Tips Menangani Stres dan Menghadapi Anak di Tengah Pandemi

berbagi di:
img-20210227-wa0008

 

 

 

 

Sinta Tapobali
Selama pandemi Covid-19, sebagai manusia tentu kuta mengalami stres karena harus menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai perubahan di berbagai aspek kehidupan.

Kondisi ini bukan hanya dirasakan oleh orang tua tetapi juga bisa dirasakan anak-anak. Untuk mengantisipasi dan menangani stres, kita bisa menyikapinya dengan cara meluangkan waktu untuk diri sendiri sehingga tetap rileks dan penting melakukan refleksi diri.

“Salah satu cara relaksasi adalah dengan cara menarik nafas yang cukup panjang kemudian menahan jangan dihembuskan secara perlahan lewat mulut. Selain relaksasi orang tua juga bisa mengambil langkah untuk merefleksi diri dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama cukup 1 sampai 2 menit, kita tarik napas kemudian kita relaks. Refleksi diri juga tidak membutuhkan waktu yang lama cukup 1 atau 2 menit sudah bisa membuat kita lebih tenang dan dapat mengendalikan emosi atau rasa jenuh dan lelah kita,” ujar Esther Kurniawati , seorang Dosen Psikologi UPH dan Konselor Kristen, dalam webinar bertema Strong Parents Build Strong Kids yang diadakan oleh Sekolah Dian Harapan Kupang, Sabtu (27/2) sore.

Untuk mengelola stres, orang tua harus mampu menyikapi setiap kondisi dengan cara yang positif. Ciptakan sinergitas dengan anak sehingga lebih mengenal karakteristik anak dan mudah untuk bersinergi dengan mereka.

Orang tua juga harus mampu memahami lingkup belajar anak sehingga bisa membantu mereka dalam menghadapi situasi yang mereka hadapi. Orang tua harus bisa memahami setiap kemampuan, kesulitan, keterbatasan, kecemasan dan ketakutan yang dihadapi anak pada saat belajar dari rumah.

“Pengalaman orang tua berbeda dengan pengalaman belajar anak saat ini oleh karena itu sebagai orang tua kita harus mampu memahami setiap kesulitan dan kecemasan maupun ketakutan yang dialami oleh agar kita bisa membantu mereka mengatasi hal tersebut. Dibutuhkan keterbukaan antara anak dan orang tua agar orang tua bisa memahami kondisi anak. Ini bisa mempererat hubungan antara orang tua dan anak,” ujarnya.

Sebagai orang tua, penting untuk membangun dan menciptakan jejaring untuk anak-anak dengan cara membangun komunikasi dengan guru dan teman sekelasnya sehingga ia tetap merasakan kondisi ketika ia berada di sekolah.

Selain membangun komunikasi dengan guru maupun teman sekelas anak, orang tua juga harus mampu membangun hubungan komunikasi dengan anggota keluarga lainnya yaitu antara anak kandung yang lain, dengan opa, oma sehingga pada situasi tertentu mereka dapat membantu untuk mendampingi anak dalam proses belajar.

Apabila hal-hal ini dapat dilakukan, maka orang tua telah mampu menciptakan strategi kreatif bagi anak dalam mendukung proses belajar mereka selama berada di rumah.

“Anak-anak kita masih perlu mendapatkan tuntunan dari kita sebagai orang tua meskipun mereka sudah SMP maupun SMA, tetapi peran kita sebagai orang tua sangat mendukung prestasi belajar anak kita. Sebagai orangtua kita harus mampu menciptakan proses belajar yang nyaman dan menyenangkan sehingga ketika belajar anak merasa termotivasi dan memiliki semangat belajar yang tinggi,” tambahnya.

Orang tua juga harus mampu memahami cara berpikir anak agar kita bisa memberikan pujian di saat yang tepat. Memberikan pujian dapat meningkatkan motivasi anak untuk lebih semangat dalam belajar.

Orang tua juga harus bisa menghargai pendapat anak agar anak tidak merasa langsung disalahkan karena setiap anak mempunyai pemahaman dan pemikiran yang berbeda-beda dan jangan lupa untuk tetap menemani dan memotivasi anak dalam belajar karena motivasi sangat penting untuk membuat anak menjadi lebih semangat dalam belajar. (bev/ol)