Sudah 45 PMI Illegal yang Meninggal di Malaysia

berbagi di:
foto-hal-01-cover-peti-jenazah-tki

Jenazah Benediktus Manek saat tiba di Bandara El Tari Kupang, Kamis (16/5). Tadi malam jenazah sudah tiba di kampung halamannya Desa Babulu Kecamatan Kobalima Kabupaten Malaka. Foto: Polce Siga/VN

 

Sejak Januari sampai pertengahan Mei 2019 ini, sudah terdata 45 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) illegal (non prosedural) asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia. Hanya satu PMI yang tercatat memiliki dokumen lengkap atau bekerja secara prosedural.

Benediktus Manek (42) menjadi PMI illegal terakhir yang meninggal dunia di Malaysia dan tiba di kampung halamannya di RT 02/RW 0I Dusun Uarau, Desa Babulu, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, tadi malam. PMI yang sudah bekerja di Malaysia selama 16 tahun itu tiba di Bandara El Tari Kupang dengan Pesawat Garuda Indonesia.

Manek meninggal dunia di Naman Sibu, Serawak, Malaysia Timur 9 Mei 2019 pukul 10.15 waktu setempat. Setelah dioutopsi kepolisian setempat, jenazah disemayamkan beberapa malam di rumah sakit.

Di Malaysia ia bekerja di perkebunan kelapa sawit di wilayah Serawak bersama sejumlah pekerja lainnya dari Malaka. Sejak 2003, Manek belum pernah pulang ke kampung halamannya.

“Ya rencananya dia baru mau pulang Bulan September ini untuk lihat keluarga di kampung, karena dari tahun 2003 itu dia tidak pernah pulang,” ujar sepupunya, Wido Manek kepada VN di Bandara El Tari kemarin.

Wido mengatakan, Manek bekerja di Malaysia sejak tahun 2003, namun belum pernah pulang ke kampung. Meski begitu, keluarga masih bisa berkomunikasi dengan.

“Kita tetap komunikasi dengan dia lewat telepon dan facebook juga. Tiba-tiba kita dengar dia sudah meninggal di Malaysia,” kata Wido.

Sementara itu, Oktavianus Tele Meak kerabat Manek yang sama-sama bekerja di Malaysia kepada VN kemarin mengatakan, selama ini korban sama sekali tidak mengeluh sakit. Ia mengaku, Manek ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah kamar tempat ia bekerja.

“Dia tidak sakit-sakit selama ini. Tiba-tiba saja kita masuk di bilik air liur sudah keluar dari mulut. Saat itu kita langsung telpon polisi untuk datang dan polisi sudah outopsi,” kata Oktavianus yang datang mengantar jenazah.

Ia mengatakan, selama ini bekerja di perkebunan kelapa sawit bersama dengan Manek. Ia sudah tiga kali pulang ke kampung halamannya di Malaka.

“Kita tinggal sama-sama. Saya di bilik nomor 06, dia dibilik nomor 13. Kita tinggal di camp,” ujarnya.

Sementara itu, petugas BP3TKI Kupang, Timoteus K Suban mengatakan sampai saat ini terdapat 46 orang PMI asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia. Hanya satu PMI yang memiliki dokumen lengkap.

“Ya dari Januari sampai dengan hari ini sudah ada 46 PMI yang meninggal di Malaysia. Satu orang saja yang bekerja secara prosedural di Malaysia dan dokumennya lengkap,” kata Timoteus.

Pantauan VN kemarin setelah tiba di Bandara El Tari, jenazah dijemput oleh kerabat dan sanak keluarga serta sejumlah pemerhati kemanusiaan. Jenazah selanjutnya diberangkatkan ke kampung halamanya dengan mobil ambulance BP3TKI Kupang.

“Ya nanti saya yang antar langsung untuk serahterima dengan keluarga. Tugas kita harus antar sampai ke alamat yang ada,” ujarnya. (pol/S-1)