UNICEF Dukung Poltekkes Kemenkes Kupang Kolaborasi atasi DBD di NTT

berbagi di:
img-20200922-wa0022

 

Putra B Mula

 
UNICEF memberikan dukungan kepada Poltekkes Kemenkes Kupang terkait kolaborasi dan koordinasi peran multisektor dalam pengendalian DBD di masa pandemi Covid-19 melalui webinar.

Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kupang, Karolus Ngambut, menyampaikan informasi tersebut kepada VN, Selasa (22/9). Ia menyebut hal ini sebagai langkah preventif dengan berkolaborasi antar lintas sektor dalam pencegahan DBD di masa pandemi Covid-19.

Webinar series sesi pertama yang dimulai Senin (21/9) dibuka oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, Yudhistira Yewangoe selaku UNICEF Perwakilan NTT NTB, dan oleh Direktris Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. R.H. Kristina.

Sementara sebagai pembicara yang ada yaitu Dr. drg, Dominikus Minggu selaku Dosen Fakultas Kedokteran Undana, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, Direktur P2PTVZ Kemenkes RI yaitu Dr. drh. Didik Budijanto, dan Bupati Kabupaten Sikka Roberto Diogo.

“UNICEF mendukung Poltekkes Kemenkes Kupang mengadakan seminar untuk kolaborasi multi sektor melakukan pengendalian DBD di masa pandemi Covid-19,” kata Karolus.

Sementara Direktris Poltekkes Kemenkes Kupang Dr. R. H. Kristina pada kesempatan terpisah menyampaikan apresiasi atas atensi semua pihak atas koordinasi tersebut.

Kegiatan tersebut, kata dia juga terselenggara berkat kerja tim lintas sektor baik itu Poltekkes Kemenkes Kupang, UNICEF, Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Fakultas Kedokteran Undana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

“Antusias peserta luar biasa, kurang lebih sebanyak 900-an orang yang telah terdaftar,” kata dia.

Sementara Yudistira selaku Kepala Kantor Perwakilan Unicef NTT NTB menyebut UNICEF sangat ingin fokus terhadap DBD jangan sampai lengah karena Covid-19.

Ia menyebut semua pihak fokus terhadap pandemi saat ini sementara tingkat kematian anak karena DBD naik dan perlu mendapat perhatian. Tidak hanya DBD, menurut dia, tetapi juga polio dan malaria ikut mengalami hal serupa padahal sebelumnya dapat dikendalikan.

“Karena perhatian dan sumberdaya kita tersedot untuk penangan Covid-19,” ungkapnya.

Ia menyebut Kementrian Kesehatan RI juga telah menyampaikan lonjakan drastis kasus DBD pada Juni 2020. Kasus yang terjadi mencapai 700 ribu kasus di berbagai wilayah di Indonesia dengan jumlah kematian mencapai 500 jiwa.

“Ini sangat terasa di NTT khususnya sebelum Covid-19 mendominasi pemberitaan media, yang menjadi perhatian kita sebelumnya adalah DBD dengan banyaknya korban,” kata dia.

Ia menegaskan perlu digalakkan kembali gerakkan 3M untuk menghalau terjadinya penyakit DBD yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur berbagai barang yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk.

“Kami UNICEF berharap webinar secara series yang dilakukan mulai saat ini dan minggu-minggu mendatang dapat menemukan strategi yang tepat terutama untuk anak-anak dan kelompok yang rentan terdampak di NTT yang saat ini menghadapi pandemi agar terhindar dari DBD,” kata dia.

Ia menyampaikan proficiat kepada Poltekkes Kemenkes Kupang, Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dan seluruh mitra yang terlibat untuk membahas pengendalian dan pencegahan DBD pada masa pandemi Covid-19.

Sementara Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, pada pembukaan webinar tersebut menegaskan tiga hal penting kepada semua pihak dalam webinar itu yaitu kebersihan lingkungan, sosialisasi penanganan dini DBD dan pembagian abate sebelum musim hujan.

“Kita secara aktif kelola penanganan penyakit ini bukan saja mengenai kesehatan secara medis melainkan pembenahan dari lingkungan kita. Tidak boleh ada sampah lagi. Kita turun ke lapangan, benahi sampai tingkat RT dan RW. Apalagi memasuki musim hujan yang mana biasanya ada peningkatan kasus demam berdarah,” jelas Viktor. (Yan/ol)