Target Penerimaan Pajak KPP Pratama Waingapu Rp 355 Miliar

berbagi di:
img-20190508-wa0026

Kepala KPP Pratama Waingapu Yusuf Sarnoto didampingi Kasubag Umum dan Kepatuhan Internal Hendra Abadi memberikan keterangan terkait target dan realisasi penerimaan pajak, di ruang kerjanya Rabu (8/5). Foto: Frangky Johannis/VN

 

Frangky Johannis

Target penerimaan pajak yang dibebankan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Nusa Tenggara kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Waingapu sebesar Rp 355 miliar atau naik 22,57 persen dari realisasi penerimaan pajak tahun 2018 sebesar Rp 292 miliar.

Hal ini disampaikan Kepala KPP Pratama Waingapu Yusuf Sarnoto didampingi Kasubag Umum dan Kepatuhan Internal Hendra Abadi kepada VN, di ruang kerjanya Rabu (8/5).

Menurut Sarnoto, hingga saat ini pihaknya telah membukukan penerimaan pajak sebesar Rp 58 miliar lebih atau sekitar 16,57 persen dari target tahun ini sebesar Rp 355 miliar.

“Posisi hingga April, realisasinya sekitar Rp 58 miliar lebih atau sekitar 16,57 persen. Kalau kita aplle to aplle dengan tahun 2018 sampai dengan hari ini (8 Mei 2019) posisi kita tumbuh sekitar 9 persen,” katanya.

Menurutnya, walau hingga April baru mencapai 16,57 persen, namun harapan untuk mencapi target itu masih ada karena sektor penerimaan pajak di KPP Pratama Waingaupu yang membawahi empat kabupaten di Pulau Sumba, yakni Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya itu 40 persen berasal dari sektor bendahara dan 60 persennya dari sektor non bendahara. Artinya pencairan-pencairan itu ramainya itu setelah semester kedua tahun berjalan, jadi masih terbuka penerimaan dari sektor bendahara.

Sedangkan dari sektor non bendahara, kata Sarnoto, biasanya akan mulai menggeliat pada masa-masa Lebaran dan akhir tahun menjelang Natal karena sektor dominan adalah perdagangan terutama antarpulau dan konsumsi.

“Di Sumba ini barang konsumsi kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan infrastruktur konstruksi seperti semen, besi, dan lainnya tergantung dari Jawa, terutama Surabaya. Ini ada harapan bagi penerimaan pajak karena Program Nawa Cita Presiden Jokowi yang salah satunya adalah pengembangan ekonomi diwilayah Indonesia timur, akan berdampak pada perkembangan ekonomi di daerah ini,” katanya.

Sarnoto mengatakan, tahun 2019 sesuai program kegiatan infrastruktur yang akan masuk di sini baik, dari APBD Provinsi maupun APBN, seperti pembangunan jalan lingkar selatan, pembangunan bendungan dan lain-lainnya. Sehingga, setelah proses lelang akan segera berdampak pada kenaikan penerimaan pajak.

Sektor lainnya yang tak kalah menarik dan mendukung penerimaan pajak adalah investasi baru perkebunan tebu yang terintegrasi dengan pabrik gula yang merupakan investasi PT Muria Sumba Manis (MSM) yang segera beroperasi pertengahan 2020 mendatang, juga pengembangan potensi wisata dengan pertumbuhan hotel seperti resort terbaik dunia Nihiwatu, di Sumba Barat, serta investasi di bidang pariwisata lainnya.

Untuk diketahui, tahun 2018 ada kontribusi pajak yang sangat signifikan dari investasi PT MSM di Sumba Timur, dan juga kontribusi yang lumayan besar dari Nihiwatu Resort.

“Kami berharap tahun ini dan ke depan akan ada kontribusi yang terus naik signifikan karena proses pembangunan pabrik gula itu melibatkan sejumlah sub kontraktor dari luar maupun yang ada di Sumba,” katanya.

Dengan sejumlah data ini, pihaknya optimistis penerimaan pajak sesuai target yang ditetapkan akan dicapai karena ada dukungan potensi kesadaran masyarakat membayar pajak, disamping itu juga kehadiran PT MSM dan Nihiwatu Resort, dan investasi di bidang lainnya. (bev/ol)