Tak Hanya Instansi, Pool Test Swab Dapat Dilakukan Per Keluarga

berbagi di:
img-20210222-wa0038

 

 

 

 

Putra Bali Mula

Fima Inabuy Ketua Tim Lab Biokesmas – Forum Academia NTT (FAN) menegaskan pemeriksaan swab PCR dengan sistem pool test untuk masyarakat tidak hanya berlaku untuk kelompok atau instansi tetapi juga per keluarga.

Hal ini ia sampaikan dalam webinar melalui channel YouTube dan Facebook Forum Academia NTT (FAN) Senin malam (22/2). Webinar ini bertema Prosedur Test Massal (Pool Test) Gratis Swab PCR di Laboratorium Biokesmas NTT.

“Ketika masyarakat tidak punya instansi pun masih dapat bersurat. Atas nama kepala keluarga pun bisa kita layani dan ini sudah sering kita lakukan. Kata kuncinya adalah alasan yang jelas maka pasti kami layani meski bukan instansi,” ungkapnya.

Ia menyebut dominan yang melakukan pool test adalah dari instansi-instansi. Sampai dengan saat ini 56 persen pengguna pool test di Laboratorium Biokesmas NTT adalah tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit lingkup Kota Kupang.

Sebelumnya, Theodor Bole selaku Humas Laboratorium Biokesmas NTT dalam webinar tersebut menyampaikan jumlah maksimun orang yang dites tidak dibatasi namun untuk jumlah minimal yaitu sepuluh orang.

Pertama-tamaa, pihak yang akan dites atau disebut klien perlu menentukan narahubung yang akan berkomunikasi dengan pihak laboratorium.

Selanjutnya klien perlu membuat surat-surat pengajuan ke Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan dinas kesehatan kabupaten kota perihal pengambilan swab.

Nantinya akan dijadwalkan pengambilan swab sementara klien mengisi formulir via Google Form yang nantinya dikirim oleh Laboratorium Biokesmas NTT sebelum test dilakukan.

“Setelah sampel pemeriksaan yang diambil tiba di laboratorium juga disortir lagi apakah sudah sesuai data atau belum,” ungkapnya.

Bila telah sesuai maka dapat dilanjutkan ke proses pemeriksaan sampel.

Menurutnya, dalam kurun waktu satu hingga dua hari hasil dari pool test dapat dirilis kepada klien.

Philip de Rozari selalu pengguna pool test pada pemeriksaan yang pernah dilakukannya mengakui prosedur yang ada mudah diikuti sesuai arahan yang ada.

Menurut pengalamannya sebagai kontak erat, tracing ini perlu ditaati sesuai formulir via Google Form yang perlu diisi. Namun,  ia mengaku hal ini masih perlu disosialisasikan, tidak hanya prosedurnya namun juga keberadaan Laboratorium Biokesmas NTT yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat.

“Untuk itu sosialisasi ini menjadi penting,” kata dia. (bev/ol)