Tersangka Pembunuhan Purnawiraan TNI Menangis di Balik Terali Besi

berbagi di:

Berchmans Nahak

 

 

Tersangka kasus pembunuhan Purnawirawan TNI Joao Vicente, Daniel Seran alias Danker menangis di balik terali besi ketika dibesuk isterinya, Susana Ona, Selasa (4/7) siang.

Susana kepada wartawan mengaku tidak berdaya ketika berhadapan dengan suami di balik terali besi.

“Saya tidak tahu, kenapa suami saya menangis. Dia hanya menangis. Mungkin karena dia lihat saya datang,” tutur Susana begitu prihatin ketika melihat kondisi suaminya.

Perjumpaannya dengan Dan, demikian akrab disapa sebagai isteri tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja sehingga dengan berat hati, Susana pulang setelah memberikan makan lewat celah terali besi bagian bawah.

“Saya hanya lihat suami yang ada dalam tahanan. Hanya pegang tangan dan dia menangis. Dia hanya bilang, sakit. Terus mau bagaimana. Saya tidak bisa buat apa-apa. Kalau di luar, saya bisa lihat,” kisah Susana sembari mengaku suaminya sakit memar pada tangan, kaki dan sekujur tubuhnya.

Menurut Susana, sang suami tidak bisa tidur karena merasakan sakit akibat memar di sekujur tubuhnya. Susana tidak tega melihat suaminya tidak bisa tegak berdiri karena sakit memarnya. Itulah sebabnya, Susana mencari jalan keluar dan mendatangi kuasa hukum untuk mengadukan kondisi suaminya.

Tim kuasa hukum Danker di antaranya Jemy Haekase, Silvester Nahak dan Martinus Bobe kepada wartawan mengaku sudah menerima informasi pengaduan Susana.

Jemy mengatakan kalau kondisi itu dialami kliennya, maka tim kuasa hukum akan mengambil langkah hukum. Tujuannya adalah mendukung proses hukum yang sementara berjalan dengan syarat tetap menjamin keamanan dan kenyaman tersangka. Sehingga kuasa hukum mendampingi Susana melaporkan kondisi suami ke Kanit Provost Polres Belu.

“Kami sudah laporkan dugaan kekerasaan kepada provost,” kata Jemy.

Pada kesempatan yang sama, Silvester menyesalkan perlakuan oknum polisi yang membuat kondisi tahanan begitu memprihatinkan. Atas kondisi ini, demikian Silvester berharap agar penyidik bisa memperkenankan Susana dengan leluasa bertemu suaminya.

“Jangan hanya bertemu pandang lewat terali besi,” kata Silvester.

Selanjutnya, ia berharap proses pengambil keterangan harus prosedural dan tidak boleh disertai tindak kekerasan.

“Saat diperiksa, kondisi Danker, baik. Tapi setelah itu, ko malah sakit. Kan, dia sudah mengaku bahwa dia yang bunuh. Apalagi yang mau diharapkan. Kita harapkan, proses penyelidikan dalam rangka pengembangan kasus tetap pada koridor, sehingga tidak melawan aturan dan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi tersangka dalam menjalani proses hukum yang sementara berjalan,” pinta Silvester kepada wartawan usai membesuk kliennya di Mapolres Belu.

Sebelumnya Kapolres Belu, AKBP Yandri Irsan membantah adanya tindakan kekerasan terhadap para tersangka pembunuhan staf kantor Markas Cabang (mascab) LVRI Kabupaten Belu. Demikian pun tidak ada penangkapan terhadap dua saksi lain Stefanus Bau Atok dan Julio do Carmo. Keduanya dihadirkan untuk dimintai keterangan.

Kapolres Yandri mengatakan pengembangan kasus tentu butuh saksi untuk memberikan keterangan. Stefanus dan Julio dihadirkan ke Mapolres Belu dalam rangka pengamanan. Tidak ada penangkapan keduanya sebagai tersangka. Selanjutnya, satu tersangka yang menjadi DPO saat ini yakni Marius Mesak akan diusahakan untuk didatangkan. Penyidik yakin tersangka akan segera dihadirkan.