Sukseskan Sosialisasi Imunisasi, Pemkab Belu Libatkan Tokoh agama, Kepala sekolah dan Guru UKS

berbagi di:
img-20201119-wa0023

 

Inilah suasana pembukaan Sosialisasi Imunisasi bagi anak sekolah di Belu, Kamis (19/11). Foto:Stef/vn.

 

 

 

Stef Kosat

 

 
UNTUK menghindari tuduhan tidak berdasar terhadap vaksin bagi anak-anak di Kabupaten Belu, maka Pemkab Belu mengundang para tokoh agama, Kepala sekolah dan guru UKS di Kabupaten setempat untuk melakukan sosialisasi imunisasi selama 2 hari.

Hal ini disampaikan Penjabat Bupati Belu, Zhakarias Moruk dalam sambutannya saat membuka kegiatan sosialisasi pelaksanaan bulan imunisasi bagi anak sekolah (BIAS) di Aula susteran SSPS Atambua, Kamis (19/11).

Menurutnya, prioritas pembanguan kesehatan di Kabupaten Belu sesuai RPJMD tahun 2016-2021 adalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi, perbaikan gizi, mempercepat penurunan prevalensi stunting, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, serta perbaikan lingkungan. Sehingga dibutuhkan dukungan semua pihak terlebih tokoh agama dan para guru.

“Jadi tujuan berimunisai supaya anak-anak memiliki kekebalan terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angkah mordibitas dan mortabilitas serta mengurangi tingkat kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi”, tandas Moruk.

Lebih sederhana, kata dia, imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat paling efektif dan efesien dalam mencegah beberapa penyakit berbahaya. Sebab sejarah telah mencatat besarnya peran imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari penyakit, kecacatan dan kematian. Akibat penyakit seperti cacar, polio, TBC, Hepatitis B, Campak, tetanus, pneumonia dan lainnya. Sehingga semua stakeholders diminta mendukung imunisasi tersebut.

“Apalagi dalam kunjungan kerja gubernur di Desa Davala beberapa waktu lalu, meminta khusus agar Pemkab Belu harus bisa mencegah kematian ibu dan bayi serta menurunkan prevalensi angka stunting. Apalagi sampai hari ini masih ada orangtua yang khawatir untuk melakukan imunisasi bagi anaknya. Jadi peran para tokoh agama, kepala sekolah dan guru UKS di kabupaten Belu sangat penting untuk menyukseskan imunisasi ini”, ungkapnya.

Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) merupakan program nasional yang meliputi pemberian imunisasi bagi siswa SD kelas 1, 2 dan 5. Kegiatan BIAS, dilaksanakan pada bulan Agustus dan November. Melalui kegiatan ini, siswa SD kelas 1 di Belu mendapatkan imunisasi Campak, pada November ditambah lagi imunisasi BG, dan siswa kelas 2 dan 5 mendapatkan imunisasi DPT merupakan vaksin yang diberikan pada anak untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

Jadi untuk mencapai hasil maksimal maka, diperlukan kepedulian dari semua pihak, baik dinkes, orangtua, guru, tokoh agama dan tokoh masyarkat sangat menentukan program tersebut. Sehingga tidak ada lagi penolakan dari masyarakat terhadap pemberian imunisasi.

Sementara kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, dr Joice Manek dalam materinya mengatakan sejak anak masih balita usia 0-18 bulan ia harus diberikan imunisasi atau vaksin hepatitis B. Pemberian Vaksin hepatitis B diberikan tiga kali. Yang pertama saat bayi baru lahir, paling lambat 12 jam setelah bayi lahir. Manfaatnya adalah untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi saat proses persalinan.

“Selanjutnya vaksin Polio, yang dikenal juga dengan nama penyakit lumpuh layu. Penyakit menular ini disebabkan oleh virus dalam saluran pencernaan dan tenggorokan dan dapat mengakibatkan kelumpuhan kaki, tangan, maupun lumpuhnya otot pernafasan yang menyebabkan kematian. Sehingga Vaksin polio diberikan sebanyak 4 kali sebelum bayi berumur 6 bulan, yaitu pada saat lahir, usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, kemudian diberikan lagi pada saat anak berusia 18 bulan dan 5 tahun”, jelas mantan Dirut RSUD Gabriel Manek SVD ini.

Setelah itu, anak harus diberi vaksin BCG yang berfungsi untuk mencegah anak terkena kuman tuberculosis yang dapat menyerang paru-paru dan selaput otak dan dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian.

Selanjutnya anak tersebut harus diberi lagi Vaksin campak. Dimana campak diberikan dua kali, yaitu pada usia 9 bulan dan 24 bulan. Jika anak sudah mendapat vaksin MMR saat berusia 15 bulan, maka vaksin campak yang kedua tidak perlu diberikan lagi. Manfaat dari vaksin ini adalah mencegah penyakit campak berat yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), diare, dan bisa menyerang otak”, pungkas dr Joice. (Yan/ol)