Tren Wisata Alam Baru, Sampah Plastik dan Kesadaran Menjaga Lingkungan

berbagi di:
foto-hal-04-ilustrasi-opini-satu-170920

 

 

Oleh Krismanto Atamou
(Guru IPA; pemerhati lingkungan)

 

DUNIA pariwisata kembali mulai menggeliat seiring diberlakukannya new normal saat ini. Salah satunya ialah wisata alam baru. Bentang alam Indonesia yang luas dan beragam sangat cantik memukau untuk dinikmati paska lockdown yang membosankan di rumah.

Seiring Gubernur NTT Bpk. Viktor Laiskodat menyatakan bahwa parawisata merupakan prime mover, tren wisata alam baru semakin viral akhir-akhir ini. Misalnya saja Fatukopa dan berbagai tempat di Kab. TTS, Bukit Samapta Afliug di Desa Oh’Aem, Batu Basusun Lelogama Kab. Kupang, Bukit Hulnani, Bukit Famaisa di Desa Kelaisi Tengah Kab. Alor (yang sempat dibakar orang tidak dikenal dua minggu lalu), dan masih banyak lagi di tempat lain.

Tagar-tagar nama tempat wisata baru bertaburan di media sosial. Seiring viralnya tempat-tempat itu, viral juga protes keras para pemerhati lingkungan terkait sampah dari para wisatawan. Inti tuntutan pemerhati lingkungan yaitu kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak menyampahi lingkungan. Itu saja. Soal menikmati alam, itu adalah hak setiap penghuni alam sepanjang dilakukan sesuai dengan koridor aturan dan hukum yang berlaku.

Pada tren destinasi wisata alam baru, manusia mulai melihat alam sebagai sebuah kebanggaan ciptaan Tuhan nan agung. Namun di sisi lain ada kemunduran, dan yang paling umum yaitu sampah. Hampir selalu begitu, bahwa kemajuan apapun yang manusia buat di muka bumi ini selalu meninggalkan jejak sampah.

Ada beberapa tawaran solusi dari penulis untuk masalah sampah di kawasan wisata alam demi kelestarian lingkungan. Pertama yaitu melalui pendidikan untuk menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan alam. Dengan edukasi yang baik diharapkan ada kesadaran dan kedisiplinan untuk menjaga lingkungan. Ketika setiap pengelola wisata alam, pemerintah, wisatawan, dan berbagai stakeholder memahami konsep wisata alam dengan benar maka sekiranya dapat menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup.

Kedua, perlunya ‘mengikat’ pengunjung wisata alam dengan aturan dan manajemen yang tegas. Semisal, saat berada di pintu masuk kawasan wisata, semua barang bawaan wisatawan yang berpotensi menyisakan sampah didata agar saat pulang (check-out) dicek lagi. Apa sampah sudah dibawa pulang atau tidak. Jika tidak, maka ada denda yang dikenakan dengan memperhatikan efek jera.

Ketiga, menaikkan retribusi penanganan sampah untuk membayar pihak ketiga menangani sampah. Dengan demikian wisatawan tahu bahwa sampah yang dibuangnya sangat mahal untuk ditebus dampak (bahaya) dan pemulihannya.

Empat, setiap pengelolaan wisata alam perlu ada kajian AMDAL dan melibatkan LSM pemerhati lingkungan semisal WALHI. Pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 05 Tahun 2015 tentang Jenis Rencana Usaha Dan/ Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup cukup jelas mewanti-wanti tentang dampak lingkungan dari setiap pengelolaan kawasan hutan atau lingkungan hidup.

Perlu ada standarisasi pengelolaan lingkungan yang mesti sangat diperhatikan dan ditaati. Setiap pelanggarannya mesti dikenakan sanksi atau berdampak hukum yang menimbulkan efek jera. Hal ini penting mengingat bahwa bumi bukanlah warisan leluhur melainkan titipan anak cucu kita. Setiap keserakahan dalam mengelola atau menikmati lingkungan hidup secara berlebihan tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan/ kelestariannya sama saja membunuh eksistensi generasi yang akan datang.

