanya yang akan dikirim hari ini hanya 8000 liter saja,”pangkasnya.

Laurensius berharap agar ada perhatian dari Pemda Nagekeo melalui dinas terkait untuk mengatasi masalah tersebut.

“Kami serba salah.Kami tahu bahwa SPBU ini milik swasta tetapi ini SPBU satu-satunya di Mbay. Mungkin Pemda Nagekeo bisa menolong dalam hal komunikasi atau koordinasi sehingga masalah ini cepat teratasi.Kalau tidak, antrian akan terus terjadi,”pintanya.

Laurens mengakui, pihaknya pernah melakukan rapat dengan Bagian Ekonomi Setda Nagekeo saat terjadi kelangkaan solar beberapa waktu yang lalu. “Semoga ada perhatian, sebab kalau BBM tidak ada, aktifitas masyarakat akan terganggu. Apalagi sudah memakan waktu yang lama begini,”tuturnya.

Pantauan VN, antrian kendaraan juga tampak di dalam area SPBU. Pengendara yang kelelahan tampak duduk dan tiduran di sekitar kantor manajer SPBU. Adapula beberapa orang sopir yang duduk serta tidur-tiduran di teras kantor pengelola SPBU akibat kelelahan karena mengantri berjam-jam. Bahkan ada yang sejak dari kemarin tidak bisa pulang ke kampung halamannya terpaksa harus menginap satu malam di Mbay untuk mendapatkan BBM. (bev/ol)