Tim Satgas Pencegahan Covid-19 Tingkat Kelurahan Penfui Diminta lebih Proaktif

berbagi di:
img-20210108-wa0016

 

Kegiatan sosialisasi dan edukasi penerapan protokol kesehatan Covid-19 oleh Satgas Covid-19 Kelurahan Penfui, belum lama ini. Foto: istimewa.

 

 

 

Sinta Tapobali

 

 

TIM satuan tugas penanganan covid-19 tingkat Kelurahan yang dibentuk Pemerintah untuk membantu mengedukasi masyarakat dan membantu menangani penyebaran Covid-19 di tingkat Kelurahan dinilai hanya dibentuk sebagai pajangan karena tidak melaksanakan tugas dan fungsinya secara lebih bertanggung jawab.

Maka itu, dengan melihat semakin meningkatnya kasus Covid-19 di Kota Kupang, tim Satgas Covid-19 tingkat Kelurahan diminta lebih proaktif dalam membantu pemerintah untuk mengedukasi masyarakat berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan.

“Selaku masyarakat biasa, kami rasa Satgas Kelurahan kurang berfungsi dengan baik, mungkin untuk kelurahan yang tingkat pasien positif tinggi mereka bagus kerjanya tapi di kelurahan lain, kami masyarakat tidak merasa sama sekali kerja nyata mereka,” ungkap Leslie, salah satu warga Kelurahan Penfui, kepada VN, Jumat (7/1) siang ketika ditemui VN di Kelurahan Penfui.

Menurutnya, berdasarkan apa yang ia lihat di Kelurahan Penfui dan beberapa kelurahan lainnya, terkadang masih terlihat masyarakat yang tidak menggunakan masker saat berada di luar rumah. Bahkan, para penjual ikan dan sayuran di pasar juga terlihat banyak yang tidak menggunakan masker saat berjualan. Ia sendiri mempertanyakan kerja bagus yang dimaksudkan pemerintah dalam penanganan Covid-19 itu seperti apa? karena terbukti masih banyak masyarakat yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan.

“Ambil contoh di daerah Penfui sini, Oebufu, dan beberapa kelurahan lainnya, kadang saya bisa ketemu bapak mama basodara yang pi (Pergi) alfamart atau kios tanpa masker atau penjual ikan, sayur di pinggir jalan atau yang keliling jarang pake masker, entah yang maksud pemerintah kerja bagus itu di bagian mana. Satgas Kelurahan yang dibilang kerja itu yang bagaimana karena saya sendiri tidak pernah lihat mereka turun lapangan untuk tegur masyarakat yang tidak pakai masker,” tambahnya.

Sementara itu, Tomi Giri, warga lainnya mengaku beberapa kali melihat Pemerintah Kelurahan Pendui dan tim satgas Kelurahan yang terdiri dari para ketua RT, RW dan warga lainnya turun ke tengah masyarakat untuk mengingatkan dan mengedukasi masyarakat terkait dengan protokol kesehatan. Namun, hal ini tidak rutin dilakukan. Ia meminta dan berharap agar tim satgas penanganan covid-19 tingkat Kelurahan dapat lebih proaktif dalam mengedukasi masyarakat soal penerapan protokol kesehatan.

“Saya pernah lihat mereka turun di Nasipanaf di salah satu rumah orang yang mau buat acara nikah dan di sana mereka ketemu keluarga dan mengingatkan agar acara hanya boleh sampai jam sembilan malam dan wajib semua tamu pakai masker. Kebetulan saat itu saya hadir sehingga saya rasa mereka sudah turun hanya belum rutin saja. Harapannya mereka sering turun supaya masyarakat bisa lebih teredukasi lagi,” harapnya.

Lurah Penfui, Fransisko Dugis yang dikonfirmasi VN mengatakan bahwa Pemerintah Kelurahan Penfui dan tim satgas pencegahan covid-19 tingkat kelurahan telah beberapa kali turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat terkait penerapan protokol kesehatan.

Menurutnya, dalam beberapa bulan belakangan ini, ia bersama tim satgas kelurahan telah beberapa kali turun ke masyarakat bahkan ke sekolah untuk melakukan edukasi terkait protokol kesehatan.

“Bukan tidak bergerak, kami beberapa kali turun ke masyarakat misalnya baru-baru kami turun ke warga yang ingin mengadakan acara pesta nikah di sana kami melakukan pendekatan dan edukasi kepada keluarga agar melaksanakan acara pesta nikah tersebut dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku dan juga kami meminta agar acara hanya boleh berlangsung hingga pukul 21.00 Wita,” jelasnya.

Belum Patuh

Fransiska mengakui, masyarakat Kelurahan Penfui memang belum secara keseluruhan menyadari dan mematuhi protokol kesehatan seperti salah satunya penggunaan masker.

“Lebih parahnya lagi ada RT dan RW yang keluar rumah bahkan datang ke kantor lurah tidak pakai masker. Mereka ini sebenarnya menjadi contoh baik bagi masyarakat tetapi justru mereka sendiri yang memberikan contoh buruk. Sudah beberapa kali kami bersama Babinsa bahkan Tentara Auri turun ke beberapa titik lokasi untuk melakukan razia masker, tapi itu pun belum bisa memberikan efek jera kepada masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya kebanyakan masyarakat merasa dirinya dalam keadaan sehat sehingga tidak perlu menggunakan masker pada saat bepergian padahal seharusnya di tengah situasi pandemi dan melihat eskalasi penyebaran Covid-19 di Kota Kupang yang semakin meningkat, seharusnya masyarakat lebih menyadari akan pentingnya penerapan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

“Tim Satgas dan pemerintah kelurahan ini tugasnya hanya mengingatkan dan sedangkan untuk pengambilan tindakan tidak bisa kami lakukan karena itu wewenangnya pihak yang berwajib. Tapi ke depannya kami akan lebih proaktif lagi dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Kelurahan Penfui agar mereka lebih memahami akan pentingnya penerapan protokol kesehatan,” tambahnya.

Untuk kelurahan penfui sendiri menurutnya sudah terdapat 6 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 namun sudah dalam keadaan sembuh. Ia mengajak seluruh warga agar tetap mengutamakan penerapan protokol kesehatan demi kebaikan bersama.

“Baru-baru ada yang positif dan itu sudah kami lakukan koordinasi dengan ketua RT dan RW setempat untuk mengontrol secara langsung agar keluarga yang sedang dalam masa karantina tidak boleh keluar. Bahkan kami juga koordinasi dengan tim Satgas Kota Kupang untuk mendatangkan petugas melakukan disinfektan di rumah pasien. Semuanya telah terlaksana dengan baik dan Puji Tuhan semua yang positif saat ini sudah dalam keadaan sembuh dan kelurahan kita sudah kembali masuk dalam zona hijau,” jelasnya. (Yan/ol)