Dalam pengamatan penulis, selama ini dampak lingkungan dari pabrik dan tambang lebih ditakuti dan digugat hingga kita lalai untuk memperhatikan dampak lingkungan dari sampah orang pribadi. Kita sibuk memperhatikan hal besar, akhirnya lupa bahwa hal kecil bisa berdampak lebih buruk bagi lingkungan hidup.

Lima, tergantung cara melihat kawasan wisata alam sebagai apa. Kalau hanya melihat kawasan wisata alam sebagai lahan bisnis atau komoditas ekonomi semata memang berbahaya. Kita mesti melihat kawasan wisata alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan hanya keindahan alam yang dibisniskan.

Setiap titik ekosistem yang menjadi kawasan wisata alam saling terhubung dengan titik ekosistem lainnya. Gangguan pada satu titik dapat berdampak pada keseluruhan eksistem. Sebagaimana kata pepatah: nila setitik, rusak air sebelanga. Sampah plastik yang dibuang di pantai Amerika Serikat dapat melewati samudera pasifik dan mengotori pantai Maluku yang dijaga dengan adat sasi, misalnya.

Enam, pengelola dan wisatawan mesti mulai membiasakan gaya hidup sayang lingkungan, salah satunya ialah dengan gaya hidup tanpa kantong plastik atau meminimalisir penggunaan kantong plastik. Barang belanjaan yang dapat ditenteng tidak perlu menggunakan kantong plastik. Dengan rela berlelah menenteng barang belanjaan paling tidak telah berkontribusi mengurangi laju penggunaan kantong plastik di bumi.

Jika kita coba kalkulasikan bahwa setiap kali seseorang berbelanja satu jenis barang lalu diisi dalam kantong plastik, lalu plastiknya dibuang. Sehari kalau ada 10 plastik yang dibuang, dikali setahun (365 hari), maka ada 3.650 kantong plastik yang dibuang oleh satu orang setiap tahun. Jumlah itu belum dikali jumlah penghuni bumi yang terus bertambah. Dalam 50 tahun mendatang apa jadinya bumi ini? Ini baru sampah plastik, belum jenis sampah berbahaya lainnya.

Jika kita tetap memelihara kebiasaan menggunakan kantong plastik berlebihan, maka dapat diprediksi anak cucu kita nanti akan tinggal di atas sampah plastik. Plastik yang hancur perlahan akan berubah menjadi mikroplastik namun tidak terurai. Keberadaan mikroplastik ibarat bom waktu yang suatu saat akan menjadi masalah besar bagi bumi. Seperti yang dilansir dari situs nasionalgeographic.grid.id menyebutkan sebuah studi dari King’s College pada 2017: seiring berjalannya waktu, efek komulatif dari menelan plastik bisa menjadi racun bagi tubuh.

Oleh karena itu, penulis mengajak kita semua agar mengurangi laju akumulasi sampah plastik di lingkungan hidup kita. Biasakan diri membawa botol minum dan tempat makan sendiri jika keluar rumah agar tidak membeli minuman atau makanan kemasan sekali pakai. Jika berbelanja ke pasar atau supermarket, bawalah keranjang belanja. Memang sebagian toko atau supermarket telah mengenakan biaya penggunaan kantong plastik, tapi sayang, harganya sangat-sangat murah sehingga tidak berdampak sama sekali bagi untuk membangkitkan inisiatif mengurangi penggunaan kantong plastik.

Ayo, sayangi lingkungan hidup kita dengan mengurangi sampah plastik dan menangani sampah secara benar! Semoga kelak anak-cucu kita dapat berterimakasih kepada pendahulunya karena telah mewariskan lingkungan hidup yang sehat dan lestari. Dengan demikian kegiatan wisata alam dan parawisata berkelanjutan dapat juga dinikmati dan diteruskan oleh anak cucu kita. Semoga.