Ternak Di Nangalili Kurang Sehat

berbagi di:
foto-hal-09-ternak-sapi-edisi-280618

Ilustrasi ternak sapi

Gerasimos Satria

Kehidupan ternak di Desa Nangalili, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur saat ini dalam kondisi kurang sehat. Hewan yang ada mengalami penurunan berat badan karena ketersedian makanan dan air di wilayah terbatas karena kemarau yang panjang.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Desa Nangalili, Candu Muhamad Tahir kepada VN Minggu (12/5) di Labuan Bajo.

Menurutnya, 20 persen penduduk Desa Nangalili bekerja sebagai petani dan peternak sapi. Sisanya berprofesi sebagai nelayan dan pengusaha kecil dan menengah. Selain memelihara sapi, masyarakat di desa itu juga memelihara ternak kambing, kerbau dan sebagiannya. Curah hujan di wilayah Kecamatan Lembor Selatan dan sekitarnya sejak Januari 2018 hingga saat ini sangat rendah. Puncak kemarau di Desa Nangalili sudah dimulai sejak Agustus hingga berapa bulan ke depan.

Setiap musim kemarau tiba, maka dipastikan pasokan untuk makanan dan air untuk kebutuhan Sapi di Nangalili turun dratis. Rumput yang ada di padang di Nangalili mengering. Volume air di beberapa kali berkurang dan cendrung kosong.

Tahir mengatakan setiap musim kemarau panjang seperti saat ini, masyarakat petani di Desa Nangalili ramai-ramai membudidayakan tanaman holtikultura berupa aneka sayur, bawang merah, kacang-kacangan. Hasil tanaman hultikultura tersebut nantinya warga Nangalili dipasarkan di Labuan Bajo, Pasar Wae Nakeng Lembor dan Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.

Kepala Desa Nangabere, Abdul Wahid dan Kepala Desa Benteng Dewa, Fidiles Gius juga mengeluhkan hal yang sama.

Menurut mereka, pemilik ternak sangat sulit mendapatkan pakan dan air untuk dikonsumsi Sapi.

“Tidak hanya sapi, kerbau dan kambing juga kurus. Masyakat sangat sulit menemukan rumput yang masih hijau. ,” kata Wahid.

Dia mengatakan Desa Nangabere sangat dekat dengan pantai selatan. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan makanan untuk sapi dan ternak lainnya masyarakat memanfaatkan rumput yang ada di padang di Desa Nangabere.  Wilayah Lembor yang rumputnya  masih hijau berada di Wae Nakeng. Jarak antara Nangabere menuju Wae Nakeng cukup jauh. Sehingga masyarakat tetap bertahan memilih rumput kering untuk makanan sapi.

Seperti pada desa lainnya, masyarakat Desa Nangabere juga terpaksa fokus menanam tanaman holtikultura untuk peningkatan ekonomi. Masyarakat fokus menanam bawang dan kedeleai di saat musim kemarau. (bev/ol)