Tujuan Transformasi Mendorong Lokomotif Ekonomi

berbagi di:
foto-hal-04-penulis-opini-dua-221120

 

OLEH Jimmy Wijaya
(Head of BBM 1 Harga Project, PT Pertamina (Persero))

 

 

TRANSFORMASI Pertamina tidak melulu berbicara mengenai peningkatan laba, efisiensi dan pengurangan ‘kebocoran’. Di lain sisi, transformasi perusahaan pelat merah ini juga berfokus pada upaya menciptakan values baru terhadap kebutuhan energi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk di pelosok dan tanpa terkecuali.

Sebagai perusahan milik negara, transformasi melahirkan mindset baru yang jauh lebih peka dan adaptif. Terlebih di era disruptif seperti sekarang. Proses bisnis perusahaan tidak hanya mengandalkan pada revenue saja. Lebih dari itu, sebagian korporasi yang terus berkembang, bertransformasi menjadi perusahaan yang mampu berinovasi serta memberikan solusi. Contohnya perusahaan rintisan (start-up), ketika orientasinya pada inovasi dan solusi terbukti mampu menumbangkan pemain lama yang tidak melakukan perubahan dan mempertahankan pola lama. Perusahaan yang memiliki kepekaan dan mampu menghadirkan solusi, kelak akan menjadi perusahaan yang visioner. Itulah yang menjadi sebab mengapa perusahan harus bertransformasi.

Terkait dengan solusi, Pemerintah melalui Kementerian ESDM bersama BPH Migas dan Pertamina berkolaborasi, mengurai persoalan energi yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi permasalahan besar di negeri ini. Persoalan yang sangat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan ekonomi suatu wilayah tertentu.

Melalui program BBM Satu Harga yang hadir sebagai solusi, secara bertahap mulai memetakan setiap permasalahan energi yang dialami masyarakat yang berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Perlahan, lembaga penyalur baru (SPBU Pertamina) dirampungkan di berbagai penjuru negeri. Tentunya hal tersebut akan berkontribusi pada kesejahteraan rakyat sekaligus menjadi lokomotif ekonomi.

Efek dari program BBM Satu Harga bagi masyarakat 3T berakibat pada terpangkasnya biaya-biaya yang selama ini menjadi beban masyarakat. Seolah, program ini membebaskan belenggu lama serta memberi kemudahan yang sudah lama dinantikan. Sebelum program pro rakyat ini bergulir, harga beli BBM membengkak di masyarakat, yang disebabkan belum adanya lembaga penyalur resmi di lokasi 3T, sementara demand masyarakat ada dan diambil melalui pengecer BBM yang men-supply dengan harga yang tinggi.

Mengapa menjadi BBM Satu Harga menjadi lokomotif ekonomi? Harga BBM murah dan mudah diakses berpengaruh pada konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi akan mengalami pertumbuhan. Di Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) misalnya. Sudah puluhan tahun lamanya, kecamatan ini jauh dari akses suplai BBM. Karena sulitnya memperoleh BBM dan tingginya harga jual, masyarakat setempat merasa kampung halaman nenek moyangnya sebagai desa tertinggal.

Sulitnya memperoleh BBM di wilayah tersebut jelas merupakan sebuah ironi. Betapa tidak, Muba adalah salah satu daerah penghasil minyak di Indonesia, justru mengalami kendala dalam menikmati BBM, karena tidak adanya lembaga penyalur. Untuk memperoleh BBM, masyarakat Babat Toman harus menuju Sekayu, ibu kota Kabupaten Muba. Karena, hanya di daerah tersebut yang SPBU paling dekat. Jarak tempuhnya lumayan jauh, berkisar 38 kilometer. Informasi yang beredar menyebutkan, selain sulitnya mengakses BBM dan melambungnya harga jual, masyarakat setempat juga meragukan kualitas minyak yang diperoleh.

Mereka mengkhawatirkan BBM yang dijual di tingkat pengecer merupakan minyak olahan atau hasil penyulingan ilegal, bukan olahan Pertamina. Ketidakpastian terhadap kualitas BBM membuat masyarakat Babat Toman hanya bisa pasrah karena tidak adanya alternatif pilihan lain.

