TTU Stunting di atas 50 Persen

berbagi di:
Raymundus Fernandes

Raymundus Fernandes, Bupati TTU.

 

 

 

Gusty Amsikan

Stunting di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur turun cukup signifikan, yakni dari 51 persen menjadi 28 persen setelah diintervensi melalui berbagai program penanggulangan. Meskipun demikian, masih ada 20 desa di wilayah itu yang angka stuntingnya di atas 50 persen.

Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes, Minggu (15/11) mengarakan hingga Agustus 2020, stunting di TTU berada di angka 28 persen. Itu artinya, upaya yang dilakukan oleh pemerintah bersama semua komponen dalam mengatasi stunting sudah membuahkan hasil positif.

Menurutnya, stunting di TTU turun dari 51 persen ke 44 persen, kemudian turun lagi mencapai 28 persen saat ini. “Ada 20 desa yang masih di atas 50 persen. Ini yang mempengaruhi angka stunting di TTU,” jelas Bupati Fernandes.

Pemkab TTU, kata dia, sudah melakukan intervensi untuk menekan angka stunting di 20 desa dimaksud. Intervensi dilakukan desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi serta seumlah lembaga yang langsung ke 20 desa dimaksud.

Selain itu, Pemkab TTU akan mengutus para ASN yang berasal dari 20 desa dimaksud untuk membantu mangatasi persoalan stunting di kampung halamannya.

“Penanganan masih sedang dilakukan oleh puskesmas. Kami akan koordinasikan untuk utus ASN ke desanya untuk membantu penanganan stunting,” jelasnya.

 

TTS Klaim Turun Drastis
Sementara Bupati TTS Egusem Piether Tahun alias Epy Tahun menyebutkan angka stunting di TTS menurun drastis sesuai dengan hasil pengumuman dari pusat. Di tingkat nasional, angka stunting di TTS sebelumnya mencapai 14.000 lebih namun berkurang drastis. Stunting itu ada yang kekurangan gizi, pendek dan otak tidak bermain, ada yang pendek karena faktor keturunan.

“Data yang dirilis Balitbangda itu benar, tetapi tetapi stunting kategori mana karena ada stunting karena kekurangan gizi, pendek tapi otak bermain, pendek dan otak tidak bermain, pendek karena faktor keturunan,” kata Bupati TTS Egusem Piether Tahun.

Menurutnya, ada berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mengintervensi kasus tersebut, termasuk dengan pengalokasian dana dari Dana Desa untuk penanganan stunting, sehingga angka stunting di TTS mengalami penurunan drastis.

Terkait data yang dikeluarkan Balitbangda menyebutkan bahwa angka stunting di TTS masih tinggi, Bupati Epy mengatakan data itu tidak salah, itu benar tetapi stunting yang kategori mana karena di TTS menurun drastis.

“Data Balitbangda itu tidak salah tetapi yang mana dulu, karena stunting ini ada yang karena faktor gizi, pendek tanpa otak bermain, pendek tapi otak bermain, sehingga data itu harus jelas yang masih tinggi itu yang mana,”Katanya.

Kepala Bappelitbangda Provinsi NTT, Kosmas D Lana saat diwawancarai VN diruang kerjanya menegaskan data dua tahun lalu angka stunting di provinsi NTT sebanyak 41 persen, kemudian hasil evaluasi kinerja yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi NTT terhadap kabupaten/kota Se-NTT saat ini angka stunting hanya mencapai 24,0 persen. “Bayangkan saja penurunan hampir separuh, itu luar biasa sekali,” ujarnya.

Ia berterima kasih kepada semua pemangku kepentingan baik itu di tingkat provinsi maupun labupaten/kota se-NTT yang sudah memberikan perhatian terhadap penanganan stunting. Ia bahkan yakin awal tahun 2021 ini, penanganan stunting sudah dapat terintegrasi untuk dikendalikan ke Pokja di bawah pimpinan Sarah Leri Mboeik. (gus/mg-12/S-1)