TP4D Dan PPK Bor Dua Ruas Jalan Guna Memastikan Kualitas Pekerjaan

berbagi di:
Pembangunan ruas jalan menju SMAN 2 Kefamenanu yang  disebut DPRD menggunakan komposisi agregat yang tidak sesuai spec.

Gusty Amsikan

Untuk memastikan polemik dugaan ketidaksesuaian penggunaan material agregat A pada 11 proyek peningkatan ruas jalan di Kota Kefamenanu, Tim Pengawal dan Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kabupaten TTU, PPK, Bagian Laboratorium PU, Konsultan Pengawas serta rekanan PT. Happy Jaya Abadi, melakukan Corddril terhadap ketebalan HRS (hotmix) pada sejumlah ruas jalan yang tengah dikerjakan. Selain pengambilan sampel pada kedua ruas jalan tersebut, tim juga melakukan monitoring langsung pada lokasi produksi AMP dan agregat di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan. Hasilnya, proses produksi dan penggunaan material telah memenuhi standar teknis yang ada. Dengan demikian dugaan ketidaksesuaian material seperti yang disoroti anggota DPRD TTU adalah tidak benar.

Pantauan VN Senin (2/10) di lapangan, Ketua TP4D Kabupaten TTU, Novantoro Catur Prabowo, bersama PPK, Anton Kapitan, petugas laboratorium PU, Konsultan pengawas serta rekanan PT. Happy Jaya Abadi, melakukan pemantauan langsung di lokasi produksi AMP dan agregat di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan. Setelah melakukan pemantauan, tim kemudian mendatangi dua lokasi pengerjaan proyek peningkatan jalan di SMAN 2 Kefamenanu dan Jalan Asam, Pasar Lama Kefamenanu, untuk mengambil sampel dan mengukur ketebelan hotmix dan agregat.

Ketua PPK, Anton Kapitan, kepada wartawan di lapangan mengatakan kedatangan tim yang terdiri dari TP4D, PPK, Bagian Laboratorium PU, Konsultan Pengawas serta rekanan PT. Happy Jaya Abadi, adalah untuk mengecek langsung proses pengerjaan material serta penggunaan material pada ruas jalan yang tengah dikerjakan.

Menurut Kapitan, proses pemantauan tim dilakukan secara bertahap mulai dari produksi material agregat hingga hasil akhir pemasangan di lapangan. Dalam pantauan pihaknya, proses pembuatan material hingga penggunaan material di lapangan telah dilakukan pihak rekanan sesuai pedoman dan tidak keluar dari RAB. Pihaknya bahkan membawa sampel pencampuran material agregat dari tempat produksi dan mencocokkan dengan hasil pekerjaan di lapangan dan mendapati material yang digunakan telah memenuhi standar teknis yang berlaku.

“Salah satu syarat untuk memastikan material agregat sesuai dengan spec atau tidak adalah hasil laboratorium. Hari ini kita dengan tim sudah membuktikan semua proses sesuai dengan spec. Meskipun demikian, ke depannya proses pengawasan akan terus diperketat. Kami akan menempatkan pengawas pada masing-masing bagian, mulai bagian produksi hingga pengerjaan di lapangan, agar kualitas pekerjaan tidak mengabaikan mutu,” tandasnya.

Ketua TP4D, Novantoro Catur Prabowo mengatakan kedatangan pihaknya ke lapangan untuk memantau langsung pengerjaan proyek peningkatan ruas jalan di wilayah Kota Kefamenanu. Langkah monitoring dilakukan sebagai upaya pencegahan timbulnya kerugian negara dalam proyek tersebut dan memperjelas polemik yang terjadi.

Novantoro menegaskan, Peran TP4D dalam pelaksanaan proyek-proyek di Kabupaten TTU untuk melakukan pendampingan dan pencegahan terhadap kerugian negara. Pihaknya sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk melakukan penilaian dari aspek teknis. Kedatangan pihaknya ke lapangan semata-mata untuk melakukan monitoring dalam upaya pencegahan terjadinya kerugian negara.

“Kami turun ke lapangan bukan karena masalah atau polemik tapi karena monitoring. Hanya kebetulan polemik ini sudah terjadi, sehingga mau tidak mau kami wajib turun ke lapangan sehingga yang terjadi tidak meluas ke masyarakat. Tugas kami adalah melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan proyek apakah sesuai kontrak atau tidak,” ringkasnya.

Rekanan PT. Happy Jaya Abadi, Fransiskus Sosa, mengatakan untuk memastikan pendapat DPRD terkait ketidaksesuaian penggunaan material agregat, pihaknya bersama pihak terkait turun langsung ke lokasi dan mengecek proses produksi dan penggunaan material dalam proyek yang dikerjakan pihaknya. Sebagai rekanan ia mengundang semua pihak yang berkompeten termasuk DPRD untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan secara teknis di lapangan guna memastikan pekerjaan tersebut sesuai dengan spec ataukah tidak.

Meskipun demikian ia tetap berterimakasih kepada DPRD yang telah menjalankan fungsi pengawasan dan memiliki kepedulian terhadap mutu pekerjaan yang tengah dikerjakannya. Langkah pengambilan sampel hari ini di lapangan bertujuan untuk membuktikan apakah material agregat A menggunakan batu pecah ataukah hanya batu sisa ayakan seperti hasil monitoring DPRD. Ia menegaskan, dalam pengerjaan proyek tersebut, pihak terlebih dahulu menggunakan batu dan timbunan pilihan setebal 30 cm. Setelah itu, diikuti material agregat setebal 15 cm, sesuai hasil pengambilan sampel yang saksikan tim hari ini.

“Saya sangat menghargai hasil monitoring DPRD. Kalau bisa DPRD melakukan monitoring dari awal proses hingga pelaksanaan di lapangan sehingga hasilnya bisa tahu cara kerja kami. Jangan hanya melihat ketika kami memuat timbunan pilihan kemudian berasumsi bahwa itu adalah pengganti agregat. Toh pekerjaan yang saya kerjakan sekarang baru mencapai kurang lebih 20 persen dari total pekerjaan yang ada. Kami juga bersedia membongkar dan mengerjakan ulang jika terbukti tidak memenuhi standar teknis,” tandasnya.