Kebutuhan akan suplai BBM dan berkualitas baik sangat dibutuhkan masyarakat Babat Toman yang didominasi para petani kelapa sawit, karet, dan nelayan. Karena tidak adanya pilihan lain, terpaksa semua warga setempat membeli BBM yang dijual secara eceran dengan harga tinggi. Karena tidak sesuai dengan spesifikasi standar, membuat kendaraan milik masyarakat banyak yang rusak disebabkan kualitas BBM yang buruk.

Pengalaman pahit itu berakhir sudah. Program BBM Satu Harga seakan menjadi ‘obat mujarab’ di tengah kesulitan yang mendera masyarakat Babat Toman di Muba. Setelah sekian lama, di kecamatan tersebut tepatnya di Desa Sungai Angit, jalan Sekayu Lubuk Linggau, Kelurahan Babat, Kecamatan Babat Toman hadir SPBU guna mendukung kebutuhan energi BBM masyarakat.

SPBU disuplai melalui Integrated Terminal Kertapati di Palembang. Jaraknya kurang lebih 175 kilometer menggunakan moda pengangkutan darat. Infrastruktur SPBU diperkuat dengan 5 dispenser dengan kuota premium dan solar masing-masing 60 kiloliter. Dengan kemudahan memperoleh BBM, premium dan solar dapat ditebus murah yaitu Rp5.150 untuk harga solar dan Rp6.450 untuk harga premium. Tak lagi ada kekhawatiran seputar kualitas. BBM yang dijual SPBU telah melalui uji kualitas sebelum didistribusikan.

Harga beli BBM resmi dan terjangkau tentu memberikan dampak positif karena sangat berpengaruh khususnya pada pertumbuhan ekonomi. Ibarat efek domino, harga kebutuhan pokok yang selama ini melambung tinggi karena di dorong mahalnya harga BBM berangsur surut. Selain karena mudahnya suplai BBM, daya beli masyarakat juga berangsur naik. Ini dipicu tumbuhnya kepercayaan terhadap kualitas bahan bakar yang terjamin.

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) termasuk kelompok yang menuai hasil positif dari program BBM Satu Harga. Pelaku usaha tidak harus melakukan efisiensi secara ketat guna menekan biaya produksi, terlebih lagi bila produknya merupakan produk unggulan produksi UMKM Babat Toman, dimana salah satu komponennya adalah permasalahan BBM. Produksi bisa di distribusikan keluar kota hingga skala provinsi dengan output harga yang kompetitif.

Transformasi Customer Focus
Pertamina sebagai powerhouse yang dimiliki bangsa ini memang selalu bermuara pada arah perubahan yang lebih baik. Jika lebih dikerucutkan lagi, masyarakat yang berada di pedalaman, pelosok, pulau termasuk customer yang juga perlu mendapat perhatian lebih. Secara kodrat, masyarakat 3T juga memiliki kebutuhan dasar termasuk energi yang sama seperti masyarakat di perkotaan.

Menurut Foster dan Kaplan (1992), jika salah satu penyebab kemunduran atau kematian powerhouse adalah ketidakmampuan dalam beradaptasi dengan terhadap kebutuhan konsumen. Mengapa? Karena korporasi membutuhkan ‘energi’ dan sumber daya yang tidak sedikit, yang seluruhnya berasal dari konsumen. (Mutasi DNA Powerhouse, Rhenald Kasali)

Maka tidak salah jika program BBM Satu Harga menjadi tools guna menunjang proses transformasi yang lebih customer focus. Konsumen mungkin selama ini tidak mendapat perhatian khusus. Inilah saatnya melakukan revolusi dengan berorientasi pada konsumen. Mengawal perbaikan ekonomi masyarakat 3T dengan mindset baru. Mindset yang berupaya menciptakan masa depan yang lebih baik dan tidak lagi terperangkap dengan masa lalu. Mindset yang selalu tumbuh dalam kebersamaan. Pertamina Together We Create value & Together We Are Stronger.

Pendapat pribadi

(Artikel ini sudah tayang di mediaindonesia.com edisi Sabtu 21 November 2020)