Tanggulangi Anemia di TTU, NI-Save The Children Gandeng Marungga Foundation Latih Petugas Puskesmas dan Sekolah

berbagi di:
img-20210303-wa0060

 

Foto Bersama: Asisten 1 Setda Kabupaten TTU Joseph Kuabib berfoto bersama peserta dan fasilitator Pelatihan bagi Petugas Puskesmas dan Sekolah tentang Penanggulangan Anemia pada Remaja Puteri di Hotel Victory 2, Kefamenanu, TTU, Rabu (3/3). Foto: istimewa

 

 

 

Paskal Seran
NUTRITION International (NI) dan Save the Children bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Tangguh Sejahtera (Marungga Foundation), melalui Program Better Investment for Stunting Alleviation (BISA) yang didanai oleh Pemerintah Kanada, Pemerintah Australia melalui DFAT, Asia Philanthropy Circle, dan the Power of Nutrition, menggelar Pelatihan bagi Petugas Puskesmas dan Sekolah tentang Penanggulangan Anemia pada Remaja Puteri. Kegiatan ini bertujuan menguatkan kapasitas pemangku kepentingan untuk berkolaborasi, berkoordinasi, mengimplementasikan, dan memonitor program Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) remaja putri di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Dalam rilis yang diterima VN, Rabu (3/3), kegiatan ini yang digelar sejak Rabu (3/3) hingga Kamis (4/3) di Hotel Victory 2, Kefamenanu, TTU melibatkan 11 orang Pengelola Gizi Puskesmas, 20 orang Guru UKS SMA/SMK/sederajat dan satu orang TP UKS kabupaten, dan satu orang pengelola UKS Kabupaten.

Deputy of Chief Party Project BISA, Donatus Klaudius Marut, menyampaikan bahwa Program BISA ini dirancang bersama antara NI, Save The Children, Beppenas, dan Kementerian Kesehatan untuk mendukung program nasional penurunan stunting.

Ada pun fokus dari Program BISA ini adalah penguatan sisi pelayanan kesehatan dan gizi, dan pemberdayaan masyarakat dengan mempromosikan perubahan perilaku berkaitan dengan asupan gizi dan higienitas. Kegiatan Pelatihan ini diharapkan akan memberi pengetahuan dan ketrampilan bagi para peserta agar bisa menjalankan tugas menanggulangi anemia pada remaja putri di tempat kerjanya masing-masing.

Menurut Marut, berdasarkan hasil baseline survey Program BISA pada Februari – Maret 2020, teridentifikasi bahwa prevalensi Anemia pada Remaja Putri di TTU 76.1 persen (gabungan anemia ringan, sedang, berat). Artinya hampir empat dari lima remaja putri di TTU mengalami anemia.

Salah satu masalah kesehatan yang menjadi fokus pemerintah adalah penanggulangan anemia pada remaja putri. “Anemia merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, letih dan lesu sehingga akan berdampak pada kreativitas, konsentrasi belajar dan produktivitasnya. Tak hanya itu, anemia pada remaja putri juga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit pada saat dewasa,” jelasnya.

Angka kejadian anemia di Indonesia, kata Marut, terbilang masih cukup tinggi, termasuk di Kabupaten TTU di mana program BISA bekerja. Hal tersebut dipengaruhi berbagai faktor antara lain kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal.

Bupati TTU Juandi David, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten 1 Setda Kabupaten TTU, Joseph Kuabib mengatakan, pentingnya dimensi kesehatan pembangunan di Kabupaten TTU. “Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari program pembangunan secara keseluruhan, yang mendapat penekanan khusus dalam visi misi yang selalu kami kampanyekan selama ini,” ujarnya.

Bupati Juandi menegaskan, pembangunan kesehatan menjadi agenda prioritas karena kesehatan merupakan layanan dasar dan hak rakyat. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat tergantung pada peran aktif masyarakat untuk menyadari akan pentingnya pola hidup bersih dan gizi yang berimbang.

David menegaskan, bahwa masalah utama anemia pada remaja putri dan ibu hamil bukan terletak pada makanan yang kita miliki tetapi pada perilaku dan cara pengolahan makanan. Maka, langkah strategis yang dilakukan pemerintah daerah adalah memberikan penyadaran dan kampanye perubahan perilaku dengan membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga non pemerintah.

Pembangunan kesadaran masyarakat secara kritis merupakan kunci dari perubahan perilaku dan karena itu para petugas kesehatan harus memahami bahwa pemberdayaan masyarakat bermuara pada kemandirian dan peningkatan kesadaran masyarakat. Maka untuk mengatasi anemia, tidak cukup memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) melainkan perlu diajarkan terkait dengan pola perilaku hidup sehat dan bersih.

Untuk itu, dia berharap, semua stakeholder menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama untuk mendorong perubahan pola hidup sehat pada remaja putri. Jika pola hidup sehat sudah terbangun maka masalah gizi dan anemia bisa teratasi.

Seperti disaksikan, dalam kegiatan itu yang bertindak sebagai Fasilitator/Trainer adalah staff dari bidang Pelayanan Kesehatan, seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, Staf Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang terdiri dari Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB, MKKS SMA dan MKKS SMK. Para fasilitator ini telah mengikuti kegiatan TOT tingkat provinsi pada Januari 2021. Penyelenggaraan kegiatan dilakukan secara daring dan luring dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (*/Yan/ol)